Dear,
Hari ini adalah seratus hari berakhirnya hubunganku dengan dia yang disana. Mungkin kalian menganggapku bodoh ataupun tolol karena aku menghitung jumlah hari berakhirnya hubunganku tetapi bagiku ini semua adalah hal yang perlu diperhitungkan. Seratus hari ini aku menjalani hidup sendiri tanpa didampingi dia dan rasanya itu sepi, sunyi serta sakit. Hari demi hari aku lewati sendiri tanpa dia bersamaku.
Hari ini adalah seratus hari berakhirnya hubunganku dengan dia yang disana. Mungkin kalian menganggapku bodoh ataupun tolol karena aku menghitung jumlah hari berakhirnya hubunganku tetapi bagiku ini semua adalah hal yang perlu diperhitungkan. Seratus hari ini aku menjalani hidup sendiri tanpa didampingi dia dan rasanya itu sepi, sunyi serta sakit. Hari demi hari aku lewati sendiri tanpa dia bersamaku.
Seratus hari, mungkin bagi kalian
seratus hari adalah waktu yang cukup singkat tetapi bagiku berbeda. Bagiku
seratus hari ini adalah waktu yang sangat lama, hari-hari terasa berjalan
perlahan menahanku dalam lembah kesedihan. Kesendirianku membuatku merasa tertekan,
hati dan jiwaku kosong. Ini semua berbeda sangat berbeda dengan hari-hari dulu,
dimana aku menjalani setiap hari dengan ceria, canda tawa bersama dia, dan
dengan semangat yang tinggi. Tapi sekarang semuanya berbeda, tak pernah aku
dapat ceria seperti dulu, tak ada canda tawa diantara kami dan aku tidak
memiliki semangat untuk menjalani hari-hariku.
Tuhan, aku sudah mengerahkan semua
kekuatanku untuk bisa melewati ini semua. Aku sudah berusaha untuk tersenyum
walau senyumku tak seindah dulu. Sekarang sudah seratus hari aku tanpanya Tuhan
tetapi mengapa aku masih tidak dapat melupakan dia, mengapa aku tidak bisa
membuang perasaan sayangku ke dia dan mengapa aku tidak bisa menghapus setiap
kenangan saat-saat bersama dia. Mengapa Tuhan? Mengapa? Aku sudah lelah
merasakan ini semua. Aku sudah lelah dengan perasaan sayangku, dengan rasa
cemburuku setiap dia dekat dengan cewek lain dan aku sudah lelah dengan semuanya. Kapan aku bisa bebas dari
perasaanku padanya? Kapan aku bisa terlepas dari rasa cemburuku? Sadarkan aku
Tuhan, sadarkan aku bahwa dia bukan milikku lagi dan dia tidak akan pernah
menjadi milikku.
Aku tidak bisa menikmati setiap
detik dengan bahagia. Ini sangat bertolak belakang sekali dengan dahulu dimana
aku selalu menikmati setiap detikku dengan senang karena dia selalu menemaniku.
Aku bahagia ketika bersama dia tapi sekarang aku tidak bahagia karena sekarang
aku tidak bisa bersama-sama dia lagi. Andai dia tahu, aku menyayanginya sampai
detik ini aku merindukannya sampai saat ini. Andai dia tahu, aku tersiksa
dengan keadaan ini. Aku mencoba tegar menutupi semua duka yang aku rasakan
dengan senyuman palsuku, dengan tawa keringku. Memasang wajah ceria meski dalam
hati duka. Sampai saat ini hatiku masih saja hampa, aku tidak tahu kenapa
seperti ini padahal sudah seratus hari kejadian itu di gilas waktu.
Oh Tuhan, andai waktu bisa di putar
kembali aku akan memperbaiki semuanya dan berusaha menjadi yang terbaik. Akan
aku pastikan aku tidak akan membuat kesalahan seperti itu lagi, aku tidak akan
melakukan kesalahan yang aku lakukan dulu. Tapi semuanya tidak akan bisa karena
waktu tidak bisa di putar lagi kemasa lalu, waktu tidak akan bisa kembali
kemasa dulu. Sebesar apapun usaha yang aku kerahkan tak kan mampu memutar
waktu.
Kini yang ada tinggal penyesalan,
penyesalan yang teramat dalam. Penyesalan yang mungkin akan aku kenang seumur
hidupku. Inilah hidup, penyesalan selalu datang dibelakang. Aku sudah mencoba
untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi tetapi penyesalan ini teramat
dalam hingga aku tidak bisa untuk tidak menyesali ini semua. Penyesalan ini
membuatku terpuruk dalam kesalahan.
Oh Tuhan, seratus hari ini sudah
banyak cerita yang aku ukir, sudah banyak kebodohan yang aku lakukan. Terkadang
aku melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan apa akibatnya nanti, apakah itu akan
membuat aku sedikit bahagia ataukah malah membut aku semakin terpuruk dalam
sayatan luka. Sering aku melakukan sesuatu dengan hanya menggunakan nafsuku
bukan akalku. Pernah juga aku menghalalkan segala cara hanya untuk sekedar
membuat hati bahagia tapi yang terjadi malah kesakitan. Aku mungkin memang
bodoh. Aku ceroboh dan egois. Sesekali waktu yang bisa ku lakukan hanyalah
merenung. Ya merenung adalah salah satu cara agar aku bisa mengintropeksi diri
ini. Dalam renunganku selalu saja ada pertikaian antara hati dan fikiranku. Dan
aku sering dibuat bingung dengan semua itu.
Tuhanku, sudah seratus hari ini aku
sendiri tanpa dia. Seratus hari ini hamba berjuang sendiri tanpa ada
penyemangat. Tuhan, aku ingin memperbaiki semua yang ada. Aku ingin menjadikan
semua ini sebagai acuan agar aku tidak salah di kemudian hari. Aku ingin
merubah yang ada sekarang. Bantu aku Tuhan. Aku yakin aku pasti bisa melewati
semua ini. Masih ada seraus hari seratus hari yang lain yang masih menantiku didepan
sana. Aku harus kuat aku harus tegar.
Aku bisa. Ya.. aku bisa. Tapi
kenapa di setiap aku bertemu dengan dia aku lemah kembali? Sungguh tidak mudah
bagiku, rasanya tak ingin bernafas lagi saat bertemu dengan dia. Sungguh sakit
hati ini melawan cinta yang ada di hati. Setiap bertemu selalu saja mataku
tidak berani untuk menatap matanya, bagaimana bisa aku menatap matanya jikalau
untuk menatap wajahnya saja aku sudah tidak berani. Tertunduk aku saat dia ada.
Entah mengapa takut menatapnya, mungkin karena aku tidak ingin membayangkan
sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Jantungku serasa ingin copot karena
sangking cepatnya berdetak. Aku tidak tau mengapa semua hal itu terjadi saat
dia ada, jauh ataupun dekat jaraknya dengan keberadaanku. Padahal dalam hati ini
ingin sekali melihat, menatap dan mengagumi wajahnya tapi apalah dayaku.
Ketauhilah aku sangat ini saling bertatap muka dengannya, aku ingin mata kita
saling memandang merasakan apa yang kita rasakan.
Sela-sela tanganku kini selalu
kosong tidak seperti dahulu ketika dia mengisikan jari-jari tangannya diantara
sela tanganku, mengenggam erat seolah tak ingin kehilangan aku. Selalu
bergandengan seolah kita tidak ingin terpisah. Aku rindu masa-masa itu masa
dimana saat dia mencubit pipiku, membelai rambutku, mengelus jari-jariku dan
memandang wajahku dengan senyuman indahnya. Sudah seratus hari itu semua tidak
bisa aku nikmati. Tidak ada lagi yang mencubit pipiku, membelai rambutku
mengelus jari-jariku dan memandang wajahku seperti dulu. Tidak ada, kalau pun
ada rasanya berbeda tidak seperti ketika dia yang melakukannya.
Sayang, aku rindu kamu. Tahukah kamu
apa sekarang yang sedang aku rasakan? Sekarang aku sedang mencoba melawan
kerinduanku terhadapmu. Apakah kamu juga merindukanku disana? Ataukah kamu
malah merindukan sesosok wanita lain? Jika iya, semakin hancurlah perasaanku
ini. Tapi tak mengapa kamu merindukanku atau tidak, aku selalu merindukanmu.
Tuhan tolong aku, kuatkan aku. Sekarang yang terbaik adalah menyadarkan diri
bahwa dia bukan milikku lagi, dengan begitu mungkin rasaku bisa sedikit
mengelupas. Semoga saja.
Hari
ini dua minggu sudah kita tidak bertemu, dua puluh hari kita tidak berhubungan
ataupun berkomunikasi teranglah jika aku teramat merindukanmu. Rindu ini
membuat aku gila. Inginku bertemu denganmu tapi mungkin kamu tidak ingin
menemuiku. Mungkin terlalu besar kesalahan yang aku lakukan padamu hingga kamu
membenci aku sampai sekarang. Apakah tidak ada secuil maaf untukku? Apakah
sudah tertutup pintu maafmu untukku? Apakah kamu tidak memberiku kesempatan
untuk merubah ini semua? Apaka, apakah dan apakah? Aku hanya bisa
bertanya-tanya dalam angan.
Hmm.. mungkin ini memang sudah
menjadi takdir hidup yang harus aku jalani untuk mendewasakan diri. Badai pasti
berlalu, ingat itu. Relakan dia, ikhlaskan dia pergi. Terimalah kenyataan yang
ada, jangan menangisi dan menyesali apa pun yang terjadi sekarang. Belajarlah
dari kesalahan yang kemaren-kemaren. Jalanmu masih panjang jangan kamu gunakan
untuk menyesali apa yang sudah terjadi, sadarlah semua sudah terjadi dan tidak
akan pernah bisa kembali seperti dahulu. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk
memikirkan semua ini, masih banyak hal-hal yang perlu difikirkan selain hal
ini. Ini hanya cobaan kecil untukmu, kamu pasti bisa melewati ini. Sabar, ikhlas
dan tawakal. Tuhan selalu ada kok buat aku.
Di seratus hari ini jika aku boleh
berharap dan meminta, aku akan meminta agar aku bisa berteman lagi dengan dia.
Meskipun hanya berteman tetapi aku sudah sangat bahagia. Aku ingin berteman
dengan dia tidak seperti sekarang saling berjauhan, seperti orang yang tidak
saling mengenal. Tuhan jadikanlah kami teman kembali, hanya sebatas teman
Tuhan. Aku rela. Jangan seperti ini terus, aku capek. Di seratus hari ini pula
aku berharap jika memang aku dan dia tidak bisa bersatu kembali Tuhan
menghapuskan rasa sayangku, rasa cemburuku, dan rasa rinduku padanya agar aku
bisa menikmati hariku dengan bahagia kembali. Amin. Terimakasih Tuhan.
Ini kisah seratus hariku, seratus
hari tanpa dia.
Semoga kamu bahagia tanpa aku disampingmu
lagi sayang, aku akan bahagia jika kamu bahagia meski itu tidak mungkin karena
aku sedih tanpamu. Semoga juga kamu menemukan yang lebih baik dari aku, amin.
Ketahuilah sayang, aku mencintaimu benar-benar mencintaimu. Jujur dalam hati
kecilku aku masih berharap menjadi kekasihmu lagi, berharap menjadi milikmu
lagi. Hmm.. tapi aku sadar itu tidak akan terjadi. Someday, jika kamu menemukan
seseorang yang lain yang lebih baik dari aku tolong jangan lupakan aku ya
sayang, ingat aku, kenanglah aku selalu. Aku Risky Devitasari yang dulu pernah
mengisi hari-harimu. Oh ya terimakasih ya karena kamu telah mengajarkan banyak
arti kehidupan buat aku. Terimakasih juga karena kamu pernah mengisi
hari-hariku. Maaf jika aku ada salah dan maaf karena aku membosankan.
Terimakasih.
Surabaya, 03 November 2012
Salam rindu,
Risky Devitasari.
