
hanya akan melewati hari tanpa ekspektasi
Sejak malam itu, aku menjalani hari hariku dengan penuh kesepian. Membiarkan langkah kaki berjalan sendiri tanpa teman menemani. Berdiam diri disudut perpustakaan dengan buku buku yang menjadi sandaran. Mengurangi jatah makan, karena memang aku tidak pernah merasa lapar semenjak setelah kita makan bebek 'Dewa' untuk terakhir kalinya lalu. Menjadikan aku sering melakukan puasa, agar rasa kenyang yang selalu mendera tak terbuang percuma. Selesai aktivitas, langsung menuju rumah, membuka pintu kamar dan menutupnya erat erat hingga pagi menyapa. Melewati malam hanya ditemani bulan bintang yang kadang mereka menghilang saat mendung tiba dan hujan pun datang.
Yaah, semua memang berbanding terbalik dengan apa yang biasanya aku lakukan. Senyum ceria yang selalu menghias wajahku, kini tak pernah nampak lagi. Bukan karena aku tak mau, namun lebih kepada hatiku masih berduka. Duka yang sangat dalam, duka yang menimbulkan luka. Luka yang masih akan terus menganga entah sampai kapan aku tak tau menau pastinya.
Pernah suatu waktu aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukkan ini. Membaur dengan makhluk normal lainnya. Bercengkramah, berceloteh bahkan bercanda bersama. Tapi kamu tau, nyatanya aku hanya berperan sebagai pendengar, lebih banyak diam dan tak bersuara. Ketika semua tertawa lebar, aku hanya mampu membuat simpul tipis diujung bibirku. Dan ujungnya tetap saja sama, aku menarik diri dari kebahagiaan yang mereka cipta.
Aku tidak tau, selama ini aku tidak pernah tau betapa pedihnya kehilangan orang yang kita cinta sampai pada akhirnya masa itu tiba. Kehilangan kamu adalah mimpi buruk yang tidak pernah aku inginkan kehadirannya. Kehilangan kamu adalah sesuatu yang tidak pernah aku aminkan dalam setiap sujud lima waktuku. Tidak pernah..
Kini aku hanya akan melewati hari tanpa ekspektasi, dalam arti aku akan membiarkan semua mengalir begitu saja. Seperti batang kayu yang hanyut dalam aliran sungai. Seperti itu, aku akan mengikuti arusnya tanpa harus melawan..
