Thursday, 31 December 2015

2015





Selamat tinggal 2015 - Ku


            Hari ini adalah hari terakhir ditahun 2015, banyak sudah yang telah aku jalani ditahun ini. Canda, tawa, kesedihan, tangisan, kegilaan, dan berbagai macam emosi telah tercipta didalamnya. Tahun ini, tahun yang sangat penuh makna, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang sudah terlewatkan. 2015, awal munculnya sikap dewasa yang benar-benar dewasa. 2015, awal terlepasnya aku dari dia yang tak boleh disebut namanya. 2015, menjadi saksi tentang perjuangan yang sangat melelahkan hingga akhirnya melepaskan. 2015, berawal duka namun kuyakini akan berakhir bahagia.


            2015, sebuah tahun yang membuatku mampu menjadi sosok tangguh meski awalnya rapuh. Kamu mungkin akan pergi, namun ceritaku akan selalu terkenang ditahunmu. Selamat tinggal 2015. . .

Sendu, senja yang tersedu





   "Saat senja dan air matamu menetes luruh, itulah senja yang tersedu."


Kepada pagi yang baru saja membuka matanya, aku berucap agar dia cepat beralih. Bukan mengusir atau menyuruhnya pergi. Tetapi, karena aku tidak sabar lagi bertemu dengan temannya, Senja. Karena aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk bercengkramah dengan Senja, mengaduh tentang luka-luka yang aku terima kemarin lalu, menceritakan tentang kepedihan yang memenuhi hatiku, dan berbicara tentang sakit yang menyesakkan dada membuatku sulit bernafas dengan benar.

Yah, pagipun mengabulkan permintaanku. Dia pergi, menyingsingkan matahari. Membiarkannya tenggelam diufuk barat hingga senja pun datang. Aku bahagia, tak ku sia-siakan waktu. Segera aku keluar menemuinya yang sedang memaparkan warna jingga dilangit luas. Ku dudukkan tubuhku ditepian, lalu menatapnya perlahan sembari menikmati salah satu keagungan Tuhan. Aku menghela nafas panjang sebelum memulai membuka bibirku. Namun, sebelum satu kata terucap ada yang mengalir hebat dipipiku. Setetes yang datang bergerombol, berbentuk air, berasa asin yang kusebut air mata luka. Ku batalkan ucapanku, membiarkan air terjun ini mengalir luruh. Hingga ketika aku siap bercerita, maka akan kutumpahkan semua keluh kesah ini pada Senja.

Waktu berselang hingga aku bisa mengontrol keadaan. Kuhentikan air mata penuh luka ini, membendungnya dengan senyuman yang nampak terpaksa. Hmm... Kepada senja aku bercerita, satu kata, dua patah kata aku dapat menahan air mata. Namun, selanjutnya kubiarkan dia menetes seraya aku bercerita. Aku manangis tersedu. Kata-kata keluar menggebuh dari bibirku tapi sesekali aku berhenti, mengistirahatkan nafas lalu menyambungnya lagi. Senja tetap mendengarkan ceritaku, tanpa mengeluh hingga sampai pada akhir cerita sekalipun. Pada akhir cerita yang sebenarnya belum benar-benar menjadi sebuah akhir dalam perjalananku. Tapi aku harus mengakhirinya dikarenakan senja harus pulang berganti dengan petang. 

Namun tak apalah, dapat berbincang dengan senja walaupun sebentar sudah dapat memudarkan goresan luka dalam dada. Senja, kau menenangkan...