Tuesday, 23 February 2016

#7 Revolusi

       

Lari dan jadilah lebih baik lagi


        Sekarang, entah mengapa rasanya aku menjadi lebih kuat dari hari biasanya. Dimulai dari beberapa hari ini aku selalu tersenyum setiap bangun pagi. Lalu, tak tau darimana datangnya semangat yang tiba tiba  saja menyembul dalam jiwa. Mulai menyukai sarapan lagi, pergi ke kampus dengan segera dan yang lebih bersyukurnya sekarang aku mulai bisa masuk ke dalam teman temanku lagi. Bercengkramah, bercanda, tertawa penuh hingga perut terasa ngilu. Aku bersyukur pada setiap perubahan yang terjadi padaku. Membuat tak ragu untuk melangkah ke depan meninggalkan kenangan masa lalu yang disana tentu ada kamu. Meski aku tak bermaksud menguburmu dalam kenangan masa lalu tapi semoga ini yang terbaik untuk kita, aku dan kamu.

          Para sahabat juga tidak percaya, mereka bertanya tanya tentang perubahan yang terjadi padaku. Namun beruntungnya aku, mereka tidak terlalu mempermasalahkan revolusiku ini. Aku mulai banyak menghabiskan waktu bersama mereka, dari kekantin yang selalu beramai ramai membeli semangkuk mie ayam ato roti agar perut terisi, menghabiskan waktu diperpustakaan untuk melengkapi tugas berbarengan, hingga pernah suatu waktu kita sempat tidak mengikuti satu mata kuliah karena waktu diperpustakaan kita kami ketiduran. Sungguh, itu adalah kali pertamaku melewatkan pengajaran. 

           Sampai dirumah, aku juga tidak seperti dulu yang mengurung diri dikamar selalu dan menghabiskan waktu dengan menangis tersedu karena memikirkanmu. Aku mulai menghabiskan waktu, membunuh rindu dengan melanjutkan hobi yang sempat terhenti dulu, membaca novel baru yang kubeli kemarin hari ditoko buku dekat kampus. Mulai menggambar lagi, membuat sketsa 'tipis tipis' lalu mulai menulis cerpen atau sepenggal puisi. Yaah, dengan itu aku membunuh perasaan peluhku. Menghabisi setiap rinduku padamu. Bahkan membuatku lupa akan sosokmu, meski hanya sekejap saja.

            Bahagia.. Aku bahagia.
            Dan aku berharap akan terus seperti ini, bahkan lebih baik lagi. Semoga. . .

Thursday, 4 February 2016

#6 Satu (bulan)

          

 Kita saling merindu meski sudah tak bisa lagi bersatu.


          Hari ini sudah 30 hari berlalu, aku tanpa kamu. Tepat genap satu bulan, kita tak saling pandang. Mungkin bagi segelintir orang melewati satu bulan itu sangat cepat, singkat, sangat mudah dan tak terasa. Namun aku berbeda, satu bulan ini seperti satu tahun. Lambat, pelan dan tak terarah. Aku melewati hari hari sendiri. Bukan sendiri, lebih tepatnya menyendiri. Membiarkan sunyi sepi menggerogoti hingga ke dalam hati. Merongrong semua isi lalu membiarkanku mati.

              Perkara meninggalkan memang mudah, yang susah adalah saat masih dan akan selalu ada banyak rasa tapi Benteng memaksa kita harus berpisah. Kamu tau kan yang ku maksud dengan benteng? Jika tidak maka akan ku lantunkan satu bait yang mewakilkan kita sekarang. Lihat dan bacalah, tidak udah kamu resapi toh aku tak menuntut kamu memahami.


 di dalam hati ini hanya satu nama
yang ada di tulus hati ku ingini
kesetiaan yang indah takkan tertandingi
hanyalah dirimu satu peri cintaku

benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
huuuuuu

aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi


Lihat dan bacalah, sudah? Setelah membaca bait bait itu, apakah kamu sudah mengerti yang aku sebut dengan Benteng. Sesuatu yang membuat kita harus saling acuh tiga puluh hari yang lalu? Sungguh aku masih terbayang dengan kejadian malam itu. Masih sangat lekat di ingatan. Membawaku pergi berimajinasi, membuat anganku berlarian dan parahnya sekarang aku masih merindumu. Bahkan lebih dari hari hari lalu, rindu ini menusuk kalbu membiarkan aku kedingan menggigil tak tertahan. Apa kamu juga merasakan apa apa yang akuu rasa? Kuharap iya, hatiku berkata iya. Kamu merinduku juga. Kita saling merindu meski sudah tak bisa lagi bersatu.