Friday, 11 August 2017

Alam Tidak Seperti Dia

Seperti kemarin, langit masih dengan warna jingganya. Matahari mulai berangsur menghilang tanpa jejak namun tetap sama..  Iya, dia tetap meninggalkan luka seperti luka kemarin. Dan saat itu pula aku masih terjaga dalam duduk ku. Mengayunkan kedua kakiku secara beriringan kedepan dan belakang. Sembari menyaksikan keindahan alam yang teramat luar biasa.

Yaah, kunamai ini senja duka. Kamu pasti bertanya mengapa aku memberi nama seperti itu. Bukan tanpa alasan aku menamaimya seperti itu. Ini karena..  Senja..  Waktu dimana duka ku bermula, senja adalah ketika tangisku pecah hingga sampai detik ini.  Senja adalah ketika aku harus menyaksikan seseorang yang aku sayang pergi dan lebih memilih wanita lain. Dan kamu tau siapa wanita itu? Hmm, aku tidak kuasa untuk Menyebut namanya. Tapi aku akan memberitahumu.. Wanita itu adalah mantan kekasihnya dulu. Iya, dulu sebelum aku. Dulu, sebelum aku dan dia bertemu. Dulu, setahun yang lalu.

Hmm, memang susah untuk dimengerti. Aku sendiri juga tidak tau pasti salah siapa ini.  Salahku, yang terlalu cepat jatuh dalam dekapnya. Salahku yang terlalu menyamankan setiap waktuku bersamanya. Atau mungkin, ini adalah kesalahannya. Salahnya yang membuatku nyaman. Kesalahannya karena telah membuatku menumbuhkan buih buih perasaan yang kusebut cinta.
Aarrgh sudahlah, aku tidak tau pastinya.

Sekarang, biarkan saja mereka berdua bersama.  Bahagia berdua diatas lukaku. Tertawa lebar diatas tangisku yang nanar. Biarkan, biarkan saja toh alam tak akan diam saja. Alam akan mengeluarkan hukumnya, cepat atau lambat dan yang terpenting adalah itu mutlak. Alam tak pernah berdusta tidak seperti dia. 

Thursday, 10 August 2017

Kita Ya Kita Saja

Mulai detik ini mungkin saya tidak akan percaya lagi dengan yang namanya cinta, bukan perkara apa, namun berkali kali dibuat kecewa, lagi lagi dibuat terluka membuat saya jengah.

Perkara mencinta , seharusnya bahagia bukan malah air mata. 
Perkara mencinta saya memang tak bisa biasa saja. 
Perkara cinta saya tak pernah setengah setengah namun tetap saja dijadikan nomor dua. 
Perkara cinta saya berusaha selalu setia namun tetap saja tak pernah menjadi yang pertama.

Diduakan, dikecewakan, dan pengkhianatan sudah sering saya terima.
Ditinggal pada saat sayang sayangnya.. aah rasanya sudah tak terhitung lagi berapa banyak air mata saya yang jatuh membuat basah. 

Perihal cinta, seharusnya hanya ada saya dan kamu saja bukan? tidak ada lagi dia atau dirinya.
Perihal cinta bukankah hanya antara saya dan kamu, tak ada lagi kisah masa lalu, hanya ada kita dan masa depan bukan mantan.
Perihal cinta, saya tidak  bisa memberi toleransi dengan apa yang bernama mantan.

Bukan apa apa, karena bagi saya.. sudah ya sudah, yang lalu biar beralu, maka jika akamu membuat satu pergerakan apapun dengan mantan maka jangan salahkan saya jika saya membuat keputusan yang nantinya akan membuat kita berada di beda jalan. Memang untuk sebagaian orang mantan adalah sebuah makhluk yang.. yasudahlah.. hanya mantan bukan, kenapa dipermasalahkan. tapi tidak dengan saya.

KARENA apa? saya pernah dikecewakan dengan kata "mantannya mantan saya" dan sekarang saya berusaha untuk lebih berhati hati menjaga hati. jika memang masih mencintai mantan makan maafkan jika kamu harus saya tinggalkan.

Kita ya kita saja, jangan ada dia atau dirinya.

Monday, 7 August 2017

Tidak Selalu Sama

Bukankah setiap orang memiliki sikap dan sifat yang berbeda? lalu mengapa kamu mempermasalahkannya. mempermasalahkan setiap sifat yang tidak sejalan dengan sifatmu. mempermasalahan sikap yang tak sama dengan sikapmu. selalu saja mempermasalahkan yang itu itu..

Bukankah setiap manusia sudah dikaruniai sikap dan sifat sendiri sendiri, lalu mengapa tetap seperti ini. Membenci siapapun yang tidak sesuai dengan dirimu. Menghardik siapapun yang tidak sealur dengan mu.

Ketahuilah setiap manusia punya sisi yang berbeda beda, tidak melulu semua harus sama dengan yang kamu mau. tidak semuanya harus sesuai dengan sikapmu, tidak semua seperti sifatmu dan tidak semua harus seperti yang kamu ingini.

Maka cobalah untuk berbesar hati, menghargai setiap jati diri orang lain tanpa perlu menjadikannya sebuah Masalah.

Monday, 18 July 2016

Pantai



Setiap sore saat senja tiba, dia berjalan menyusuri tepian pantai. Melangkahkan kaki tanpa memakai alas kaki. Berjalan kesana kemari hingga pada saatnya senja benar benar nampak sempurna dengan warna oren menyala dia memberhentikan langkah. Berhenti tepat ditengah tengah tepian pantai. Mendudukkan tubuhnya diatas pasir basah karena ulah ombak yang gagah. Lalu melipat kedua kaki didepan dan dirangkulkannya kedua tangan dengan wajah yang tetap mengarah lurus ke laut lepas. Seakan tak mau melewatkan sesuatu.

Hembusan angin menyapu wajah, rambut panjang tergurainya pun menari nari indah bak penari salsa yang sedang berdansa. Sesekali karena angin pantai yang berhembus merdu membuat beberapa helai mahkotanya menyeka wajah ayu itu, namun tetap saja dia tidak bergeming. Yaah, dia masih terpaku pada laut lepas dengan tidak menghiraukan apa saja yang terjadi. Deburan ombak yang keras pun tidak mampu merebut perhatiannya. Bahkan saat tubuhnya basah oleh ombak ombak pantai, dia tetap saja duduk dengan santai tanpa menghindar. Dia tetap diam, tetap mengarah ke depan menikmati pertunjukan alam yang begitu indah bernama Senja. Hingga sampai senja berpulang, maka dia pun pulang.

Saturday, 16 July 2016

Thursday, 14 July 2016

Mati



Rasanya ingin mati saja, atas semua yang terjadi sampai detik ini rasanya ingin mati saja. Atas segala luka dalam hati, duka yang selalu menghampiri diri dan kekecewaan tanpa henti aku menghaturkan lekaslah datang pada kematian. Untuk segala hal yang telah aku terima, segenap kesakitan pun pesakitan yang mendera, ribuan tetesan air mata yang mengalir dengan derasnya. Aku mengucapkan bergegaslah pada kematian. Dan selalu terucap dalam doa agar semoga disegerakan.

Kematian, salah satu cara agar terlepas dari segala belenggu duniawi yang semakin hari semakin menjadi. Kematian menjadi suatu wadah untuk keluar dari jerat kehidupan ini. Kematian…

Semua tau, cepat atau lambat kematian akan datang dan itu pasti. Tapi mengapa harus menunggu hingga dimatikan agar mati jika mematikan sendiri jauh lebih pasti. Tak perlu menunggu nanti, esok atau bahkan lusa lusa. Dengan mematikan, detik itu pula kita didapati mati.

 Kematian.. Dimatikan.. Mematikan.. Mati..

Monday, 27 June 2016

Seperti itu kamu

Dia selalu menyiapkan makanan lagi sebelum makanan yang berada didalam mulutnya habis. Memesan menu banyak banyak, lalu menghidangkannya tepat didepan meja. Dan setelah makanan dalam kunyahan habis, dia akan segera memasukkan lagi makanan yang berada didepannya. Bahkan sebelum kunyahannya selesai tertelan, tangannya sudah mengambil beberapa makanan pilihan untuk segera dijejalkan dalam kerongkongan. Begitu seterusnya, begitu hingga waktu yang tidak tentu. Pun bila perutnya sudah kenyang dia akan tetap melakukan kegiatan seperti itu. Sungguh tidak habis fikir, bagaimanan mungkin bisa melakukan hal sedemikian rupa.

Seperti orang itu, seperti kamu pula. Selalu menyiapkan target baru, hati baru, dan wanita baru untuk menjadi cadangan ketika akan melepaskan wanita lamamu. Kamu, akan mencari dan memilah beribu ribu wanita lain yang berada didekatmu untuk dijadikan sandaran ketika akan melepas wanita lama. Bahkan kamu dapat merangkul dua, dua belas atau dua puluh wanita dalam satu waktu. Yang sungguh tidak habis fikir dibuatnya. Kamu mampu berperan ganda didepan para wanita yang sudah berlabel “korban” akan tipu daya. Selalu berlakon memelas kepada tiap tiap wanita yang kamu temui. Menyendukan mata, melembutkan ucapan sehingga lawan bicara terjerat dalam kebohongan. Oh astaga, mereka telah tertipu.


Tunggu saja, tunggu saja hingga waktunya. Perutmu menggelembung karena terlalu penuh oleh makanan makanan selama ini. Lalu akan meledak hebat. Dan kamu akan berhenti makan, semoga saja.