Wednesday, 20 January 2016

#5 Ikuti saja arusnya



hanya akan melewati hari tanpa ekspektasi

     Sejak malam itu, aku menjalani hari hariku dengan penuh kesepian. Membiarkan langkah kaki berjalan sendiri tanpa teman menemani. Berdiam diri disudut perpustakaan dengan buku buku yang menjadi sandaran. Mengurangi jatah makan, karena memang aku tidak pernah merasa lapar semenjak setelah kita makan bebek 'Dewa' untuk terakhir kalinya lalu. Menjadikan aku sering melakukan puasa, agar rasa kenyang yang selalu mendera tak terbuang percuma. Selesai aktivitas, langsung menuju rumah, membuka pintu kamar dan menutupnya erat erat hingga pagi menyapa. Melewati malam hanya ditemani bulan bintang yang kadang mereka menghilang saat mendung tiba dan hujan pun datang.

     Yaah, semua memang berbanding terbalik dengan apa yang biasanya aku lakukan. Senyum ceria yang selalu menghias wajahku, kini tak pernah nampak lagi. Bukan karena aku tak mau, namun lebih kepada hatiku masih berduka. Duka yang sangat dalam, duka yang menimbulkan luka. Luka yang masih akan terus menganga entah sampai kapan aku tak tau menau pastinya.

     Pernah suatu waktu aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukkan ini. Membaur dengan makhluk normal lainnya. Bercengkramah, berceloteh bahkan bercanda bersama. Tapi kamu tau, nyatanya aku hanya berperan sebagai pendengar, lebih banyak diam dan tak bersuara. Ketika semua tertawa lebar, aku hanya mampu membuat simpul tipis diujung bibirku. Dan ujungnya tetap saja sama, aku menarik diri dari kebahagiaan yang mereka cipta.

     Aku tidak tau, selama ini aku tidak pernah tau betapa pedihnya kehilangan orang yang kita cinta sampai pada akhirnya masa itu tiba. Kehilangan kamu adalah mimpi buruk yang tidak pernah aku inginkan kehadirannya. Kehilangan kamu adalah sesuatu yang tidak pernah aku aminkan dalam setiap sujud lima waktuku. Tidak pernah..

     Kini aku hanya akan melewati hari tanpa ekspektasi, dalam arti aku akan membiarkan semua mengalir begitu saja. Seperti batang kayu yang hanyut dalam aliran sungai. Seperti itu, aku akan mengikuti arusnya tanpa harus melawan..

Tuesday, 19 January 2016

#4 Katamu


ada hal hal yang dipertemukan tapi tidak untuk dipersatukan.


Katamu dulu itu bukan menjadi penghalang untuk kita bisa bersatu. Katamu dulu jika kita saling bersama pasti semua bisa dilalui dengan mudah. Katamu dulu sebesar apapun halangan yang membentang kamu akan berjuang. Katamu dulu kamu dan aku adalah satu.

Yaah, aku masih sangat mengingat kata-katamu dulu yang harusnya aku tau itu hanya hembusan angin berlalu. Kata-katamu yang selalu jadi alasanku bertahan saat aku sudah kelelahan. Kata yang membuatku tak pantang menyerah meski ujian mendera. Kata yang membuatku semangat saat aku hampir mati sekarat. Kata katamu..

Namun sekarang, aku tersadar. Apalah arti sebuah kata tanpa fakta? Apa arti janji tanpa bukti? dan apa arti kepercayaan jika akhiran penuh penghianatan? Apa.. tak ada artinya bukan.

Tapi, aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu atas segala pengingkaran yang telah kamu lakukan. Tidak bisa, karena memang diantara kita tidak ada yang bersalah. Yang aku sadari saat ini, kita mempunyai perbedaan atas apa yang kita yakini. Iya, dunia kita berbeda.

Marah, sedih, kecewa.. menangis tanpa henti. Mengurung diri kamar seorang diri. Kehilangan itu pasti. Perlahan aku mencoba menerima keadaan bahwasannya kita memang tidak untuk dipersatukan. Minggu pagimu dan Lima Waktuku seharusnya tidak untuk menjadi satu. Tidak..

Semalam adalah malam terberat dalam hidupku. Malam dimana aku melihatmu terakhir kali sebelum akhirnya kamu pergi meninggalkan kota ini karena ingin memperbaiki hati. Dan membiarkan aku sendiri dikota yang penuh cerita kita. Semalam dialun alun kota, menjadi kali terakhirku bisa menatap wajahmu dalam dalam. Semalam di alun alun kota, terakhir tanganku kamu genggam. Alun alun kota, saksi perpisahan kita..

Terlepas dari itu semua, aku menyadari bahwa ada hal hal yang dipertemukan tapi tidak untuk dipersatukan. Ada hal yang disatukan hanya sementara bukan untuk selamanya. Yah.. salah satunya aku dan kamu, kita.

#3 Hujan




Hujan tak lagi sama, rintiknya tak membasahi tubuhku meski semua butirnya telah menetes ketanah. Hujan kini berbeda, dia jatuh mengenaiku tapi tidak berhasil membuat basah bajuku. Dia tak lagi dingin, tak berhasil membuatku menggigil. Yang harus kamu tau, sebelumnya aku selalu kalah dengan dinginnya, namun kali ini berbeda. Hujanku yang dulu tak lagi ada.

Kini, hujan hanya sebatas hujan biasa. Datar.. Hambar seperti sayur tanpa garam, kurang enak kurang sedap. Yaah hujanku sekarang memang sudah tak seperti dulu. Bukan karena jumlah tetesan yang berkurang, bukan juga karena air hujan dimasak dahulu sehingga rasanya panas. Bukan.. Hujanku berbeda lebih kepada karena kini aku menikmatinya sendiri. Kini aku menikmatinya seorang diri.

Monday, 18 January 2016

Satu lagi (bahagia)

         

  Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya. Entah karena sudah terlatih lama, atau mungkin karena jenuh yang selalu datang dengan sendirinya. Tahun baru dibulan pertama ini memberiku banyak arti. Mengubah warna kelam padam dalam hidupku menjadi pelangi yang selalu menerangi meski hujan tak sekalipun mendatangi. Entah semua bermula sejak kapan, aku juga tidak pernah mengetahui. Semua bergulir begitu saja. Tenang, nyaman, dan satu lagi… bahagia.

                Satu bulan kedepan, tepatnya Sembilan belas hari yang akan datang. Aku tidak lagi bocah, aku tidak boleh lagi manja berlama lama karena sudah disambut oleh kepala dua. Kepala dua yang membuatku sadar pentingnya mendewasa. Kepala dua yang menuntutku harus bersegera mewujudkan cita cita menjadi nyata. Dan kepala dua yang menuntunku menjadi pribadi yang bijaksana.

Friday, 8 January 2016

Pendusta



Berjalan ke kanan dan mulai membunuh perasaan secara perlahan.


     Seseorang yang tidak menepati perkataannya adalah pendusta bukan, lantas apakah kamu akan menjadi pendusta? Kamu pasti menjawab ‘tidak ingin’ secara gagah. Yaah.. sama sepertimu, aku juga tidak ingin menjadi pendusta atau pengingkar kata. Bakal ada akibat tidak baik pada semua. Aku sangat mengindarinya, meneguhkan diriku atas sebuah kata yang sudah aku ucap.

     Tapi ah, aku juga hanya manusia biasa tidak pernah luput dari salah pun dosa. Aku juga manusia. Tuhan menjadi peran utama selanjutnya hati dan pikiran yang berperan. Kamu tau aku hanya manusia biasa, sekali lagi aku tegaskan aku hanya manusia biasa.  Kadang lupa, kadang tidak sengaja, dan terkadang biar saja.

     Untuk hal kali ini, mungkin aku sudah bisa disebut sebagai pendusta. Mengingkari setiap kata. Tuhan.. maafkan setiap apa yang sudah aku lakukan. Teman, maafkan aku sudah beringkar. Apa yang aku ucap tak sama dengan yang aku kecap. Bukan aku ingin tapi hati berkata lain. Sekarang aku tau apa yang dirasakan para pendusta yang mungkin mereka tidak sengaja.

     Ini seperti, kamu berdiri diantara dua jalan yang menyabang. Satu kiri dan satu kekanan. Kamu punya tiga pilihan, bergerak ke kiri, berjalan kekanan atau bahkan berdiri ditempat yang kamu pijaki. Apabila kamu bergerak ke kiri, maka hatimulah yang akan tersakiti. Saat kamu berjalan kekanan, maka hati seseorang yang akan kamu celakakan. Dan jika kamu memilih untuk berdiam ditempatmu berdiri, maka jadinya akan seperti ini, yaah sekarang ini. Tak pasti.

     Maka, atas semua yang sudah pernah aku jalani aku lebih memilih berjalan kearah kanan. Memang aku tau itu akan menyakitkan namun aku akan lebih tersakiti lagi saat melihat seseorang lain terlukai oleh apa yang aku lakukan. Apakah bisa disebut bahagia yang sebenarnya saat kamu tertawa lepas sedang ada diantara temanmu terluka parah? Bukan, bukan itu yang aku mau. Yaah aku tau, aku tau apa yang harus aku lakukan.

Untukmu temanku, untuk kita maka aku akan mengarah ke kanan saja.




08 Januari 2016, disayup sayup mataku yang menuntut untuk ditutup
-Riskydevitasari

Wednesday, 6 January 2016

#2 Hilang


Maka pada setiap kehilangan kamu harus bersabar


Kehilangan seseorang bukan merupakan penyebab utamamu untuk terus bersedih seperti ini. Aku mengerti kamu pasti merasakan sepi, sendiri dan sunyi. Tak lupa juga luka pasti akan selalu mengiringi. Hari hari akan terasa terselimuti hujan badai. Dingin, bahkan sesekali kamu akan merasakan menjadi beku.

Memang tidak bisa dipungkiri, kehilangan seseorang apalagi yang kita sayangi akan membuat kita serasa kehilangan separuh diri. Menjadikan struk setengah badan atau bahkan mati total. Tangis? Aku meyakini pasti akan tangis disetiap kehilangan. Air mata yang menggambarkan tentang kesedihan, tentang sebuah perpisahan.

Namun, lambat laun kamu juga harus belajar cara mengikhlaskan. Melepaskan tanpa kesedihan, membiarkan pergi tanpa hati merasa keberatan. Merelakan sesuatu yang sudah ditakdirkan bukan milikmu oleh Tuhan. Pasrahkan semuanya kepada Sang Maha Berkehendak. Bukankah ketika kita kehilangan, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari Tuhan? Itu sudah janjiNya bukan. Maka pada setiap kehilangan kamu harus bersabar, tetap menjadi tegar.

Tuesday, 5 January 2016

"Pantes ta?"



Ada saatnya seseorang perlu sendiri, menarik diri beberapa lama untuk pergi.


Yaah, kemaren sore aku dikejutkan dengan sebuah kicauan salah seorang ‘sahabat’ yang entah masih menganggapku sahabat atau tidak. Dalam kicauannya dia menjelaskan tentang apa yang dia tengah rasakan sekarang ini. Hmm, aku tidak kuasa untuk menulis ulang perkataannya. Sungguh menusuk, hingga ke dalam tulang belulang. Kata-kata yang menurutku tidak seharusnya dia katakan. Kata-kata yang membuat air mataku menetes begitu saja. Kata-kata yang… ahsyudahlah aku tidak mau mengingatnya lagi.

Pada inti perkataannya, dia mempertanyakan atas semua yang telah dia beri kepadaku. “Semua” disini bukan berarti barang atau uang tetapi waktu, kebersamaan dan ketenangan. Lalu diakhir kalimatnya dia menyematkan pertanyaan ‘Pantes ta?’. Pada kata terakhir inilah yang membuatku merasakan kekecewaan yang terlampau. Pada kata terakhir inilah yang membuat penyesalan atas apa yang aku lakukan selama ini.

Yaah, aku sempat berpikir

 “berarti selama ini kamu tidak melakukannya dengan ikhlas?” hingga kamu mampu berkata seperti itu atas diriku.

“jika memang begitu lantas untuk apa kamu memberikan semua itu kepadaku?”

Aku kira kamu mengerti tentangku, keadaanku pun perasaanku. Ternyata semua itu kesalahan besar. Kamu sama sekali tidak mengerti aku, atau mungkin memang tidak mau mengerti akan kondisiku. Bukankah selama ini kamu juga tau apa yang telah terjadi kepadaku? Bukankah selama ini kamu adalah salah satu saksi hidup perjuanganku? Bukankah selama ini kamu mendengar semua keluh kesah yang kusampaikan padamu? Lantas mengapa kamu bisa dengan mudahnya berkata seperti itu. Mengecewakan…

Satu  kata yang akan aku ingat selalu, “pantes ta?”.

Kamu tak seharusnya seperti itu, bukankah sudah ku jelaskan dalam post Line ku. Oh atau kamu tidak membacanya. Kan sebulan ini kita tak melakukan komunikasi sekalipun. Mungkin kamu tidak menganggap keberadaanku lagi. Aku tidak tau. Yang pasti selama sebulan ini, meski kita tak berkomunikasi aku masih aktif mengunjungi kronologi Line mu, masih melihat koleksi foto Instagrammu, masih menunggu pm pm mu di bbm. Semua itu aku lakukan untuk mengerti kabarmu meski hanya melalu media sosial yang kamu tak akan mengetahuinya.

Kamu mungkin ingin mengetrahui alasanku “mengapa aku seperti ini?”. Kalau iya, maka aku akan menjelaskan. Yaah, aku seperti menjauh dan meninggalkanmu bukan setelah semua jasamu. Tapi, ketahuilah aku tidak bermaksud lari setelah semua jasa yang kamu beri. Aku tak berniat pergi. Aku tak menjauh. Aku tak menjadi KACANG LUPA KULIT seperti yang kamu maksud. Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin merepotkan kamu lebih jauh lagi. Aku tidak ingin menyusahkanmu dengan keinginan-keinginan bodohku. Aku tidak ingin mengajakmu masuk lebih dalam ke dunia ku yang kelam. Aku ingin kamu baik-baik saja. Aku menganggap dengan aku tidak menganggumu untuk sementara waktu keadaanmu akan jauh lebih baik lagi.

Aku mengira kamu mengerti alasan-alasanku, aku mengira kamu memahami apa apa yang aku lakukan sekarang, aku mengira kamu mengerti aku. Aku mengira..

Aah, tetapi aku salah. Aku teramat salah. Kamu tidak seperti yang aku kira. Kecewa? Yaah sangat kecewa. Membaca kata-katamu “pantes ta?” itu adalah sebuah hantaman besar untukku. Sahabat yang sudah aku anggap saudara. Sahabat yang sudah aku anggap seperti keluarga. Tapi kamu mengecewakan. Kalau memang ada unek-unek atau ungkapan dalam hatimu maka langsung saja ungkapkan saja, tidak perlu seperti itu. Jadinya akan seperti ini. Sekarang, aku menjadi enggan untuk sekedar menyapa “hei..” aku takut, takut kamu akan menganggapku kacang lupa kulit lagi. Aku takut, takut merepotkan mu dan nantinya kamu akan berkata “pantes ta?” lagi. Aku teramat takut.

Hmm..
Terimakasih aku ucapkan kepadamu atas semua semua yang sudah kamu lakukan, terimakasih atas semua jasamu padaku, terimakasih sudah menemaniku keadaanku dibawah, terimakasih sudah tetap mendukungku saat aku posisi dibawah sekalipun, terimakasih selalu ada saat aku gila, terimakasih telah meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan ceritaku, terimakasih terimakasih terimakasih untuk sahabat yang sudah aku anggap saudara..

Maaf aku banyak salah.




Surabaya, 05 Januari 2016


Untukmu, yang aku sudah tidak berani menganggu

Monday, 4 January 2016

#1 Semalam saja


Dikota ini, kita mencoba mengistirahatkan tubuh setelah menempuh perjalanan jauh, kamu dengan jaket tebal hitammu dan aku dengan pashmina merah jambuku, sangat kontras. Berjalan melangkahkan kaki pelan mengitari alun-alun, mencari pengganjal perut untuk memuaskan cacing yang sudah cemberut. Berada disampingku, selalu saja itu yang kamu lakukan saat kita sedang berjalan bersama. Katamu dengan berada disampingku kamu merasa lebih tenang, dan melangkah sejajar denganku adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untukmu. Ku amini saja ucapanmu itu, bak doa yang aku panjatkan pada Tuhan yang satu.

Beberapa langkah kedepan, terlihat warung makan bertuliskan menu 'Bebek Dewa' dengan slogan sekali coba pasti akan kembali lagi. Yaah, salah satu yang membuatku tertarik untuk menuju kesana selain karena Bebek adalah kuliner favorit kita berdua adalah slogannya yang membuat terpesona. Tak perlu pikir panjang lagi, tak perlu melontarkan kata 'ajakan' atau 'memusyawarahkan'. Hanya dengan saling mempertemukan kedua mata kita sudah merupakan jawaban. Segeralah bergegas menuju pemuas lapar kita dan kamu tetap berada disampingku tepat disebelahku.

Sesampainya disana, seraya aku memesan dua porsi nasi bebek extra pedas ditambah satu teh hangat kesukaanmu dan segelah es coklat favoritku saat sedang lelah atau saat mood bercanda. Menuju tempat duduk pojok sebelah kanan dengan dua kursi dimeja lalu mendudukinya. Sekarang kita saling berhadapan, namun tak saling berpandangan. Tak ada sepatah kata terucap dari bibir merah jambumu itu, apalagi dari bibirku, kamu tak akan menemukannya. Suasana beku, kaku dan itu terjadi hingga menit ke tujuh. Sampai kamu mulai membuka kata pertamamu, "hey...". Suaramu sangat lirih namun aku dapat mendengarnya dengan jelas, entah kenapa bisa begitu. Sepasang mata elangmu mencoba mengarah ke wajahku, berusaha mempertemukannya dengan mata sayuku.

Aku masih membisu sekalipun mata kita sudah bertemu, mengisyaratkan sesuatu yang harusnya sudah kamu tau. "Ketahuilah, ini bukan mauku" menjadi kata kedua yang kamu ucapkan. Dan masih sama seperti sebelumnya, aku hanya menatapmu tanpa berkata sesuatu. Mataku mulai basah, oleh datangnya air yang berlimpah. Tapi aku menahannya, aku tidak mau terlihat lemah.

Sekarang, menit ke sepuluh tepat didetik dua puluh sembilan. Pramusaji datang membawa pesanan. Menyajikan dimeja kecil kita yang berhias vas berserta mawar merah. Setelah semua sudah tertata, kembalilah pramusaji melanjutkan pekerjaannya. Kitapun memulai menyantapnya, aku dengan 'bismillaah' dan kamu dengan 'berkatilah'. Sungguh dua hal yang berbeda tapi sudah menjadi biasa diantara kita. Menikmati hidangan dengan khidmat, tenang, tanpa suara hanya sesekali terdengar helaan nafas panjang yang ku hirup.

Tepat pada menit ke dua puluh lima, piring kita bersih tak bersisa. Kamu menyeduh teh hangatmu dan aku meminum segelas es coklatku yang kuharap dapat memberi sedikit stimun kebahagiaan pada dukaku. Lima menit kemudian, gelas kita sudah kosong melompong. Mengartikan bahwa badan harus segera berpindah. Kamu memakai kembali ransel coklat kesayanganmu begitupun aku mengaitkan tas selempang merahku.

Kita berjalan keluar melangkah dengan posisimu tepat disebelahku. Berjalan tanpa arah, serasa hampa. Hingga akhirnya kamu menarik tanganku dan berjalan cepat tepat satu langkah didepanku. Sontak ku percepat langkahkahku mengikuti kakimu. Menit mengarah ke angka tiga puluh tiga saat kamu menepikanku di sudut alun alun dan menyuruhku untuk duduk dengan isyarat. Aku duduk dan kamu tetap berdiri, menghadapku. Namun, aku tidak menyangka. Tiba tiba kamu berlutut dihadapanku, memandangku tajam dengan kedua tanganku kamu genggam. Dan kamu mengeluarkan kata ketigamu.
"Sungguh, aku tidak tau. Bagaimana seharusnya kita, aku sungguh tidak tau. Apa jalan keluar dari masalah yang kita anggap hanya sebuah masalah sepele dulu? Aku tidak tau. Bagaimana cara agar diantara kita tidak ada yang terluka atau bisakah hanya aku saja yang terluka? Aku tidak tau." Belum sempat kamu melanjutkan perkataanmu, mengalirlah air mata ketulusan dari mata elangmu. Bukan hanya setetes,  dua tetes saja tapi ini lebih. Seperti mobil yang kehilangan rem, terus meluncur.

Dan aku, melihatmu seperti itu sungguh membuatku haru. Air matakupun terjatuh luruh. Semuanya jatuh mengucur begitu saja. Kamu semakin mengeratkan genggamanmu. Mata kita saling beradu. Hingga pada akhirnya kuberanikan mulutku terbuka.
"Aku tau, ini bukan salahmu atau salahku. Tidak ada yang bersalah atas semua masalah kita. Tentang ibadah minggu pagimu atau sholat wajibku. Tidak ada yang salah. Aku mengerti, aku berusaha memahami. Bahwa kita tidak sepatutnya bersama. Maka, sudahi saja." Bibirku bergetar hebat saat kalimat itu aku lontarkan. Kalimat yang akan membuat 1460hari berakhir sia sia. 
"Apa harus seperti itu?" Tanyamu, berharap ada option lain yang muncul dariku. Lantas tanpa berfikir lagi, aku segera berucap
"Iya hanya itu saja." Selepas aku berkata seperti itu, wajahmu langsung tertunduk lesu. Merenggangkan genggamanmu lalu melepasnya. Kini kamu mencoba berdiri dengan wajah tetap tertunduk kebawah. Aku pun jua, menegakkan tubuhku menghadapkannya tepat didepanmu hanya saja dengan wajah yang melihat lurus kedepan, yaah ke wajahmu.

Aku menjulurkan tangan kewajahmu, menyapu setiap air mata dukamu. Menegakkan kepalamu membiarkan mata kita beradu. Kamu memandangku dengan khusyu, dengan lembut menyapa kedua mataku. Pandangan itu, yaah pandangan itu membuatku rapuh dan tangisku runtuh. Pandangan yang seolah berkata, “tetaplah tinggal” membuat kuatku tanggal. Kini balada air telah memuara dimata dan tak dapat aku hentikan seketika, tangisku pecah. Kamu.. seraya mengusap tangisku, tidak membiarkan setetespun berjalan melewati pipi. 

Malam, suasana semakin kelam. Hingga kamu berkata, “jika ini memang kesempatan terakhirku bersamamu, maka ijinkan aku menghabiskan semalam bersamamu tanpa pengganggu, tanpa jeda dan tanpa air mata pastinya. Setelahnya, ketika ayam jago berkokok esok pagi aku akan bergegas pergi. Melupa tentang semua ini, mengganggapnya tidak pernah terjadi.” Aku tak membalas dengan kata, hanya anggukkan kecil yang kurasa mengisyaratkan kata –iya-.

Kamu mengajakku ketengah alun-alun yang ditumbuhi rumput subur. Menidurkan tubuhmu, membuatku melakukan hal yang sama sepertimu. Sekarang pandangan kita menuju langit hitam, namun terdapat banyak bintang yang benderang. Sekarang, untuk yang terakhir kali…

Gerbong







Mulai pagi ini, aku akan meninggalkan gerbong-gerbong keretaku yang penuh cerita. Gerbong yang terlampau panjang untuk bisa aku bawa ke stasiun berikutnya. Gerbong yang sudah banyak dinaiki duka pun suka, kegagalan dan keberhasilan serta tangis, tawa dan kekecewaan yang mendalam. Gerbong yang membuatku berpikir ulang untuk membawanya ke pemberhentian selanjutnya. Karena membawa semua gerbong yang sudah ada sekarang akan membuatku malah terguling, dan bahkan mungkin tak akan sanggup berjalan lagi.

Maka karena alasan itu, akan aku tinggalkan sebongkah, dua bongkah bahkan semua bongkahan gerbong. Sehingga tak perlu lagi kau merasakan getirnya tangis distasiun sebelum ini, perihnya luka yang bernanah ataupun kekecewaan akan sebuah penghianatan tak berujung. Yaah… aku akan meninggalnya, semua bongkahan gerbang yang membelengguhku dalam kesedihan. Lantas bagaimana dengan bongkahan gerbang kebahagiaan? Apakah akan aku tinggalkan atau ku biarkan. Teruntuk bongkahan kebahagiaan, mungkin aku akan meninggalkannya juga. Semua tawa yang terukir, canda bersama serta kehangatan stasiun lalu akan aku tinggalkan. Bukankah mereka merupakan kenangan akan masa lalu, lantas untuk apa aku mempertahankan sebuah kenangan yang mungkin malah akan menyakitkan?

Seperti itulah. Aku akan hanya membawa sebongkah gerbong kesedihan yang dengannya aku bisa belajar tentang arti bangkit dari sebuah keterpurukan. Aku pun akan membawa sebongkah gerbong kebahagiaan yang dengannya aku bisa belajar tentang lebih menghormati sebuah sajak tawa. Setelahnya, aku akan terus berjalan kedepan menuju stasiun kehidupan.