Thursday, 8 November 2012

100 Hari


Dear,
Hari ini adalah seratus hari berakhirnya hubunganku dengan dia yang disana. Mungkin kalian menganggapku bodoh ataupun tolol karena aku menghitung jumlah hari berakhirnya hubunganku tetapi bagiku ini semua adalah hal yang perlu diperhitungkan. Seratus hari ini aku menjalani hidup sendiri tanpa didampingi dia dan rasanya itu sepi, sunyi serta sakit. Hari demi hari aku lewati sendiri tanpa dia bersamaku.

Seratus hari, mungkin bagi kalian seratus hari adalah waktu yang cukup singkat tetapi bagiku berbeda. Bagiku seratus hari ini adalah waktu yang sangat lama, hari-hari terasa berjalan perlahan menahanku dalam lembah kesedihan. Kesendirianku membuatku merasa tertekan, hati dan jiwaku kosong. Ini semua berbeda sangat berbeda dengan hari-hari dulu, dimana aku menjalani setiap hari dengan ceria, canda tawa bersama dia, dan dengan semangat yang tinggi. Tapi sekarang semuanya berbeda, tak pernah aku dapat ceria seperti dulu, tak ada canda tawa diantara kami dan aku tidak memiliki semangat untuk menjalani hari-hariku.

Tuhan, aku sudah mengerahkan semua kekuatanku untuk bisa melewati ini semua. Aku sudah berusaha untuk tersenyum walau senyumku tak seindah dulu. Sekarang sudah seratus hari aku tanpanya Tuhan tetapi mengapa aku masih tidak dapat melupakan dia, mengapa aku tidak bisa membuang perasaan sayangku ke dia dan mengapa aku tidak bisa menghapus setiap kenangan saat-saat bersama dia. Mengapa Tuhan? Mengapa? Aku sudah lelah merasakan ini semua. Aku sudah lelah  dengan perasaan sayangku, dengan rasa cemburuku setiap dia dekat dengan cewek lain dan aku sudah lelah  dengan semuanya. Kapan aku bisa bebas dari perasaanku padanya? Kapan aku bisa terlepas dari rasa cemburuku? Sadarkan aku Tuhan, sadarkan aku bahwa dia bukan milikku lagi dan dia tidak akan pernah menjadi milikku.

Aku tidak bisa menikmati setiap detik dengan bahagia. Ini sangat bertolak belakang sekali dengan dahulu dimana aku selalu menikmati setiap detikku dengan senang karena dia selalu menemaniku. Aku bahagia ketika bersama dia tapi sekarang aku tidak bahagia karena sekarang aku tidak bisa bersama-sama dia lagi. Andai dia tahu, aku menyayanginya sampai detik ini aku merindukannya sampai saat ini. Andai dia tahu, aku tersiksa dengan keadaan ini. Aku mencoba tegar menutupi semua duka yang aku rasakan dengan senyuman palsuku, dengan tawa keringku. Memasang wajah ceria meski dalam hati duka. Sampai saat ini hatiku masih saja hampa, aku tidak tahu kenapa seperti ini padahal sudah seratus hari kejadian itu di gilas waktu.

Oh Tuhan, andai waktu bisa di putar kembali aku akan memperbaiki semuanya dan berusaha menjadi yang terbaik. Akan aku pastikan aku tidak akan membuat kesalahan seperti itu lagi, aku tidak akan melakukan kesalahan yang aku lakukan dulu. Tapi semuanya tidak akan bisa karena waktu tidak bisa di putar lagi kemasa lalu, waktu tidak akan bisa kembali kemasa dulu. Sebesar apapun usaha yang aku kerahkan tak kan mampu memutar waktu.

Kini yang ada tinggal penyesalan, penyesalan yang teramat dalam. Penyesalan yang mungkin akan aku kenang seumur hidupku. Inilah hidup, penyesalan selalu datang dibelakang. Aku sudah mencoba untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi tetapi penyesalan ini teramat dalam hingga aku tidak bisa untuk tidak menyesali ini semua. Penyesalan ini membuatku terpuruk dalam kesalahan.

Oh Tuhan, seratus hari ini sudah banyak cerita yang aku ukir, sudah banyak kebodohan yang aku lakukan. Terkadang aku melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan apa akibatnya nanti, apakah itu akan membuat aku sedikit bahagia ataukah malah membut aku semakin terpuruk dalam sayatan luka. Sering aku melakukan sesuatu dengan hanya menggunakan nafsuku bukan akalku. Pernah juga aku menghalalkan segala cara hanya untuk sekedar membuat hati bahagia tapi yang terjadi malah kesakitan. Aku mungkin memang bodoh. Aku ceroboh dan egois. Sesekali waktu yang bisa ku lakukan hanyalah merenung. Ya merenung adalah salah satu cara agar aku bisa mengintropeksi diri ini. Dalam renunganku selalu saja ada pertikaian antara hati dan fikiranku. Dan aku sering dibuat bingung dengan semua itu.

Tuhanku, sudah seratus hari ini aku sendiri tanpa dia. Seratus hari ini hamba berjuang sendiri tanpa ada penyemangat. Tuhan, aku ingin memperbaiki semua yang ada. Aku ingin menjadikan semua ini sebagai acuan agar aku tidak salah di kemudian hari. Aku ingin merubah yang ada sekarang. Bantu aku Tuhan. Aku yakin aku pasti bisa melewati semua ini. Masih ada seraus hari seratus hari yang lain yang masih menantiku didepan sana. Aku harus kuat aku harus tegar.

Aku bisa. Ya.. aku bisa. Tapi kenapa di setiap aku bertemu dengan dia aku lemah kembali? Sungguh tidak mudah bagiku, rasanya tak ingin bernafas lagi saat bertemu dengan dia. Sungguh sakit hati ini melawan cinta yang ada di hati. Setiap bertemu selalu saja mataku tidak berani untuk menatap matanya, bagaimana bisa aku menatap matanya jikalau untuk menatap wajahnya saja aku sudah tidak berani. Tertunduk aku saat dia ada. Entah mengapa takut menatapnya, mungkin karena aku tidak ingin membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Jantungku serasa ingin copot karena sangking cepatnya berdetak. Aku tidak tau mengapa semua hal itu terjadi saat dia ada, jauh ataupun dekat jaraknya dengan keberadaanku. Padahal dalam hati ini ingin sekali melihat, menatap dan mengagumi wajahnya tapi apalah dayaku. Ketauhilah aku sangat ini saling bertatap muka dengannya, aku ingin mata kita saling memandang merasakan apa yang kita rasakan.

Sela-sela tanganku kini selalu kosong tidak seperti dahulu ketika dia mengisikan jari-jari tangannya diantara sela tanganku, mengenggam erat seolah tak ingin kehilangan aku. Selalu bergandengan seolah kita tidak ingin terpisah. Aku rindu masa-masa itu masa dimana saat dia mencubit pipiku, membelai rambutku, mengelus jari-jariku dan memandang wajahku dengan senyuman indahnya. Sudah seratus hari itu semua tidak bisa aku nikmati. Tidak ada lagi yang mencubit pipiku, membelai rambutku mengelus jari-jariku dan memandang wajahku seperti dulu. Tidak ada, kalau pun ada rasanya berbeda tidak seperti ketika dia yang melakukannya.

Sayang, aku rindu kamu. Tahukah kamu apa sekarang yang sedang aku rasakan? Sekarang aku sedang mencoba melawan kerinduanku terhadapmu. Apakah kamu juga merindukanku disana? Ataukah kamu malah merindukan sesosok wanita lain? Jika iya, semakin hancurlah perasaanku ini. Tapi tak mengapa kamu merindukanku atau tidak, aku selalu merindukanmu. Tuhan tolong aku, kuatkan aku. Sekarang yang terbaik adalah menyadarkan diri bahwa dia bukan milikku lagi, dengan begitu mungkin rasaku bisa sedikit mengelupas. Semoga saja.

                Hari ini dua minggu sudah kita tidak bertemu, dua puluh hari kita tidak berhubungan ataupun berkomunikasi teranglah jika aku teramat merindukanmu. Rindu ini membuat aku gila. Inginku bertemu denganmu tapi mungkin kamu tidak ingin menemuiku. Mungkin terlalu besar kesalahan yang aku lakukan padamu hingga kamu membenci aku sampai sekarang. Apakah tidak ada secuil maaf untukku? Apakah sudah tertutup pintu maafmu untukku? Apakah kamu tidak memberiku kesempatan untuk merubah ini semua? Apaka, apakah dan apakah? Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam angan.

Hmm.. mungkin ini memang sudah menjadi takdir hidup yang harus aku jalani untuk mendewasakan diri. Badai pasti berlalu, ingat itu. Relakan dia, ikhlaskan dia pergi. Terimalah kenyataan yang ada, jangan menangisi dan menyesali apa pun yang terjadi sekarang. Belajarlah dari kesalahan yang kemaren-kemaren. Jalanmu masih panjang jangan kamu gunakan untuk menyesali apa yang sudah terjadi, sadarlah semua sudah terjadi dan tidak akan pernah bisa kembali seperti dahulu. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk memikirkan semua ini, masih banyak hal-hal yang perlu difikirkan selain hal ini. Ini hanya cobaan kecil untukmu, kamu pasti bisa melewati ini. Sabar, ikhlas dan tawakal. Tuhan selalu ada kok buat aku.

Di seratus hari ini jika aku boleh berharap dan meminta, aku akan meminta agar aku bisa berteman lagi dengan dia. Meskipun hanya berteman tetapi aku sudah sangat bahagia. Aku ingin berteman dengan dia tidak seperti sekarang saling berjauhan, seperti orang yang tidak saling mengenal. Tuhan jadikanlah kami teman kembali, hanya sebatas teman Tuhan. Aku rela. Jangan seperti ini terus, aku capek. Di seratus hari ini pula aku berharap jika memang aku dan dia tidak bisa bersatu kembali Tuhan menghapuskan rasa sayangku, rasa cemburuku, dan rasa rinduku padanya agar aku bisa menikmati hariku dengan bahagia kembali. Amin. Terimakasih Tuhan.

Ini kisah seratus hariku, seratus hari tanpa dia.

Semoga kamu bahagia tanpa aku disampingmu lagi sayang, aku akan bahagia jika kamu bahagia meski itu tidak mungkin karena aku sedih tanpamu. Semoga juga kamu menemukan yang lebih baik dari aku, amin. Ketahuilah sayang, aku mencintaimu benar-benar mencintaimu. Jujur dalam hati kecilku aku masih berharap menjadi kekasihmu lagi, berharap menjadi milikmu lagi. Hmm.. tapi aku sadar itu tidak akan terjadi. Someday, jika kamu menemukan seseorang yang lain yang lebih baik dari aku tolong jangan lupakan aku ya sayang, ingat aku, kenanglah aku selalu. Aku Risky Devitasari yang dulu pernah mengisi hari-harimu. Oh ya terimakasih ya karena kamu telah mengajarkan banyak arti kehidupan buat aku. Terimakasih juga karena kamu pernah mengisi hari-hariku. Maaf jika aku ada salah dan maaf karena aku membosankan. Terimakasih.



                                                                                                                  Surabaya, 03 November 2012
Salam rindu, Risky Devitasari.