Thursday, 4 February 2016

#6 Satu (bulan)

          

 Kita saling merindu meski sudah tak bisa lagi bersatu.


          Hari ini sudah 30 hari berlalu, aku tanpa kamu. Tepat genap satu bulan, kita tak saling pandang. Mungkin bagi segelintir orang melewati satu bulan itu sangat cepat, singkat, sangat mudah dan tak terasa. Namun aku berbeda, satu bulan ini seperti satu tahun. Lambat, pelan dan tak terarah. Aku melewati hari hari sendiri. Bukan sendiri, lebih tepatnya menyendiri. Membiarkan sunyi sepi menggerogoti hingga ke dalam hati. Merongrong semua isi lalu membiarkanku mati.

              Perkara meninggalkan memang mudah, yang susah adalah saat masih dan akan selalu ada banyak rasa tapi Benteng memaksa kita harus berpisah. Kamu tau kan yang ku maksud dengan benteng? Jika tidak maka akan ku lantunkan satu bait yang mewakilkan kita sekarang. Lihat dan bacalah, tidak udah kamu resapi toh aku tak menuntut kamu memahami.


 di dalam hati ini hanya satu nama
yang ada di tulus hati ku ingini
kesetiaan yang indah takkan tertandingi
hanyalah dirimu satu peri cintaku

benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
huuuuuu

aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi


Lihat dan bacalah, sudah? Setelah membaca bait bait itu, apakah kamu sudah mengerti yang aku sebut dengan Benteng. Sesuatu yang membuat kita harus saling acuh tiga puluh hari yang lalu? Sungguh aku masih terbayang dengan kejadian malam itu. Masih sangat lekat di ingatan. Membawaku pergi berimajinasi, membuat anganku berlarian dan parahnya sekarang aku masih merindumu. Bahkan lebih dari hari hari lalu, rindu ini menusuk kalbu membiarkan aku kedingan menggigil tak tertahan. Apa kamu juga merasakan apa apa yang akuu rasa? Kuharap iya, hatiku berkata iya. Kamu merinduku juga. Kita saling merindu meski sudah tak bisa lagi bersatu.