Senja, kau mampu mengubah segala duka.
Aku menyukai senja bahkan mencintainya, setiap senja datang selalu ku sempatkan beberapa waktu untuk memandang. Langit warna jingga, oren menyala. Membuat sebuah pemandangan yang sangat membelalak mata. Bagiku, yaah bagiku saja. Hanya cukup dengan memandanginya sudah kurasa bahagia, merubah wajah lelah menjadi sumringah.
Senja, pernah sekali aku membencinya. Saat orang yang aku cinta mengabadikan sebuah gambar bersama wanita baru dibawah sinarnya. Dan seketika aku marah, membencinya dengan sangat nyata. Membenci sinarnya, membenci kedatangannya, bahkan setiap kali senja datang maka aku bersembunyi, membelakangi bahkan tak muncul sama sekali. Karena kurasa, saat itu senja malah akan mengingatkanku pada peristiwa terperih yang pernah bekas kekasihku beri.
Namun, perlahan aku tak lagi membencinya. Aku mulai menyukanya lagi, lagi dan lagi. Karena aku sadar, seharusnya bukan senja yang aku benci, seharusnya senja tidak harus aku hindari. Seharusnya senja tidak menjadi pelampiasan rasa kekecewaan terhadap kekasih lamaku. Seharusnya.. Maka mulailah kucintai senja lagi, menikmati sinarnya lagi, berbincang dengannya lagi..
Aku dan Senja, kita..
Aku dan Senja, kita..

2 comments
nice.. like it
Thank's :))