
Sudah kepala dua, setidaknya tidak 'berkepala dua'.
Dua puluh, bukan angka yang istimewa bagi kebanyakan kalian semua. Dua puluh hanya angka yang terbentuk ketika dua dan kosong berjumpa. Tapi bagiku, dua puluh adalah angka keramat. Dimana sudah banyak pertanyaan tentang apa yang sudah kamu hasilkan? Apa yang telah kamu dapatkan? Sudahkah berguna bagi sesama? dan yang paling mengerikan adalah pertanyaan tentang Jodoh, Siapa pendampingmu sekarang? Kapan akan menikah? Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan terakhir. Karena memang aku masih sendiri hingga saat ini. Yah, lebih tepatnya masih ingin menyendiri. Hehehe.. Jangan tertawa, jangan meragukan ucapaku, jangan mengganggapku hanya alasan saja, karena itu memang nyatanya. Aku masih ingin sendiri untuk waktu yang lama.
Hari ini tepat dua puluh tahun tubuhku bersentuhan langsung dengan udara, tepat 240 bulan lalu aku bisa merasakan dekapan hangat ibu dan ayah secara langsung tanpa perantara. 2880 minggu sudah, aku menapakkan kakiku dibumi indah milikNya. Hari ini, sungguh aku berucap syukur kepada sang Maha Pencipta, masih mengijinkanku untuk bisa menghirup udara, melihat keindahan alam yang tiada tara serta masih bisa menikmati kasih sayang dari orang orang yang aku sayang. Syukur yang tiada hentinya.
Sudah banyak sekali yang aku jalani hingga saat ini, banyak cerita yang sudah terukir indah pun duka. Banyak tawa nan tangis yang mendera. Sudah sangat banyak, sudah. Dua puluh tahun ini juga telah mengajarkanku apa itu hidup. Bagaimana untuk tetap kuat meski sudah sekarat. Bagaimana tetap bertahan walau sudah kelelahan. Dan Bagaimana tetap berjuang walau kadang terasingkan. Aku belajar banyak, iyah sangat banyak sekali.
Ditahun kedua puluh ini, aku lebih membuang ego. Memikirkan hak orang lain daripada hak sendiri. Lebih memikirkan tentang kewajiban kewajiban yang harus aku lakukan bukan malah menuntut hak yang seharusnya aku dapatkan. Yaah, itu memang sudah seharusanya bukan, seharusnya tidak perlu menunggu dua puluh datang baru kamu akan melakukannya bukan? Tapi inilah proses menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lagi.
Dua puluh, tak banyak doa yang aku pinta. Hanya cukup bisa membanggakan membahagiakan ibu dan ayah, sukses dalam dunia dan akhirat serta menjadi pribadi yang bisa lebih berguna untuk sesama. Amin, semoga disegerakan setiap doa :) . Untuk masalah jodoh, ah aku tidak terlalu memikirkannya. Nanti juga pasti ada, kalo sudah waktunya. Hehehe
Tak lupa aku sampaikan terimakasih untuk bidadari tak bersayapku, untuk malaikat bumiku. Ayah, Ibu. Terimakasih untuk setiap doa yang kalian panjatkan, untuk setiap cucuran keringat yang kalian korbankan, untuk waktu, tenaga bahkan jiwa yang sudah kalian persembahkan untuk putri kecilmu ini. Sekuat apapun aku berusaha membalas jasa kalian, sungguh itu tak akan mampu mengganti setiap apa yang sudah kalian berikan. Terimakasih tak terhingga, dariku bungsu manjamu.
Juga terimakasih untuk para sahabat sahabat dibumi, yang masih setia tetap ada disisi. Yang mau menemani saat dibawah pun diatas. Yang sudah rela meminjamkan bahunya saat duka melanda, yang tetap menggandeng erat saat bahagia tercipta. Terimakasih masih mau bersaudara. Maafkan, jika selama ini banyak khilaf yang ku lakukan. Satu pintaku, tetaplah bersama meski apapun adanya.
06 Februari 1996 - 06 Februari 2016
Dua puluhku, Risky Devitasari.
