Setiap sore saat senja tiba, dia berjalan menyusuri tepian pantai. Melangkahkan kaki tanpa memakai alas
kaki. Berjalan kesana kemari hingga pada saatnya senja benar benar nampak sempurna
dengan warna oren menyala dia memberhentikan langkah. Berhenti tepat ditengah
tengah tepian pantai. Mendudukkan tubuhnya diatas pasir basah karena ulah ombak
yang gagah. Lalu melipat kedua kaki didepan dan dirangkulkannya kedua tangan
dengan wajah yang tetap mengarah lurus ke laut lepas. Seakan tak mau melewatkan
sesuatu.
…
Hembusan angin menyapu wajah, rambut
panjang tergurainya pun menari nari indah bak penari salsa yang sedang
berdansa. Sesekali karena angin pantai yang berhembus merdu membuat beberapa
helai mahkotanya menyeka wajah ayu itu, namun tetap saja dia tidak bergeming. Yaah,
dia masih terpaku pada laut lepas dengan tidak menghiraukan apa saja yang
terjadi. Deburan ombak yang keras pun tidak mampu merebut perhatiannya. Bahkan saat
tubuhnya basah oleh ombak ombak pantai, dia tetap saja duduk dengan santai
tanpa menghindar. Dia tetap diam, tetap mengarah ke depan menikmati pertunjukan
alam yang begitu indah bernama Senja. Hingga sampai senja berpulang, maka dia
pun pulang.

