Saturday, 12 March 2016

Jingga Senja



Senja, kau mampu mengubah segala duka.

Aku menyukai senja bahkan mencintainya, setiap senja datang selalu ku sempatkan beberapa waktu untuk memandang. Langit warna jingga, oren menyala. Membuat sebuah pemandangan yang sangat membelalak mata. Bagiku, yaah bagiku saja. Hanya cukup dengan memandanginya sudah kurasa bahagia, merubah wajah lelah menjadi sumringah.

Senja, pernah sekali aku membencinya. Saat orang yang aku cinta mengabadikan sebuah gambar bersama wanita baru dibawah sinarnya. Dan seketika aku marah, membencinya dengan sangat nyata. Membenci sinarnya, membenci kedatangannya, bahkan setiap kali senja datang maka aku bersembunyi, membelakangi bahkan tak muncul sama sekali. Karena kurasa, saat itu senja malah akan mengingatkanku pada peristiwa terperih yang pernah bekas kekasihku beri. 

Namun, perlahan aku tak lagi membencinya. Aku mulai menyukanya lagi, lagi dan lagi. Karena aku sadar, seharusnya bukan senja yang aku benci, seharusnya senja tidak harus aku hindari. Seharusnya senja tidak menjadi pelampiasan rasa kekecewaan terhadap kekasih lamaku. Seharusnya.. Maka mulailah kucintai senja lagi, menikmati sinarnya lagi, berbincang dengannya lagi..

Aku dan Senja, kita..


Antara mendung dan langit menghitam



Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot diri.


Sore ini seperti biasanya langit menghitam, merubah suasana menjadi suram. Menjadikan keadaan kelam, seperti halnya hatiku. Menyaksikan seseorang yang begitu aku menaruh harap padanya berboncengan dengan seorang wanita, yang sepertinya bukan sekedar teman biasa. Mengikuti mereka dari belakang, melaju perlahan pasti namun aku tidak mau mendahului. Cukup hanya menyaksikan dari belakang, cukup hanya menjadi penonton kebersamaan mereka saja. Mungkin dengan tambahan beberapa tetesan air mata yang membanjiri kedua pipi bakpo ini. Selebihnya aku membirkan hatiku teriris hingga menjadi potongan halus yang bahkan tak berbentuk.

Wanita itu, merangkulkan kedua tangannya pada pinggang lelakiku (dibaca:mantan). Mereka tertawa bersama, seakan tidak tau dibelakang sana ada hati satu wanita yang menahan rasa amarah. Mereka bercanda riang gembira, seakan tak memperdulikan hati seorang penonton yang seharusnya menjadi peran utama. Mereka, sebut saja dua orang yang sangat jahat. Menari nari indah diatas rasa kekecewaan yang teramat. Ku biarkan saja itu terjadi, seperti yang sudah aku lakuakan sejak tadi, hanya mengati dari jarak yang tak lebih dari 196,85 inci. 

Sampai pada akhirnya mereka berhenti pada sebuah penjual yang menjajahkan bakso beserta kawan kawannya. Saat itulah, aku memberanikan untuk menampakkan diri dihadapan lelakiku (dibaca:seseorang yang jahat). Berada tepat dihadapannya dengan tubuh gemetar dan hati yang gusar. Dia memandang kearahku, yah kearahku. Begitu juga sebaliknya, kupandangi dia dengan senyum indah bak hati  tak terluka. Kita berpandang, dia menampakkan senyum selayang pandang dengan badan tetap pada posisi membonceng wanita barunya. Aku;sama. Terus saja aku memperhatikannya, ke arahnya bukan wanitanya. Dan aku rasa sang wanita tidak tau, tidak mengetahui tentang keberadaan ku sama sekali.

Waktu berjalan sangat lambat kala itu, ketika luka menyambangiku. Ketika puluhan bahkan ratusan pisau tajam seakan menusukiku dan aku malah membiarkan itu. Sesaat setelah dia selesai membeli, dia pun kembali ke tempat dimana mereka bertemu setiap hari. Dia, lelakiku pergi tanpa satu patah katapun yang tertuju padaku. Aku masih sangat mengingat benar. Dia pergi, menjalankan sepedanya dan kemudian kembali bercengkramah dengan wanitanya. Lalu aku? Yaah sama seperti yang sudah aku lakukan sejak tadi, hanya mengamati memperhatikan tampak berusaha menunjukkan perihnya hati.

Saat itu pula, saat aku sudah tidak bisa lagi membendung segala kekecewaan ku putuskan untuk pulang saja. Bukan ke rumah, namun lebih tepatnya pergi dari mereka sejauh jauhnya. Entah kemana. Aku memutuskan untuk pergi. Karena hati memang sudah tidak sanggup lagi. Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot nadi.

Hmm, kalau sudah begini sudah kecewa seperti ini lantas siapa yang akan aku salahkan? Lelakiku (dibaca; pecundang) ? Wanita itu (dibaca; seperti bukan wanita karena dia sangat tega) ? Atau aku? Tentu saja aku tidak bisa menyalahkan lelakiku (dibaca; kelinci berdasi) atau wanita itu (dibaca; yang sudah tertipu dengan semua kebohongan rayuan lelakiku). Maka aku akan menyalahkan aku saja.. Yaah aku yang bersalah atas semua hal yang telah terjadi, bahkan nampak didepan mata.

Aku..


Dua Kosong



Sudah kepala dua, setidaknya tidak 'berkepala dua'.

Dua puluh, bukan angka yang istimewa bagi kebanyakan kalian semua. Dua puluh hanya angka yang terbentuk ketika dua dan kosong berjumpa. Tapi bagiku, dua puluh adalah angka keramat. Dimana sudah banyak pertanyaan tentang apa yang sudah kamu hasilkan? Apa yang telah kamu dapatkan? Sudahkah berguna bagi sesama? dan yang paling mengerikan adalah pertanyaan tentang Jodoh, Siapa pendampingmu sekarang? Kapan akan menikah? Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan terakhir. Karena memang aku masih sendiri hingga saat ini. Yah, lebih tepatnya masih ingin menyendiri. Hehehe.. Jangan tertawa, jangan meragukan ucapaku, jangan mengganggapku hanya alasan saja, karena itu memang nyatanya. Aku masih ingin sendiri untuk waktu yang lama.

Hari ini tepat dua puluh tahun tubuhku bersentuhan langsung dengan udara, tepat 240 bulan lalu aku bisa merasakan dekapan hangat ibu dan ayah secara langsung tanpa perantara. 2880 minggu sudah, aku menapakkan kakiku dibumi indah milikNya. Hari ini, sungguh aku berucap syukur kepada sang Maha Pencipta, masih mengijinkanku untuk bisa menghirup udara, melihat keindahan alam yang tiada tara serta masih bisa menikmati kasih sayang dari orang orang yang aku sayang. Syukur yang tiada hentinya.

Sudah banyak sekali yang aku jalani hingga saat ini, banyak cerita yang sudah terukir indah pun duka. Banyak tawa nan tangis yang mendera. Sudah sangat banyak, sudah. Dua puluh tahun ini juga telah mengajarkanku apa itu hidup. Bagaimana untuk tetap kuat meski sudah sekarat. Bagaimana tetap bertahan walau sudah kelelahan. Dan Bagaimana tetap berjuang walau kadang terasingkan. Aku belajar banyak, iyah sangat banyak sekali.

Ditahun kedua puluh ini, aku lebih membuang ego. Memikirkan hak orang lain daripada hak sendiri. Lebih memikirkan tentang kewajiban kewajiban yang harus aku lakukan bukan malah menuntut hak yang seharusnya aku dapatkan. Yaah, itu memang sudah seharusanya bukan, seharusnya tidak perlu menunggu dua puluh datang baru kamu akan melakukannya bukan? Tapi inilah proses menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lagi.

Dua puluh, tak banyak doa yang aku pinta. Hanya cukup bisa membanggakan membahagiakan ibu dan ayah, sukses dalam dunia dan akhirat serta menjadi pribadi yang bisa lebih berguna untuk sesama. Amin, semoga disegerakan setiap doa :) . Untuk masalah jodoh, ah aku tidak terlalu memikirkannya. Nanti juga pasti ada, kalo sudah waktunya. Hehehe

Tak lupa aku sampaikan terimakasih untuk bidadari tak bersayapku, untuk malaikat bumiku. Ayah, Ibu. Terimakasih untuk setiap doa yang kalian panjatkan, untuk setiap cucuran keringat yang kalian korbankan, untuk waktu, tenaga bahkan jiwa yang sudah kalian persembahkan untuk putri kecilmu ini. Sekuat apapun aku berusaha membalas jasa kalian, sungguh itu tak akan mampu mengganti setiap apa yang sudah kalian berikan. Terimakasih tak terhingga, dariku bungsu manjamu.

Juga terimakasih untuk para sahabat sahabat dibumi, yang masih setia tetap ada disisi. Yang mau menemani saat dibawah pun diatas. Yang sudah rela meminjamkan bahunya saat duka melanda, yang tetap menggandeng erat saat bahagia tercipta. Terimakasih masih mau bersaudara. Maafkan, jika selama ini banyak khilaf yang ku lakukan. Satu pintaku, tetaplah bersama meski apapun adanya.


06 Februari 1996 - 06 Februari 2016


Dua puluhku, Risky Devitasari.

'Aku baik baik saja', sebuah kebohongan kecil



aku tidak baik baik saja

"Aku akan baik-baik saja", terucap tegas dari mulutku. Meyakinkan bahwa setiap kata akan menjadi nyata. Tapi pada realita, setiap aku berusaha membaikkan diriku mengganggap semuanya baik baik saja yang ada malah terjatuh semakin dalam pula. Seperti saat waktu itu, seperti biasa aku membuka mata dengan kata alhamdulillah karena masih diberi kesempatan untuk bisa terbangun pada pagi ini, seraya berucap bismillah sebagai awalku mengawali hari ini hingga kembali terpejam malam nanti. Aku menyegerakan mengguyur tubuhku dengan percikan dinginnya air disubuh ini. Dilanjutkan dengan membasuh bagian-bagian tubuh sebagai wudhu. Setelahnya, mengerjakan kewajibanku sebagai hambaNya. Tak lupa aku bercerita pada Tuhanku, tentang kita.. aku dan kamu. Berkeluh kesah, mengungkapkan isi hati berserta keinginannya. Hingga tidak terasa air mata jatuh membuat pipi basah.

.......

Peri Cintaku, hanya sebuah lagu.



"Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai.."Seperti kutipan lirik dalam salah satu lagu kesukaanku, yang selalu aku putar berulang ulang tanpa jeda. Yaah, kita memang terpisahkan oleh sebuah benteng yang kokoh berdiri dan sangat tinggi. Hingga tak seorangpun dari kita, aku ataupun kamu bisa menggapainya. 

aku untuk kamu, kamu untuk akunamun semua apa mungkin iman kita yang berbedaTuhan memang satu, kita yang tak samaHaruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
.......

Aliran tanpa muara


Gambar Sungai Kecil


Arus sungai yang membawaku serasa berjalan lambat, berlaku tenang namun terkadang bisa menenggelamkan hingga ke paling dasar sekalipun. Yaah, ku ikuti saja aliran tanpa sedikitpun melawan. Sesekali waktu arusnya menjadi cepat, hingga membuatku terombang ambing

.......

Masihkah kau mendustakan


"Maka, nikmat Tuhan-Mu manakah yang kamu dustakan?"


Aku tidak pernah tau, tidak tau. Mengapa Allah masih saja menyayangiku? Mengapa Allah selalu mengabulkan akan segala doa doa yang aku panjatkan? Bukankah, aku sudah terlalu membangkang. Menjalankan larangannya pun menjauhi perintah-perintahnya. Aku masih saja tidak habis pikir. Mungkin inikah pembuktian kata kata bahwa Allah selalu menyayangi dan mengampuni atas dosa hambaNya? Hmm, memang begitu adanya.

Aku akui sudah terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan terhadapNya, untuk melangkah dijalanNya pun masih sulit aku lakukan. Melakukan kesalahan yang kadang bahkan aku lakukan untuk kedua kalinya, tiga kalinya bahkan berkali kalinya. Tetapi Allah masih saja memberi ampunan terhadapku, mengabulkan setiap permohonan permohonan yang aku haturkan dalam jumlah banyak sekalipun. Mungkin sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dari permintaan permintaan kecil, permintaan yang selalu aku ulang, permintaan bodoh, permintaan yang besar sekalipun.

Allah tidak henti hentinya memberi aku kesempatan, mengabulkan atas doaku. Kesempatan yang terkadang aku biarkan pergi begitu saja. Kesempatan yang sering aku lewatkan, kesempatan yang tidak semua orang diberikan. Allah selalu menyayangiku.