Mulai pagi
ini, aku akan meninggalkan gerbong-gerbong keretaku yang penuh cerita. Gerbong
yang terlampau panjang untuk bisa aku bawa ke stasiun berikutnya. Gerbong yang
sudah banyak dinaiki duka pun suka, kegagalan dan keberhasilan serta tangis,
tawa dan kekecewaan yang mendalam. Gerbong yang membuatku berpikir ulang untuk
membawanya ke pemberhentian selanjutnya. Karena membawa semua gerbong yang
sudah ada sekarang akan membuatku malah terguling, dan bahkan mungkin tak akan
sanggup berjalan lagi.
Maka karena alasan itu, akan aku tinggalkan sebongkah,
dua bongkah bahkan semua bongkahan gerbong. Sehingga tak perlu lagi kau
merasakan getirnya tangis distasiun sebelum ini, perihnya luka yang bernanah
ataupun kekecewaan akan sebuah penghianatan tak berujung. Yaah… aku akan
meninggalnya, semua bongkahan gerbang yang membelengguhku dalam kesedihan.
Lantas bagaimana dengan bongkahan gerbang kebahagiaan? Apakah akan aku
tinggalkan atau ku biarkan. Teruntuk bongkahan kebahagiaan, mungkin aku akan
meninggalkannya juga. Semua tawa yang terukir, canda bersama serta kehangatan
stasiun lalu akan aku tinggalkan. Bukankah mereka merupakan kenangan akan masa
lalu, lantas untuk apa aku mempertahankan sebuah kenangan yang mungkin malah akan
menyakitkan?
Seperti itulah. Aku akan hanya membawa sebongkah gerbong kesedihan
yang dengannya aku bisa belajar tentang arti bangkit dari sebuah keterpurukan.
Aku pun akan membawa sebongkah gerbong kebahagiaan yang dengannya aku bisa
belajar tentang lebih menghormati sebuah sajak tawa. Setelahnya, aku akan terus
berjalan kedepan menuju stasiun kehidupan.

