Monday, 4 January 2016

Gerbong







Mulai pagi ini, aku akan meninggalkan gerbong-gerbong keretaku yang penuh cerita. Gerbong yang terlampau panjang untuk bisa aku bawa ke stasiun berikutnya. Gerbong yang sudah banyak dinaiki duka pun suka, kegagalan dan keberhasilan serta tangis, tawa dan kekecewaan yang mendalam. Gerbong yang membuatku berpikir ulang untuk membawanya ke pemberhentian selanjutnya. Karena membawa semua gerbong yang sudah ada sekarang akan membuatku malah terguling, dan bahkan mungkin tak akan sanggup berjalan lagi.

Maka karena alasan itu, akan aku tinggalkan sebongkah, dua bongkah bahkan semua bongkahan gerbong. Sehingga tak perlu lagi kau merasakan getirnya tangis distasiun sebelum ini, perihnya luka yang bernanah ataupun kekecewaan akan sebuah penghianatan tak berujung. Yaah… aku akan meninggalnya, semua bongkahan gerbang yang membelengguhku dalam kesedihan. Lantas bagaimana dengan bongkahan gerbang kebahagiaan? Apakah akan aku tinggalkan atau ku biarkan. Teruntuk bongkahan kebahagiaan, mungkin aku akan meninggalkannya juga. Semua tawa yang terukir, canda bersama serta kehangatan stasiun lalu akan aku tinggalkan. Bukankah mereka merupakan kenangan akan masa lalu, lantas untuk apa aku mempertahankan sebuah kenangan yang mungkin malah akan menyakitkan?

Seperti itulah. Aku akan hanya membawa sebongkah gerbong kesedihan yang dengannya aku bisa belajar tentang arti bangkit dari sebuah keterpurukan. Aku pun akan membawa sebongkah gerbong kebahagiaan yang dengannya aku bisa belajar tentang lebih menghormati sebuah sajak tawa. Setelahnya, aku akan terus berjalan kedepan menuju stasiun kehidupan.