Beberapa langkah kedepan, terlihat warung makan bertuliskan menu 'Bebek Dewa' dengan slogan sekali coba pasti akan kembali lagi. Yaah, salah satu yang membuatku tertarik untuk menuju kesana selain karena Bebek adalah kuliner favorit kita berdua adalah slogannya yang membuat terpesona. Tak perlu pikir panjang lagi, tak perlu melontarkan kata 'ajakan' atau 'memusyawarahkan'. Hanya dengan saling mempertemukan kedua mata kita sudah merupakan jawaban. Segeralah bergegas menuju pemuas lapar kita dan kamu tetap berada disampingku tepat disebelahku.
Sesampainya disana, seraya aku memesan dua porsi nasi bebek extra pedas ditambah satu teh hangat kesukaanmu dan segelah es coklat favoritku saat sedang lelah atau saat mood bercanda. Menuju tempat duduk pojok sebelah kanan dengan dua kursi dimeja lalu mendudukinya. Sekarang kita saling berhadapan, namun tak saling berpandangan. Tak ada sepatah kata terucap dari bibir merah jambumu itu, apalagi dari bibirku, kamu tak akan menemukannya. Suasana beku, kaku dan itu terjadi hingga menit ke tujuh. Sampai kamu mulai membuka kata pertamamu, "hey...". Suaramu sangat lirih namun aku dapat mendengarnya dengan jelas, entah kenapa bisa begitu. Sepasang mata elangmu mencoba mengarah ke wajahku, berusaha mempertemukannya dengan mata sayuku.
Aku masih membisu sekalipun mata kita sudah bertemu, mengisyaratkan sesuatu yang harusnya sudah kamu tau. "Ketahuilah, ini bukan mauku" menjadi kata kedua yang kamu ucapkan. Dan masih sama seperti sebelumnya, aku hanya menatapmu tanpa berkata sesuatu. Mataku mulai basah, oleh datangnya air yang berlimpah. Tapi aku menahannya, aku tidak mau terlihat lemah.
Sekarang, menit ke sepuluh tepat didetik dua puluh sembilan. Pramusaji datang membawa pesanan. Menyajikan dimeja kecil kita yang berhias vas berserta mawar merah. Setelah semua sudah tertata, kembalilah pramusaji melanjutkan pekerjaannya. Kitapun memulai menyantapnya, aku dengan 'bismillaah' dan kamu dengan 'berkatilah'. Sungguh dua hal yang berbeda tapi sudah menjadi biasa diantara kita. Menikmati hidangan dengan khidmat, tenang, tanpa suara hanya sesekali terdengar helaan nafas panjang yang ku hirup.
Tepat pada menit ke dua puluh lima, piring kita bersih tak bersisa. Kamu menyeduh teh hangatmu dan aku meminum segelas es coklatku yang kuharap dapat memberi sedikit stimun kebahagiaan pada dukaku. Lima menit kemudian, gelas kita sudah kosong melompong. Mengartikan bahwa badan harus segera berpindah. Kamu memakai kembali ransel coklat kesayanganmu begitupun aku mengaitkan tas selempang merahku.
Kita berjalan keluar melangkah dengan posisimu tepat disebelahku. Berjalan tanpa arah, serasa hampa. Hingga akhirnya kamu menarik tanganku dan berjalan cepat tepat satu langkah didepanku. Sontak ku percepat langkahkahku mengikuti kakimu. Menit mengarah ke angka tiga puluh tiga saat kamu menepikanku di sudut alun alun dan menyuruhku untuk duduk dengan isyarat. Aku duduk dan kamu tetap berdiri, menghadapku. Namun, aku tidak menyangka. Tiba tiba kamu berlutut dihadapanku, memandangku tajam dengan kedua tanganku kamu genggam. Dan kamu mengeluarkan kata ketigamu.
"Sungguh, aku tidak tau. Bagaimana seharusnya kita, aku sungguh tidak tau. Apa jalan keluar dari masalah yang kita anggap hanya sebuah masalah sepele dulu? Aku tidak tau. Bagaimana cara agar diantara kita tidak ada yang terluka atau bisakah hanya aku saja yang terluka? Aku tidak tau." Belum sempat kamu melanjutkan perkataanmu, mengalirlah air mata ketulusan dari mata elangmu. Bukan hanya setetes, dua tetes saja tapi ini lebih. Seperti mobil yang kehilangan rem, terus meluncur.
Dan aku, melihatmu seperti itu sungguh membuatku haru. Air matakupun terjatuh luruh. Semuanya jatuh mengucur begitu saja. Kamu semakin mengeratkan genggamanmu. Mata kita saling beradu. Hingga pada akhirnya kuberanikan mulutku terbuka.
"Aku tau, ini bukan salahmu atau salahku. Tidak ada yang bersalah atas semua masalah kita. Tentang ibadah minggu pagimu atau sholat wajibku. Tidak ada yang salah. Aku mengerti, aku berusaha memahami. Bahwa kita tidak sepatutnya bersama. Maka, sudahi saja." Bibirku bergetar hebat saat kalimat itu aku lontarkan. Kalimat yang akan membuat 1460hari berakhir sia sia.
"Apa harus seperti itu?" Tanyamu, berharap ada option lain yang muncul dariku. Lantas tanpa berfikir lagi, aku segera berucap
"Iya hanya itu saja." Selepas aku berkata seperti itu, wajahmu langsung tertunduk lesu. Merenggangkan genggamanmu lalu melepasnya. Kini kamu mencoba berdiri dengan wajah tetap tertunduk kebawah. Aku pun jua, menegakkan tubuhku menghadapkannya tepat didepanmu hanya saja dengan wajah yang melihat lurus kedepan, yaah ke wajahmu.
Aku menjulurkan tangan kewajahmu, menyapu setiap air mata dukamu. Menegakkan kepalamu membiarkan mata kita beradu. Kamu memandangku dengan khusyu, dengan lembut menyapa kedua mataku. Pandangan itu, yaah pandangan itu membuatku rapuh dan tangisku runtuh. Pandangan yang seolah berkata, “tetaplah tinggal” membuat kuatku tanggal. Kini balada air telah memuara dimata dan tak dapat aku hentikan seketika, tangisku pecah. Kamu.. seraya mengusap tangisku, tidak membiarkan setetespun berjalan melewati pipi.
Malam, suasana semakin kelam. Hingga kamu berkata, “jika ini memang kesempatan terakhirku bersamamu, maka ijinkan aku menghabiskan semalam bersamamu tanpa pengganggu, tanpa jeda dan tanpa air mata pastinya. Setelahnya, ketika ayam jago berkokok esok pagi aku akan bergegas pergi. Melupa tentang semua ini, mengganggapnya tidak pernah terjadi.” Aku tak membalas dengan kata, hanya anggukkan kecil yang kurasa mengisyaratkan kata –iya-.
Kamu mengajakku ketengah alun-alun yang ditumbuhi rumput subur. Menidurkan tubuhmu, membuatku melakukan hal yang sama sepertimu. Sekarang pandangan kita menuju langit hitam, namun terdapat banyak bintang yang benderang. Sekarang, untuk yang terakhir kali…
