Saturday, 12 March 2016

Antara mendung dan langit menghitam



Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot diri.


Sore ini seperti biasanya langit menghitam, merubah suasana menjadi suram. Menjadikan keadaan kelam, seperti halnya hatiku. Menyaksikan seseorang yang begitu aku menaruh harap padanya berboncengan dengan seorang wanita, yang sepertinya bukan sekedar teman biasa. Mengikuti mereka dari belakang, melaju perlahan pasti namun aku tidak mau mendahului. Cukup hanya menyaksikan dari belakang, cukup hanya menjadi penonton kebersamaan mereka saja. Mungkin dengan tambahan beberapa tetesan air mata yang membanjiri kedua pipi bakpo ini. Selebihnya aku membirkan hatiku teriris hingga menjadi potongan halus yang bahkan tak berbentuk.

Wanita itu, merangkulkan kedua tangannya pada pinggang lelakiku (dibaca:mantan). Mereka tertawa bersama, seakan tidak tau dibelakang sana ada hati satu wanita yang menahan rasa amarah. Mereka bercanda riang gembira, seakan tak memperdulikan hati seorang penonton yang seharusnya menjadi peran utama. Mereka, sebut saja dua orang yang sangat jahat. Menari nari indah diatas rasa kekecewaan yang teramat. Ku biarkan saja itu terjadi, seperti yang sudah aku lakuakan sejak tadi, hanya mengati dari jarak yang tak lebih dari 196,85 inci. 

Sampai pada akhirnya mereka berhenti pada sebuah penjual yang menjajahkan bakso beserta kawan kawannya. Saat itulah, aku memberanikan untuk menampakkan diri dihadapan lelakiku (dibaca:seseorang yang jahat). Berada tepat dihadapannya dengan tubuh gemetar dan hati yang gusar. Dia memandang kearahku, yah kearahku. Begitu juga sebaliknya, kupandangi dia dengan senyum indah bak hati  tak terluka. Kita berpandang, dia menampakkan senyum selayang pandang dengan badan tetap pada posisi membonceng wanita barunya. Aku;sama. Terus saja aku memperhatikannya, ke arahnya bukan wanitanya. Dan aku rasa sang wanita tidak tau, tidak mengetahui tentang keberadaan ku sama sekali.

Waktu berjalan sangat lambat kala itu, ketika luka menyambangiku. Ketika puluhan bahkan ratusan pisau tajam seakan menusukiku dan aku malah membiarkan itu. Sesaat setelah dia selesai membeli, dia pun kembali ke tempat dimana mereka bertemu setiap hari. Dia, lelakiku pergi tanpa satu patah katapun yang tertuju padaku. Aku masih sangat mengingat benar. Dia pergi, menjalankan sepedanya dan kemudian kembali bercengkramah dengan wanitanya. Lalu aku? Yaah sama seperti yang sudah aku lakukan sejak tadi, hanya mengamati memperhatikan tampak berusaha menunjukkan perihnya hati.

Saat itu pula, saat aku sudah tidak bisa lagi membendung segala kekecewaan ku putuskan untuk pulang saja. Bukan ke rumah, namun lebih tepatnya pergi dari mereka sejauh jauhnya. Entah kemana. Aku memutuskan untuk pergi. Karena hati memang sudah tidak sanggup lagi. Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot nadi.

Hmm, kalau sudah begini sudah kecewa seperti ini lantas siapa yang akan aku salahkan? Lelakiku (dibaca; pecundang) ? Wanita itu (dibaca; seperti bukan wanita karena dia sangat tega) ? Atau aku? Tentu saja aku tidak bisa menyalahkan lelakiku (dibaca; kelinci berdasi) atau wanita itu (dibaca; yang sudah tertipu dengan semua kebohongan rayuan lelakiku). Maka aku akan menyalahkan aku saja.. Yaah aku yang bersalah atas semua hal yang telah terjadi, bahkan nampak didepan mata.

Aku..


2 comments

harusnya kau buang rasa kecewa itu. tentukan pilihanmu.
masuk untuk menjadi peran utama atau cuma sebagai figuran yang ada di depan mata.

but, like this..

Jika aku diijinkan menentukan pilihan, maka aku tidak akan memilih peran apapun dalam cerita ini. Tidak peran apapun :))