Wednesday, 30 March 2016

-Bukan- Kejutan

 
Aku terhenti… Mati.. Kaku.. Beku..


Sore itu, aku berencana membuat sebuah kejutan kecil untuk kekasih yang ku cinta. Tiba tiba muncul di area kampusnya dan membawakan sekotak makanan yang aku masak sendiri dengan segenap rasa. Tidak lupa aku juga membuatkan es susu coklat kesukaannya. Berharap dia akan terkejut dan senang dengan keberadaan serta kejutan ini.

Setelah selesai menghias dan mengepack makanan minuman, segeralah aku berdandan mempercantik diri karena aku tau aku tidaklah cantik. Mengendaari sepeda kesayangan dengan hati penuh bunga bermekaran. Membayangkan reaksinya nanti, membayangkan wajah terkejutnya atau senyum manis yang tertancap dibibirnya yang indah. Aah, rasanya sudah tidak sabar lagi untuk memberi kejutan kecil ini.
 
Tak beberapa lama, aku tiba didepan sanggar yang menjadi tempat istirahatnya setelah menyesaikan mata kuliah. Aku sengaja tidak mengabarinya, bukankah ini kejutan, kupikir tak perlu mengabari dahulu. Meski aku sudah ada tepat didepan sanggar dengan jarak yang lumayan dekat namun aku tidak segera menghampiri. Kupikir nanti dulu sebentar lagi, aku akan membuat persiapan kecil agar kejutan ini berarti. 

Selesai sudah ku tata kotak makanan dan ku bawa ditangan kanan sedang es susu coklat dalam botol kugenggam lain tangan. Kaki ku bergegas kulangkahkan kedepan, namun baru saja satu langkah, aku terhenti seketika… Mati.. Kaku.. Beku.. Mematung.. Struk Seluruh Badan.. Aku terhenti seketika, mataku  tak berkedip untuk beberapa lama. Aku..

Es Susu Coklat yang aku bawa terjatuh dari tangan tanpa kesengajaan, tutupnya terlepas menjadikan seluruh isi tumpah dan air coklat menggenangi sepatuku. Dingin, kakiku terasa dingin oleh cairan berwarna coklat itu. Sontak saja aku tersadar dari tidur mata terbuka ku. Membersihkan sepatu dan membereskan botol yang terjatuh. Kemudian tidak kusangka ada air yang mulai mengalir dipipi. Butiran air yang sangat jelas, mengalir sangat deras. Membuatku segera terbangun dari posisi jongkok dan kemudian membasuh dengan tisu. Selesai.. Kembali aku melihat ke arah teras sanggar tempat kekasihku bertengger. Dia tidak sendiri, iya.. dia tidak sendiri. Ada satu orang lagi disampingnya, disebelahnya. Seorang wanita berbaju merah muda. Mereka saling menggenggam tangan, erat, kuat. Berpandangan satu sama lain. Bercerita, bercanda dan tertawa penuh bahagia. Mereka… seperti dua orang manusia yang sedang dilanda asmara.

Aku hanya memandang dari tempatku berdiri, tak melangkah sama sekali. Tetap disitu. Tetap dengan air mata yang luruh hingga beberapa waktu. Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri menghapiri. Tak lupa menghapus air mataku terlebih dahulu dan membenahi tampangku. Melangkah pelan, Selangkah.. dua langkah.. beberapa langkah.. hingga akhirnya berada tepat disamping kursi teras tempat dia bersenggama dengan wanitanya. Aku terdiam, bibirku terkunci. Tidak mengucap tidak berucap sepenggal kata sama sekali. Hingga mereka menoleh ke arah tepat aku berdiri. Kekasihku, dia hanya diam sama seperti yang aku lakukan sekarang ini. Menundukkan kepala dan tidak berani mempertemukan mata. Dia membisu. Sedang sang wanita yang bersepatu abu abu, dia menyapaku bertanya menanyakan siapa yang sedang aku cari, dan tujuanku mengapa aku bertamu kesitu. Untuk sekian detik aku terperanga, namun segera aku membuyarkan dengan mengatakan tujuanku kesana adalah untuk menemui seseorang yang bernama.. entah aku meyebut nama siapa, tentunya aku menyebutnya dengan mengasal saja. Seraya dia menjawab bahwa nama yang aku cari tidak ada disitu. Aku segera mengakhiri percakapan pahit itu karena memang sudah tak kuat menahan air mata yang ingin tumpah. Wanita itu melontarkan senyum bahagia kearahku, aku juga namun saja berganti menjadi senyum kesedihan. Kekasihku, tak lupa aku mengucapkan salam kepadanya yang sedari tadi hanya menatap kesana kemari enggap lurus menghadapku. Selese..

Aku membalikkan badan, berlari kencang menuju sepedaku. Mengendarainya dengan penuh air mata. Seperti tau aku sedang berduka, senja datang.. Dia datang, Memancarkan sinar terindahnya, seakan menenangkan. Menuju kebarat dan semakin barat, aku berhenti pada sebuah padang rumput yang ditumbuhi alang alang lebat. Merebahkan tubuhku, mengistirahatkannya. Membirakan air mata tumpah ruah sampai nanti akan berhenti bila sudah waktunya. Senjaku, menemaniku. Kutatap legam legam seraya bercerita tentang kejadian suram yang telah menimpa. Bercerita semua keluh kesah yang membuat hati lelah, tentang luka luka akan kebohongan, tentang sebuah pengkhianatan dan perpisahan yang tidak pernah terbayangkan. Perlahan namun pasti duka ini berangsur angsur menghilang, pergi entah kemana. Sesak didada lenyap seketika. Seperti biasa, senja mampu menghapus semua luka. Senjaku..

Setelah dukaku hilang, senjaku pamit berpulang karena hari mulai petang. Aku, aku pun beranjak pergi meninggalkan duka luka lenyap bersama tenggelamnya senja. Kini, aku tak perlu persetujuan darinya untuk sebuah kata perpisahan. Karena dengan dia bersama wanita lain tetap didepan mata merupakan sebuah jawaban tak langsung. 

Kejutanku kali ini bukanlah untuk dia kekasihku (dibaca;penghianat hebat) melainkan kejutan untuk diriku sendiri. Menyaksikan tepat didepan mata, dia bercumbu dengan seorang wanita. Yaah, dan aku benar benar sangat terkejut dengan kejutanku. Tapi ah sudahlah, biarkan saja. Toh selalu ada senja yang mampu menemaniku tanpa syarat.

Senja, menenangkanku dengan cahaya jingganya yang menyala. Senja..








                                                                                                    

3 comments

jadi ini sebabnya kamu sebut senja, maaf saya baru faham ky :(

bukan kok ky, senja ya senja.
Iyap santai aja :))

berarti kamu juga ngutip dari sisi orang laen juga yaahh, kalo kamu sendiri pernah gak kaya gini ?