Monday, 18 April 2016

Disini, Berakhir.



Sore itu masih dengan langit yang berwarna jingga, menjadikan seperti keranjang yang dipenuhi buah jeruk matang. Aku mengayuh sepeda menuju alun alun kota, tempat kita membuat janji untuk bertatap muka. Pelan namun pasti ku kayuh sepenuh hati dengan perasaan yang berbunga bunga, karena inilah kali pertama kita berjumpa setelah sebulan lamanya terpisah kota. Sengaja aku menggunakan gaun merah, warna yang kamu suka berharap kamu akan senang ketika melihatku nanti. Tak lupa aku memoles wajahku dengan menaburkan serbuk putih yang biasa disebut bedak dan mengoleskan gincu merah pada bibir agar nampak merona. Bahagia, aku sangat bahagia.

Jam sudah menunjukkan pukul empat dengan menit menuju ke angka dua dan aku tidak menyadarinya. Aku terlambat, untuk sesuatu sepenting ini bisa bisanya aku terlambat. Menyadari keterlambatan ini, aku semakin mengencangkan kayuhan agar segera sampai ditempat tujuan. Tepat tiga menit kemudian aku tiba di sudut alun alun, memarkirkan sepeda dan segera menemui sesosok yang aku cinta. Ku langkahkan kaki mengitari alun alun yang cukup luas ini. Mataku tak henti hentinya menyapu setiap sudut yang ada. Mencari cari lelaki kesayanganku. Rindu ini sudah menggebuh gebuh, ingin segera luruh. Namun setelah lama mengitari, melihat kesana kemari tidak  berhasil ku temui sosok lelaki yang menjadi panutan hati. Lelah mencari ku putuskan untuk berhenti. Mendudukkan tubuh ini disamping tanaman mawar tak berduri.

Lima belas menit berlalu, aku masih tetap duduk terpaku. Sesekali berkaca untuk merapikan gincu. Hingga suara langkah sepatu menyadarkanku bahwa kamu tengah berjalan ke arahku. Mendekat dan semakin dekat, sontak saja aku berdiri kala itu. Wajahku memerah bak buah semangka yang baru saja dipanen petani desa. Jantungku berdegup kencang seakan mau tanggal. Entah mengapa, kali ini aku merasa sangat gugup bertemu denganmu. Tidak seperti yang dulu dulu. Tidak seperti yang lalu lalu. Kegugupan ini membuat kakiku kaku, dan membuatku tertahan ditempat. Beberapa kali, wajahku sempat tertunduk. Entah malu entah apa, aku juga tidak tau.

Semakin dekat, langkahmu semakin mendekat. Kini, kamu berada didepanku tepat. Dua langkah dihadapanku. Matamu menatap lurus ke wajahku. Tatapan itu, tatapan yang selalu memberi kehangatan. Tatapan yang selalu aku rindukan.  Tidak ada tatapan seperti itu lagi selain dari mata indahnya. Keadaan hening beberapa saat, yang ada hanya senyuman bahagia dariku dan wajah kaku darimu. Tak seperti biasa, kamu selalu menyubit pipiku tiap kali kita bertemu. Aku tak tau mengapa kamu menampakkan wajah seperti itu. Seakan tak menyimpan rindu, setelah sebulan lamanya kita terpisah jarak dan waktu. Aku tak tau, mengapa wajahmu nampak biasa biasa saja. Tapi ah biarlah, yang terpenting kini aku bahagia, sudah dapat berjumpa. Melihatmu lagi, bersamamu lagi.

Tak lama setelah itu aku memecah keheningan, menyapamu dengan nada sedikit tinggi. Berceloteh panjang lebar sembari senyum senyum sendiri. Mengatakan bahwa aku sangat merindumu, dengan gaya manjaku. Namun ah, ternyata semua tidak merubah keadaan, kamu tetap saja membisu diam seribu bahasa. Aku merasakan keanehan yang tidak biasa terjadi padamu. Segeralah aku berhenti, menghentikan segala aktivitasku, menyelesaikan cerita dan menutup untaian kata rindu yang mendera. Aku diam, sama seperti yang kamu lakukan.

***

Posisi kita tetap sama, berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah. Mata yang saling pandang tak mampu merubah keadaan. Namun aku masih tetap mencoba membuat semua berbeda.  Bukan dengan bicara dan perkataan melainkan dengan tindakan. Sambil mata kita terus berpandang, aku meraih sebelah tanganmu. Mencoba menggenggamnya, memasangkannya dengan tanganku, menjadikannya satu. Seperti yang lalu lalu, seperti yang selalu kamu lakukan dulu. Menggenggam erat tanganku, memasukkan ke sela sela jarimu seakan ingin selalu bersama tak mau pisah. Pada saat yang bersamaan pula, aku melihat seorang wanita berjalan kecil menuju kearah kita. dan kamu yang juga mengetahui itu seketika menarik tanganmu dari genggaman. Menarik paksa tanpa terduga. Sontak saja aku merasa kaget bukan main. Dalam hati timbul berbagai pertanyaan yang belum mendapat jawaban. Bagaimana mungkin dia melepaskan genggaman? Apakah aku membuat sebuah kesalahan? Ada apa dengan semua ini? Mengapa jadi begini? Pertanyaan pertanyaan itu berputar putar mengelilingi fikiran. Hening, keadaan tetap saja hening. Karena aku tak mau menumpahakan semua pertanyaan yang mengganjal.

Yaah benar saja, seorang wanita yang berjalan menuju arah kami sekarang mendaratkan kakinya tepat depanku. Disamping lelakiku tepatnya. Dia membawa dua buah ice cream ditangannya, dengan dua pilihan rasa, coklat dan strawberry. Mengingatkanku pada ice cream favorit kita. aku memandanginya lekat lekat dengan pekat. Namun sepertinya wanita itu tidak menggubris. Dia lantas memberi sebuah ice cream coklat ditangannya pada lelakiku dengan berkata,
“sayang ini ice cram mu”.
Mendengar kata yang keluar dari mulut wanita seketika itu pun aku berhenti bernafas. Mataku membelalak dan dadaku sesak. Seketika itu pula badanku kaku, beku, semua mati. Serasa ada peluru yang baru saja bersarang diotakku. Namun suaramu membuyarkan semua kematianku, kamu membalas perkataan wanita itu dengan nada lembut penuh kasih.

“Makasih sayang.”

Tanganmu seraya mengambil sebuah ice cream coklat yang sejak tadi berada dalam genggaman wanita bertubuh mungil itu.Dan aku, yaah aku mulai melangkah mundur teratur membuat kakiku menjauh darimu. Pelan namun pasti beranjak pergi. Hingga suara wanita berbaju ungu menghentikan langkahku, dia berkata pada lelakiku.

“Dimana teman yang akan kamu kenalkan kepadaku yang? Katanya ketemuan jam empat, kok sampai sekarang belum datang”, suaranya sungguh melengking. Sontak lelaki yang berada didepanku itu melihat ke arahku lagi, mengisyaratkan sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tidak pernah aku ingini, sesuatu yang tidak pernah aku amini.

“Itu.” Ucapnya, mengonfirmasi pertanyaan dari sang wanita. Sekarang wanitanya melihat kearahku, memperhatikan setiap yang ada padaku.

“Dia sudah datang daritadi sewaktu kamu mengantri ice cream.” Tandasnya lelaki yang membuat hatiku mati. Mereka melangkah maju mendekatkan diri pada wanita yang hatinya sudah mati ini. Aku, seperti yang sudah sudah. Mematungkan diri, tidak bereaksi.

“Hai, kenalin aku Vio. Pacarnya Reno. Kamu sahabatnya Reno kan? Salam kenal ya.” Sapa wanita yang seketika itu juga membuat hatiku runtuh. Air mataku hampir jatuh namun selalu aku tahan. Dia menyodorkan tangannya.

Aku mengangguk kecil, mengiyakan setiap perkataan. Sembari menjulurkan tangan untuk membalas jabatannya. Dan tak lupa menyebutkan nama, “Karin.”

Tangan kami saling berjabat. Yaah, aku menjabat tangan kekeasih lelakiku. Tanganku bergetar hebat kala itu dan dia menyadarinya. Hingga akhirnya menanyakan mengapa bisa seperti itu. Namun aku hanya tersenyum layu.

Disudut lain, lelakiku sedari tadi hanya melihat kearah tangan kami yang sedang berjabat. Dia hanya terdiam, membisu seribu Bahasa. Tangan kami saling berjabat, mata kami saling memandang. Semua berlangsung cukup lama, hingga dia menarik tangannya kembali.

Setelah tanganku terlepas, segera aku berlari membelakangi mereka. Melangkahkan kaki cepat secepat kilat tanpa menoleh sekalipun ke arah lelakiku dan wanitanya. Air mata menghujani pipi tanpa henti, menangis hebat sambil tertunduk sedih... Hingga tidak aku sadari dari arah berlawan sedang melaju sebuah mobil klasik berwarna merah marun dengan kecepatan tinggi. Lima detik kemudian tubuhku terhempas, melayang dan jatuh berguling. Mobil itu menabrakku. Darah mengalir hebat di area kepalaku. Baju merah ku kini bertambah merah tercapur oleh darah segar yang keluar dari tubuhku. Bibir yang sudah kudandani dengan gincu berwarna merah cerah kini berganti merah darah. Mataku berat seketika, hanya bisa terbuka sebagian saja. Nafasku tersengal sengal. Banyak orang mberkumpul mengerubungi sebuah badan yang tergeletak ditengah jalan ini.

Lalu ku dengar langkah kaki berlari ke arahku, langkah kaki yang sama saat lelakiku datang. Yaah ternyata memang itu adalah suara langkah kaki lelakiku. Dia datang, menghampiriku, menghampiri tubuh yang sudah tidak berdaya ini. Lelakiku menerobos sekumpulan orang yang tengah bergerumbul, dia mendekatiku, berada tepat disebelahku. Menggendongku dalam peluk hangatnya yang selalu menjadi tempat berlabuh favoritku. Dia memelukku, erat jauh lebih erat dari biasanya. Dan aku sangat menyukainya. Tidak hanya menggendong dan mendekapku, sekarang lelakiku berlari kencang sambil meriakkan kata 'tolong, antar aku ke rumah sakit'. Entah apa yang dilakukannya, padahal aku tidak merasa sakit sekalipun tetapi tetap saja dia mengatakan akan membawaku ke rumah sakit. Sesekali dia mengarah ke wajahku yang telah dipenuhi darah dan mengatakan bahwa aku akan baik baik saja. Aku juga mendengar sayup sayup, dia mengatakan kata maaf karena telah membuatku kecewa dengan menduakan cinta. Seketika senyum manis terkembang di sudut bibirku yang sudah memerah darah. Senyum terakhirku yang juga sebagai pertanda nafas terakhirku.


Aku bahagia, sangat bahagia. Aku ingin tetap dan terus begini. Berada dipelukmu, didekap hangatmu. Aku tidak ingin ini berlalu, selamanya seperti ini saja.