Dia membungkukkan tubuhnya menyerupai gerakan rukuk dalam salat. Napasnya satu-satu, keringat membanjiri tubuhnya, matanya buram terhalang keringat yang jatuh dari kening. Tumitnya bergetar, menahan beban tubuh dan tas punggungnya. Sebentar lagi, sedikit lagi, katanya pada dirinya sendiri, menguatkan dirinya sendiri. Matanya memandang jalur setapak yang menanjak, hatinya sedikit gentar.
Satu tarikan napas panjang diambilnya, dikeluarkan melalui mulut lalu berdiri tegak. Bukan waktunya ragu, bukan waktunya menyerah, katanya lagi. dilangkahkan kaki kanannya, berat, kaki kirinya tak mau kalah, ikut melangkah. Hingga beberapa langkah mencapai ujung jalan setapak, tubuhnya jatuh.
Kaki-kakinya tak kuat lagi menahan beban. Dia tak mau menyerah, merangkak menuju ujung jalan dan ambruk di landaian.
Seorang pria memapahnya, mengambil tas punggungnya. Membantunya duduk bersandar di batu besar. memberinya sebotol air mineral, diteguknya cepat-cepat dan membuatnya tersedak. Pria itu hanya tersenyum melihatnya.
Langit berwarna magenta. Lelah yang ditanggungnya serasa hilang, berganti kebahagiaan. Dia seolah lupa dadanya hampir saja megap-megap kesulitan bernapas. Dia lupa kedua kakinya lecet akibat terjatuh di tanjakan. Senja membuatnya lupa segalanya.
“Baikkan?” tanya pria yang tadi menolongnya.
“Senja selalu membuatku lebih baik dari sebelumnya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Hah?”
“Aku menyukai senja, perasaan tenang mengalir dalam tubuhnya setiap kali melihatnya. Aku berjalan ke banyak tempat, mengumpulkan senja dalam kepalaku, mengabadikannya melalui kamera sakuku. Aku tergila-gila pada senja.”
“Selalu sendiri?”
“Ya. Menghilang seorang diri, berjalan sendiri selalu mudah. tidak perlu berdebat, tidak perlu menunggu. Melelahkan menunggu orang lain.”
“Sesekali kamu harus berbagi senja pada orang terdekatmu agar dia paham artinya senja bagimu dan yang terpenting, ada yang membantumu ketika kamu terjatuh. Kamu boleh pergi, boleh menghilang, tapi akan selalu ada yang mengkhawatirkanmu, meski hanya seorang.”
“Nggak ada yang mengkhawatirkanku.”
“Ada, hanya tak terlihat atau kamu malas melihatnya. Belajar berbagi, tidak hanya senja tapi banyak hal dalam dirimu. Kamu tak selalu kuat.”
Dia malas memikirkan tentang berbagi dan hal-hal lainnya. Dia hanya ingin menikmati senja, menikmati keindahan yang berlangsung sebentar saja. dia akan memikirkannya nanti ketika jubah malam terbentang. Ketika senja telah direnggut malam.
#repost - @BadruAlwahdi
Aku menyukainnya, iya...
