ada hal hal yang dipertemukan tapi tidak untuk dipersatukan.
Katamu dulu itu bukan menjadi penghalang untuk kita bisa bersatu. Katamu dulu jika kita saling bersama pasti semua bisa dilalui dengan mudah. Katamu dulu sebesar apapun halangan yang membentang kamu akan berjuang. Katamu dulu kamu dan aku adalah satu.
Yaah, aku masih sangat mengingat kata-katamu dulu yang harusnya aku tau itu hanya hembusan angin berlalu. Kata-katamu yang selalu jadi alasanku bertahan saat aku sudah kelelahan. Kata yang membuatku tak pantang menyerah meski ujian mendera. Kata yang membuatku semangat saat aku hampir mati sekarat. Kata katamu..
Namun sekarang, aku tersadar. Apalah arti sebuah kata tanpa fakta? Apa arti janji tanpa bukti? dan apa arti kepercayaan jika akhiran penuh penghianatan? Apa.. tak ada artinya bukan.
Tapi, aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu atas segala pengingkaran yang telah kamu lakukan. Tidak bisa, karena memang diantara kita tidak ada yang bersalah. Yang aku sadari saat ini, kita mempunyai perbedaan atas apa yang kita yakini. Iya, dunia kita berbeda.
Marah, sedih, kecewa.. menangis tanpa henti. Mengurung diri kamar seorang diri. Kehilangan itu pasti. Perlahan aku mencoba menerima keadaan bahwasannya kita memang tidak untuk dipersatukan. Minggu pagimu dan Lima Waktuku seharusnya tidak untuk menjadi satu. Tidak..
Semalam adalah malam terberat dalam hidupku. Malam dimana aku melihatmu terakhir kali sebelum akhirnya kamu pergi meninggalkan kota ini karena ingin memperbaiki hati. Dan membiarkan aku sendiri dikota yang penuh cerita kita. Semalam dialun alun kota, menjadi kali terakhirku bisa menatap wajahmu dalam dalam. Semalam di alun alun kota, terakhir tanganku kamu genggam. Alun alun kota, saksi perpisahan kita..
Terlepas dari itu semua, aku menyadari bahwa ada hal hal yang dipertemukan tapi tidak untuk dipersatukan. Ada hal yang disatukan hanya sementara bukan untuk selamanya. Yah.. salah satunya aku dan kamu, kita.
