Tuesday, 5 January 2016

"Pantes ta?"



Ada saatnya seseorang perlu sendiri, menarik diri beberapa lama untuk pergi.


Yaah, kemaren sore aku dikejutkan dengan sebuah kicauan salah seorang ‘sahabat’ yang entah masih menganggapku sahabat atau tidak. Dalam kicauannya dia menjelaskan tentang apa yang dia tengah rasakan sekarang ini. Hmm, aku tidak kuasa untuk menulis ulang perkataannya. Sungguh menusuk, hingga ke dalam tulang belulang. Kata-kata yang menurutku tidak seharusnya dia katakan. Kata-kata yang membuat air mataku menetes begitu saja. Kata-kata yang… ahsyudahlah aku tidak mau mengingatnya lagi.

Pada inti perkataannya, dia mempertanyakan atas semua yang telah dia beri kepadaku. “Semua” disini bukan berarti barang atau uang tetapi waktu, kebersamaan dan ketenangan. Lalu diakhir kalimatnya dia menyematkan pertanyaan ‘Pantes ta?’. Pada kata terakhir inilah yang membuatku merasakan kekecewaan yang terlampau. Pada kata terakhir inilah yang membuat penyesalan atas apa yang aku lakukan selama ini.

Yaah, aku sempat berpikir

 “berarti selama ini kamu tidak melakukannya dengan ikhlas?” hingga kamu mampu berkata seperti itu atas diriku.

“jika memang begitu lantas untuk apa kamu memberikan semua itu kepadaku?”

Aku kira kamu mengerti tentangku, keadaanku pun perasaanku. Ternyata semua itu kesalahan besar. Kamu sama sekali tidak mengerti aku, atau mungkin memang tidak mau mengerti akan kondisiku. Bukankah selama ini kamu juga tau apa yang telah terjadi kepadaku? Bukankah selama ini kamu adalah salah satu saksi hidup perjuanganku? Bukankah selama ini kamu mendengar semua keluh kesah yang kusampaikan padamu? Lantas mengapa kamu bisa dengan mudahnya berkata seperti itu. Mengecewakan…

Satu  kata yang akan aku ingat selalu, “pantes ta?”.

Kamu tak seharusnya seperti itu, bukankah sudah ku jelaskan dalam post Line ku. Oh atau kamu tidak membacanya. Kan sebulan ini kita tak melakukan komunikasi sekalipun. Mungkin kamu tidak menganggap keberadaanku lagi. Aku tidak tau. Yang pasti selama sebulan ini, meski kita tak berkomunikasi aku masih aktif mengunjungi kronologi Line mu, masih melihat koleksi foto Instagrammu, masih menunggu pm pm mu di bbm. Semua itu aku lakukan untuk mengerti kabarmu meski hanya melalu media sosial yang kamu tak akan mengetahuinya.

Kamu mungkin ingin mengetrahui alasanku “mengapa aku seperti ini?”. Kalau iya, maka aku akan menjelaskan. Yaah, aku seperti menjauh dan meninggalkanmu bukan setelah semua jasamu. Tapi, ketahuilah aku tidak bermaksud lari setelah semua jasa yang kamu beri. Aku tak berniat pergi. Aku tak menjauh. Aku tak menjadi KACANG LUPA KULIT seperti yang kamu maksud. Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin merepotkan kamu lebih jauh lagi. Aku tidak ingin menyusahkanmu dengan keinginan-keinginan bodohku. Aku tidak ingin mengajakmu masuk lebih dalam ke dunia ku yang kelam. Aku ingin kamu baik-baik saja. Aku menganggap dengan aku tidak menganggumu untuk sementara waktu keadaanmu akan jauh lebih baik lagi.

Aku mengira kamu mengerti alasan-alasanku, aku mengira kamu memahami apa apa yang aku lakukan sekarang, aku mengira kamu mengerti aku. Aku mengira..

Aah, tetapi aku salah. Aku teramat salah. Kamu tidak seperti yang aku kira. Kecewa? Yaah sangat kecewa. Membaca kata-katamu “pantes ta?” itu adalah sebuah hantaman besar untukku. Sahabat yang sudah aku anggap saudara. Sahabat yang sudah aku anggap seperti keluarga. Tapi kamu mengecewakan. Kalau memang ada unek-unek atau ungkapan dalam hatimu maka langsung saja ungkapkan saja, tidak perlu seperti itu. Jadinya akan seperti ini. Sekarang, aku menjadi enggan untuk sekedar menyapa “hei..” aku takut, takut kamu akan menganggapku kacang lupa kulit lagi. Aku takut, takut merepotkan mu dan nantinya kamu akan berkata “pantes ta?” lagi. Aku teramat takut.

Hmm..
Terimakasih aku ucapkan kepadamu atas semua semua yang sudah kamu lakukan, terimakasih atas semua jasamu padaku, terimakasih sudah menemaniku keadaanku dibawah, terimakasih sudah tetap mendukungku saat aku posisi dibawah sekalipun, terimakasih selalu ada saat aku gila, terimakasih telah meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan ceritaku, terimakasih terimakasih terimakasih untuk sahabat yang sudah aku anggap saudara..

Maaf aku banyak salah.




Surabaya, 05 Januari 2016


Untukmu, yang aku sudah tidak berani menganggu