Tuesday, 21 June 2016

Friday, 10 June 2016

Gadis Pengumpul Senja

Dia membungkukkan tubuhnya menyerupai gerakan rukuk dalam salat. Napasnya satu-satu, keringat membanjiri tubuhnya, matanya buram terhalang keringat yang jatuh dari kening. Tumitnya bergetar, menahan beban tubuh dan tas punggungnya. Sebentar lagi, sedikit lagi, katanya pada dirinya sendiri, menguatkan dirinya sendiri. Matanya memandang jalur setapak yang menanjak, hatinya sedikit gentar.


Satu tarikan napas panjang diambilnya, dikeluarkan melalui mulut lalu berdiri tegak. Bukan waktunya ragu, bukan waktunya menyerah, katanya lagi. dilangkahkan kaki kanannya, berat, kaki kirinya tak mau kalah, ikut melangkah. Hingga beberapa langkah mencapai ujung jalan setapak, tubuhnya jatuh. 

Kaki-kakinya tak kuat lagi menahan beban. Dia tak mau menyerah, merangkak menuju ujung jalan dan ambruk di landaian. 


Seorang pria memapahnya, mengambil tas punggungnya. Membantunya duduk bersandar di batu besar. memberinya sebotol air mineral, diteguknya cepat-cepat dan membuatnya tersedak. Pria itu hanya tersenyum melihatnya. 


Langit berwarna magenta. Lelah yang ditanggungnya serasa hilang, berganti kebahagiaan. Dia seolah lupa dadanya hampir saja megap-megap kesulitan bernapas. Dia lupa kedua kakinya lecet akibat terjatuh di tanjakan. Senja membuatnya lupa segalanya.


“Baikkan?” tanya pria yang tadi menolongnya.


“Senja selalu membuatku lebih baik dari sebelumnya,” jawabnya sambil tersenyum.


“Hah?”


“Aku menyukai senja, perasaan tenang mengalir dalam tubuhnya setiap kali melihatnya. Aku berjalan ke banyak tempat, mengumpulkan senja dalam kepalaku, mengabadikannya melalui kamera sakuku. Aku tergila-gila pada senja.”


“Selalu sendiri?”


“Ya. Menghilang seorang diri, berjalan sendiri selalu mudah. tidak perlu berdebat, tidak perlu menunggu. Melelahkan menunggu orang lain.”


“Sesekali kamu harus berbagi senja pada orang terdekatmu agar dia paham artinya senja bagimu dan yang terpenting, ada yang membantumu ketika kamu terjatuh. Kamu boleh pergi, boleh menghilang, tapi akan selalu ada yang mengkhawatirkanmu, meski hanya seorang.”

“Nggak ada yang mengkhawatirkanku.”


“Ada, hanya tak terlihat atau kamu malas melihatnya. Belajar berbagi, tidak hanya senja tapi banyak hal dalam dirimu. Kamu tak selalu kuat.”


Dia malas memikirkan tentang berbagi dan hal-hal lainnya. Dia hanya ingin menikmati senja, menikmati keindahan yang berlangsung sebentar saja. dia akan memikirkannya nanti ketika jubah malam terbentang. Ketika senja telah direnggut malam.



#repost - @BadruAlwahdi

Aku menyukainnya, iya...

Wednesday, 8 June 2016

Biasakanlah hingga Terbiasa



Perasaan cinta tak pernah bisa dengan mudah untuk dihilangkan, terutama bagi mereka yang sudah memberikan seluruh hatinya pada seseorang yang dia cinta. Perasaan cinta, akan tetap selalu ada pada mereka yang tulus mencintai pasangan meski pun sudah ditinggalkan. Perasaan cinta, butuh waktu lama untuk dimusnahkan, butuh waktu yang tidak bisa dipastikan bagi mereka yang telah menerima pasangan dengan kurang dan lebihnya.

Perasaan cinta, perasaan cinta, perasaan cinta.

Cukup bodoh memang bila terlalu mempercayakan segalanya pada seseorang dengan mengatas namakan cinta. Terlalu bodoh, jika masih bertahan meski sudah dikhianati berkali-kali dengan alasan masih mencintainya. Bukankah semua tau, bahwa pada hakikatnya cinta itu indah, cinta itu bahagia. Lantas untuk apa bertahan dengan menahan kesakitan dengan berlindung pada kata cinta?

Beberapa orang diantara kita memutuskan bertahan, menggenggam erat tangan pasangan meski sudah diingkari berkali keli. Beberapa orang dari kita, sampai rela menjadi yang kedua asal bisa tetap bersama dengan orang yang dia cinta. Beberapa orang hingga mau diduakan dengan alasan menerima apadanya orang yang dia cinta. Bodoh memang, bodoh. Bukankah cinta itu tunggal, cinta itu satu. Lantas jika sudah dibagi kebeberapa hati apakah masih bisa disebut cinta? Cinta adalah dua hati yang saling mencinta, bukan tiga hati atau empat hati bahkan lima hati. Itu bukan cinta, itu pembodohan.

Tapi tidak sepenuhnya orang yang masih bertahan dengan menyongsong tinggi kata cinta adalah bodoh. Mungkin saja mereka terllalu baik hatinya. Mungkin juga mereka masih berfikir terlalu lemah. Mereka tidak bodoh, mereka hanya masih belum menyadari arti sebenarnya dari cinta. Dengan mengiyakan setiap perkataan pasangan, menuruti berbagai macam omongan pasangan, mengorbankan dirinya untuk pasangan yang belum tentu mau berkorban untuk dirinya. Mereka bukan tidak bisa, hanya saja belum siap untuk berpisah sehingga rela melakukan itu semua agar teteap bisa bersama.

Coba pikirkan lagi. Apa yang seperti itu masih bisa disebut cinta? Apa yang seperti itu masih patut untuk dipertahankan? Entahlah, semua kembali pada diri sendiri dan kesiapan hati.


Coba biasakanlah agar bisa terbiasa dengan sendirinya.

Monday, 18 April 2016

Disini, Berakhir.



Sore itu masih dengan langit yang berwarna jingga, menjadikan seperti keranjang yang dipenuhi buah jeruk matang. Aku mengayuh sepeda menuju alun alun kota, tempat kita membuat janji untuk bertatap muka. Pelan namun pasti ku kayuh sepenuh hati dengan perasaan yang berbunga bunga, karena inilah kali pertama kita berjumpa setelah sebulan lamanya terpisah kota. Sengaja aku menggunakan gaun merah, warna yang kamu suka berharap kamu akan senang ketika melihatku nanti. Tak lupa aku memoles wajahku dengan menaburkan serbuk putih yang biasa disebut bedak dan mengoleskan gincu merah pada bibir agar nampak merona. Bahagia, aku sangat bahagia.

Jam sudah menunjukkan pukul empat dengan menit menuju ke angka dua dan aku tidak menyadarinya. Aku terlambat, untuk sesuatu sepenting ini bisa bisanya aku terlambat. Menyadari keterlambatan ini, aku semakin mengencangkan kayuhan agar segera sampai ditempat tujuan. Tepat tiga menit kemudian aku tiba di sudut alun alun, memarkirkan sepeda dan segera menemui sesosok yang aku cinta. Ku langkahkan kaki mengitari alun alun yang cukup luas ini. Mataku tak henti hentinya menyapu setiap sudut yang ada. Mencari cari lelaki kesayanganku. Rindu ini sudah menggebuh gebuh, ingin segera luruh. Namun setelah lama mengitari, melihat kesana kemari tidak  berhasil ku temui sosok lelaki yang menjadi panutan hati. Lelah mencari ku putuskan untuk berhenti. Mendudukkan tubuh ini disamping tanaman mawar tak berduri.

Lima belas menit berlalu, aku masih tetap duduk terpaku. Sesekali berkaca untuk merapikan gincu. Hingga suara langkah sepatu menyadarkanku bahwa kamu tengah berjalan ke arahku. Mendekat dan semakin dekat, sontak saja aku berdiri kala itu. Wajahku memerah bak buah semangka yang baru saja dipanen petani desa. Jantungku berdegup kencang seakan mau tanggal. Entah mengapa, kali ini aku merasa sangat gugup bertemu denganmu. Tidak seperti yang dulu dulu. Tidak seperti yang lalu lalu. Kegugupan ini membuat kakiku kaku, dan membuatku tertahan ditempat. Beberapa kali, wajahku sempat tertunduk. Entah malu entah apa, aku juga tidak tau.

Semakin dekat, langkahmu semakin mendekat. Kini, kamu berada didepanku tepat. Dua langkah dihadapanku. Matamu menatap lurus ke wajahku. Tatapan itu, tatapan yang selalu memberi kehangatan. Tatapan yang selalu aku rindukan.  Tidak ada tatapan seperti itu lagi selain dari mata indahnya. Keadaan hening beberapa saat, yang ada hanya senyuman bahagia dariku dan wajah kaku darimu. Tak seperti biasa, kamu selalu menyubit pipiku tiap kali kita bertemu. Aku tak tau mengapa kamu menampakkan wajah seperti itu. Seakan tak menyimpan rindu, setelah sebulan lamanya kita terpisah jarak dan waktu. Aku tak tau, mengapa wajahmu nampak biasa biasa saja. Tapi ah biarlah, yang terpenting kini aku bahagia, sudah dapat berjumpa. Melihatmu lagi, bersamamu lagi.

Tak lama setelah itu aku memecah keheningan, menyapamu dengan nada sedikit tinggi. Berceloteh panjang lebar sembari senyum senyum sendiri. Mengatakan bahwa aku sangat merindumu, dengan gaya manjaku. Namun ah, ternyata semua tidak merubah keadaan, kamu tetap saja membisu diam seribu bahasa. Aku merasakan keanehan yang tidak biasa terjadi padamu. Segeralah aku berhenti, menghentikan segala aktivitasku, menyelesaikan cerita dan menutup untaian kata rindu yang mendera. Aku diam, sama seperti yang kamu lakukan.

***

Posisi kita tetap sama, berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah. Mata yang saling pandang tak mampu merubah keadaan. Namun aku masih tetap mencoba membuat semua berbeda.  Bukan dengan bicara dan perkataan melainkan dengan tindakan. Sambil mata kita terus berpandang, aku meraih sebelah tanganmu. Mencoba menggenggamnya, memasangkannya dengan tanganku, menjadikannya satu. Seperti yang lalu lalu, seperti yang selalu kamu lakukan dulu. Menggenggam erat tanganku, memasukkan ke sela sela jarimu seakan ingin selalu bersama tak mau pisah. Pada saat yang bersamaan pula, aku melihat seorang wanita berjalan kecil menuju kearah kita. dan kamu yang juga mengetahui itu seketika menarik tanganmu dari genggaman. Menarik paksa tanpa terduga. Sontak saja aku merasa kaget bukan main. Dalam hati timbul berbagai pertanyaan yang belum mendapat jawaban. Bagaimana mungkin dia melepaskan genggaman? Apakah aku membuat sebuah kesalahan? Ada apa dengan semua ini? Mengapa jadi begini? Pertanyaan pertanyaan itu berputar putar mengelilingi fikiran. Hening, keadaan tetap saja hening. Karena aku tak mau menumpahakan semua pertanyaan yang mengganjal.

Yaah benar saja, seorang wanita yang berjalan menuju arah kami sekarang mendaratkan kakinya tepat depanku. Disamping lelakiku tepatnya. Dia membawa dua buah ice cream ditangannya, dengan dua pilihan rasa, coklat dan strawberry. Mengingatkanku pada ice cream favorit kita. aku memandanginya lekat lekat dengan pekat. Namun sepertinya wanita itu tidak menggubris. Dia lantas memberi sebuah ice cream coklat ditangannya pada lelakiku dengan berkata,
“sayang ini ice cram mu”.
Mendengar kata yang keluar dari mulut wanita seketika itu pun aku berhenti bernafas. Mataku membelalak dan dadaku sesak. Seketika itu pula badanku kaku, beku, semua mati. Serasa ada peluru yang baru saja bersarang diotakku. Namun suaramu membuyarkan semua kematianku, kamu membalas perkataan wanita itu dengan nada lembut penuh kasih.

“Makasih sayang.”

Tanganmu seraya mengambil sebuah ice cream coklat yang sejak tadi berada dalam genggaman wanita bertubuh mungil itu.Dan aku, yaah aku mulai melangkah mundur teratur membuat kakiku menjauh darimu. Pelan namun pasti beranjak pergi. Hingga suara wanita berbaju ungu menghentikan langkahku, dia berkata pada lelakiku.

“Dimana teman yang akan kamu kenalkan kepadaku yang? Katanya ketemuan jam empat, kok sampai sekarang belum datang”, suaranya sungguh melengking. Sontak lelaki yang berada didepanku itu melihat ke arahku lagi, mengisyaratkan sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tidak pernah aku ingini, sesuatu yang tidak pernah aku amini.

“Itu.” Ucapnya, mengonfirmasi pertanyaan dari sang wanita. Sekarang wanitanya melihat kearahku, memperhatikan setiap yang ada padaku.

“Dia sudah datang daritadi sewaktu kamu mengantri ice cream.” Tandasnya lelaki yang membuat hatiku mati. Mereka melangkah maju mendekatkan diri pada wanita yang hatinya sudah mati ini. Aku, seperti yang sudah sudah. Mematungkan diri, tidak bereaksi.

“Hai, kenalin aku Vio. Pacarnya Reno. Kamu sahabatnya Reno kan? Salam kenal ya.” Sapa wanita yang seketika itu juga membuat hatiku runtuh. Air mataku hampir jatuh namun selalu aku tahan. Dia menyodorkan tangannya.

Aku mengangguk kecil, mengiyakan setiap perkataan. Sembari menjulurkan tangan untuk membalas jabatannya. Dan tak lupa menyebutkan nama, “Karin.”

Tangan kami saling berjabat. Yaah, aku menjabat tangan kekeasih lelakiku. Tanganku bergetar hebat kala itu dan dia menyadarinya. Hingga akhirnya menanyakan mengapa bisa seperti itu. Namun aku hanya tersenyum layu.

Disudut lain, lelakiku sedari tadi hanya melihat kearah tangan kami yang sedang berjabat. Dia hanya terdiam, membisu seribu Bahasa. Tangan kami saling berjabat, mata kami saling memandang. Semua berlangsung cukup lama, hingga dia menarik tangannya kembali.

Setelah tanganku terlepas, segera aku berlari membelakangi mereka. Melangkahkan kaki cepat secepat kilat tanpa menoleh sekalipun ke arah lelakiku dan wanitanya. Air mata menghujani pipi tanpa henti, menangis hebat sambil tertunduk sedih... Hingga tidak aku sadari dari arah berlawan sedang melaju sebuah mobil klasik berwarna merah marun dengan kecepatan tinggi. Lima detik kemudian tubuhku terhempas, melayang dan jatuh berguling. Mobil itu menabrakku. Darah mengalir hebat di area kepalaku. Baju merah ku kini bertambah merah tercapur oleh darah segar yang keluar dari tubuhku. Bibir yang sudah kudandani dengan gincu berwarna merah cerah kini berganti merah darah. Mataku berat seketika, hanya bisa terbuka sebagian saja. Nafasku tersengal sengal. Banyak orang mberkumpul mengerubungi sebuah badan yang tergeletak ditengah jalan ini.

Lalu ku dengar langkah kaki berlari ke arahku, langkah kaki yang sama saat lelakiku datang. Yaah ternyata memang itu adalah suara langkah kaki lelakiku. Dia datang, menghampiriku, menghampiri tubuh yang sudah tidak berdaya ini. Lelakiku menerobos sekumpulan orang yang tengah bergerumbul, dia mendekatiku, berada tepat disebelahku. Menggendongku dalam peluk hangatnya yang selalu menjadi tempat berlabuh favoritku. Dia memelukku, erat jauh lebih erat dari biasanya. Dan aku sangat menyukainya. Tidak hanya menggendong dan mendekapku, sekarang lelakiku berlari kencang sambil meriakkan kata 'tolong, antar aku ke rumah sakit'. Entah apa yang dilakukannya, padahal aku tidak merasa sakit sekalipun tetapi tetap saja dia mengatakan akan membawaku ke rumah sakit. Sesekali dia mengarah ke wajahku yang telah dipenuhi darah dan mengatakan bahwa aku akan baik baik saja. Aku juga mendengar sayup sayup, dia mengatakan kata maaf karena telah membuatku kecewa dengan menduakan cinta. Seketika senyum manis terkembang di sudut bibirku yang sudah memerah darah. Senyum terakhirku yang juga sebagai pertanda nafas terakhirku.


Aku bahagia, sangat bahagia. Aku ingin tetap dan terus begini. Berada dipelukmu, didekap hangatmu. Aku tidak ingin ini berlalu, selamanya seperti ini saja.

Wednesday, 30 March 2016

-Bukan- Kejutan

 
Aku terhenti… Mati.. Kaku.. Beku..


Sore itu, aku berencana membuat sebuah kejutan kecil untuk kekasih yang ku cinta. Tiba tiba muncul di area kampusnya dan membawakan sekotak makanan yang aku masak sendiri dengan segenap rasa. Tidak lupa aku juga membuatkan es susu coklat kesukaannya. Berharap dia akan terkejut dan senang dengan keberadaan serta kejutan ini.

Setelah selesai menghias dan mengepack makanan minuman, segeralah aku berdandan mempercantik diri karena aku tau aku tidaklah cantik. Mengendaari sepeda kesayangan dengan hati penuh bunga bermekaran. Membayangkan reaksinya nanti, membayangkan wajah terkejutnya atau senyum manis yang tertancap dibibirnya yang indah. Aah, rasanya sudah tidak sabar lagi untuk memberi kejutan kecil ini.
 
Tak beberapa lama, aku tiba didepan sanggar yang menjadi tempat istirahatnya setelah menyesaikan mata kuliah. Aku sengaja tidak mengabarinya, bukankah ini kejutan, kupikir tak perlu mengabari dahulu. Meski aku sudah ada tepat didepan sanggar dengan jarak yang lumayan dekat namun aku tidak segera menghampiri. Kupikir nanti dulu sebentar lagi, aku akan membuat persiapan kecil agar kejutan ini berarti. 

Selesai sudah ku tata kotak makanan dan ku bawa ditangan kanan sedang es susu coklat dalam botol kugenggam lain tangan. Kaki ku bergegas kulangkahkan kedepan, namun baru saja satu langkah, aku terhenti seketika… Mati.. Kaku.. Beku.. Mematung.. Struk Seluruh Badan.. Aku terhenti seketika, mataku  tak berkedip untuk beberapa lama. Aku..

Es Susu Coklat yang aku bawa terjatuh dari tangan tanpa kesengajaan, tutupnya terlepas menjadikan seluruh isi tumpah dan air coklat menggenangi sepatuku. Dingin, kakiku terasa dingin oleh cairan berwarna coklat itu. Sontak saja aku tersadar dari tidur mata terbuka ku. Membersihkan sepatu dan membereskan botol yang terjatuh. Kemudian tidak kusangka ada air yang mulai mengalir dipipi. Butiran air yang sangat jelas, mengalir sangat deras. Membuatku segera terbangun dari posisi jongkok dan kemudian membasuh dengan tisu. Selesai.. Kembali aku melihat ke arah teras sanggar tempat kekasihku bertengger. Dia tidak sendiri, iya.. dia tidak sendiri. Ada satu orang lagi disampingnya, disebelahnya. Seorang wanita berbaju merah muda. Mereka saling menggenggam tangan, erat, kuat. Berpandangan satu sama lain. Bercerita, bercanda dan tertawa penuh bahagia. Mereka… seperti dua orang manusia yang sedang dilanda asmara.

Aku hanya memandang dari tempatku berdiri, tak melangkah sama sekali. Tetap disitu. Tetap dengan air mata yang luruh hingga beberapa waktu. Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri menghapiri. Tak lupa menghapus air mataku terlebih dahulu dan membenahi tampangku. Melangkah pelan, Selangkah.. dua langkah.. beberapa langkah.. hingga akhirnya berada tepat disamping kursi teras tempat dia bersenggama dengan wanitanya. Aku terdiam, bibirku terkunci. Tidak mengucap tidak berucap sepenggal kata sama sekali. Hingga mereka menoleh ke arah tepat aku berdiri. Kekasihku, dia hanya diam sama seperti yang aku lakukan sekarang ini. Menundukkan kepala dan tidak berani mempertemukan mata. Dia membisu. Sedang sang wanita yang bersepatu abu abu, dia menyapaku bertanya menanyakan siapa yang sedang aku cari, dan tujuanku mengapa aku bertamu kesitu. Untuk sekian detik aku terperanga, namun segera aku membuyarkan dengan mengatakan tujuanku kesana adalah untuk menemui seseorang yang bernama.. entah aku meyebut nama siapa, tentunya aku menyebutnya dengan mengasal saja. Seraya dia menjawab bahwa nama yang aku cari tidak ada disitu. Aku segera mengakhiri percakapan pahit itu karena memang sudah tak kuat menahan air mata yang ingin tumpah. Wanita itu melontarkan senyum bahagia kearahku, aku juga namun saja berganti menjadi senyum kesedihan. Kekasihku, tak lupa aku mengucapkan salam kepadanya yang sedari tadi hanya menatap kesana kemari enggap lurus menghadapku. Selese..

Aku membalikkan badan, berlari kencang menuju sepedaku. Mengendarainya dengan penuh air mata. Seperti tau aku sedang berduka, senja datang.. Dia datang, Memancarkan sinar terindahnya, seakan menenangkan. Menuju kebarat dan semakin barat, aku berhenti pada sebuah padang rumput yang ditumbuhi alang alang lebat. Merebahkan tubuhku, mengistirahatkannya. Membirakan air mata tumpah ruah sampai nanti akan berhenti bila sudah waktunya. Senjaku, menemaniku. Kutatap legam legam seraya bercerita tentang kejadian suram yang telah menimpa. Bercerita semua keluh kesah yang membuat hati lelah, tentang luka luka akan kebohongan, tentang sebuah pengkhianatan dan perpisahan yang tidak pernah terbayangkan. Perlahan namun pasti duka ini berangsur angsur menghilang, pergi entah kemana. Sesak didada lenyap seketika. Seperti biasa, senja mampu menghapus semua luka. Senjaku..

Setelah dukaku hilang, senjaku pamit berpulang karena hari mulai petang. Aku, aku pun beranjak pergi meninggalkan duka luka lenyap bersama tenggelamnya senja. Kini, aku tak perlu persetujuan darinya untuk sebuah kata perpisahan. Karena dengan dia bersama wanita lain tetap didepan mata merupakan sebuah jawaban tak langsung. 

Kejutanku kali ini bukanlah untuk dia kekasihku (dibaca;penghianat hebat) melainkan kejutan untuk diriku sendiri. Menyaksikan tepat didepan mata, dia bercumbu dengan seorang wanita. Yaah, dan aku benar benar sangat terkejut dengan kejutanku. Tapi ah sudahlah, biarkan saja. Toh selalu ada senja yang mampu menemaniku tanpa syarat.

Senja, menenangkanku dengan cahaya jingganya yang menyala. Senja..








                                                                                                    

Saturday, 12 March 2016

Jingga Senja



Senja, kau mampu mengubah segala duka.

Aku menyukai senja bahkan mencintainya, setiap senja datang selalu ku sempatkan beberapa waktu untuk memandang. Langit warna jingga, oren menyala. Membuat sebuah pemandangan yang sangat membelalak mata. Bagiku, yaah bagiku saja. Hanya cukup dengan memandanginya sudah kurasa bahagia, merubah wajah lelah menjadi sumringah.

Senja, pernah sekali aku membencinya. Saat orang yang aku cinta mengabadikan sebuah gambar bersama wanita baru dibawah sinarnya. Dan seketika aku marah, membencinya dengan sangat nyata. Membenci sinarnya, membenci kedatangannya, bahkan setiap kali senja datang maka aku bersembunyi, membelakangi bahkan tak muncul sama sekali. Karena kurasa, saat itu senja malah akan mengingatkanku pada peristiwa terperih yang pernah bekas kekasihku beri. 

Namun, perlahan aku tak lagi membencinya. Aku mulai menyukanya lagi, lagi dan lagi. Karena aku sadar, seharusnya bukan senja yang aku benci, seharusnya senja tidak harus aku hindari. Seharusnya senja tidak menjadi pelampiasan rasa kekecewaan terhadap kekasih lamaku. Seharusnya.. Maka mulailah kucintai senja lagi, menikmati sinarnya lagi, berbincang dengannya lagi..

Aku dan Senja, kita..


Antara mendung dan langit menghitam



Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot diri.


Sore ini seperti biasanya langit menghitam, merubah suasana menjadi suram. Menjadikan keadaan kelam, seperti halnya hatiku. Menyaksikan seseorang yang begitu aku menaruh harap padanya berboncengan dengan seorang wanita, yang sepertinya bukan sekedar teman biasa. Mengikuti mereka dari belakang, melaju perlahan pasti namun aku tidak mau mendahului. Cukup hanya menyaksikan dari belakang, cukup hanya menjadi penonton kebersamaan mereka saja. Mungkin dengan tambahan beberapa tetesan air mata yang membanjiri kedua pipi bakpo ini. Selebihnya aku membirkan hatiku teriris hingga menjadi potongan halus yang bahkan tak berbentuk.

Wanita itu, merangkulkan kedua tangannya pada pinggang lelakiku (dibaca:mantan). Mereka tertawa bersama, seakan tidak tau dibelakang sana ada hati satu wanita yang menahan rasa amarah. Mereka bercanda riang gembira, seakan tak memperdulikan hati seorang penonton yang seharusnya menjadi peran utama. Mereka, sebut saja dua orang yang sangat jahat. Menari nari indah diatas rasa kekecewaan yang teramat. Ku biarkan saja itu terjadi, seperti yang sudah aku lakuakan sejak tadi, hanya mengati dari jarak yang tak lebih dari 196,85 inci. 

Sampai pada akhirnya mereka berhenti pada sebuah penjual yang menjajahkan bakso beserta kawan kawannya. Saat itulah, aku memberanikan untuk menampakkan diri dihadapan lelakiku (dibaca:seseorang yang jahat). Berada tepat dihadapannya dengan tubuh gemetar dan hati yang gusar. Dia memandang kearahku, yah kearahku. Begitu juga sebaliknya, kupandangi dia dengan senyum indah bak hati  tak terluka. Kita berpandang, dia menampakkan senyum selayang pandang dengan badan tetap pada posisi membonceng wanita barunya. Aku;sama. Terus saja aku memperhatikannya, ke arahnya bukan wanitanya. Dan aku rasa sang wanita tidak tau, tidak mengetahui tentang keberadaan ku sama sekali.

Waktu berjalan sangat lambat kala itu, ketika luka menyambangiku. Ketika puluhan bahkan ratusan pisau tajam seakan menusukiku dan aku malah membiarkan itu. Sesaat setelah dia selesai membeli, dia pun kembali ke tempat dimana mereka bertemu setiap hari. Dia, lelakiku pergi tanpa satu patah katapun yang tertuju padaku. Aku masih sangat mengingat benar. Dia pergi, menjalankan sepedanya dan kemudian kembali bercengkramah dengan wanitanya. Lalu aku? Yaah sama seperti yang sudah aku lakukan sejak tadi, hanya mengamati memperhatikan tampak berusaha menunjukkan perihnya hati.

Saat itu pula, saat aku sudah tidak bisa lagi membendung segala kekecewaan ku putuskan untuk pulang saja. Bukan ke rumah, namun lebih tepatnya pergi dari mereka sejauh jauhnya. Entah kemana. Aku memutuskan untuk pergi. Karena hati memang sudah tidak sanggup lagi. Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot nadi.

Hmm, kalau sudah begini sudah kecewa seperti ini lantas siapa yang akan aku salahkan? Lelakiku (dibaca; pecundang) ? Wanita itu (dibaca; seperti bukan wanita karena dia sangat tega) ? Atau aku? Tentu saja aku tidak bisa menyalahkan lelakiku (dibaca; kelinci berdasi) atau wanita itu (dibaca; yang sudah tertipu dengan semua kebohongan rayuan lelakiku). Maka aku akan menyalahkan aku saja.. Yaah aku yang bersalah atas semua hal yang telah terjadi, bahkan nampak didepan mata.

Aku..