Monday, 4 January 2016

#1 Semalam saja


Dikota ini, kita mencoba mengistirahatkan tubuh setelah menempuh perjalanan jauh, kamu dengan jaket tebal hitammu dan aku dengan pashmina merah jambuku, sangat kontras. Berjalan melangkahkan kaki pelan mengitari alun-alun, mencari pengganjal perut untuk memuaskan cacing yang sudah cemberut. Berada disampingku, selalu saja itu yang kamu lakukan saat kita sedang berjalan bersama. Katamu dengan berada disampingku kamu merasa lebih tenang, dan melangkah sejajar denganku adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untukmu. Ku amini saja ucapanmu itu, bak doa yang aku panjatkan pada Tuhan yang satu.

Beberapa langkah kedepan, terlihat warung makan bertuliskan menu 'Bebek Dewa' dengan slogan sekali coba pasti akan kembali lagi. Yaah, salah satu yang membuatku tertarik untuk menuju kesana selain karena Bebek adalah kuliner favorit kita berdua adalah slogannya yang membuat terpesona. Tak perlu pikir panjang lagi, tak perlu melontarkan kata 'ajakan' atau 'memusyawarahkan'. Hanya dengan saling mempertemukan kedua mata kita sudah merupakan jawaban. Segeralah bergegas menuju pemuas lapar kita dan kamu tetap berada disampingku tepat disebelahku.

Sesampainya disana, seraya aku memesan dua porsi nasi bebek extra pedas ditambah satu teh hangat kesukaanmu dan segelah es coklat favoritku saat sedang lelah atau saat mood bercanda. Menuju tempat duduk pojok sebelah kanan dengan dua kursi dimeja lalu mendudukinya. Sekarang kita saling berhadapan, namun tak saling berpandangan. Tak ada sepatah kata terucap dari bibir merah jambumu itu, apalagi dari bibirku, kamu tak akan menemukannya. Suasana beku, kaku dan itu terjadi hingga menit ke tujuh. Sampai kamu mulai membuka kata pertamamu, "hey...". Suaramu sangat lirih namun aku dapat mendengarnya dengan jelas, entah kenapa bisa begitu. Sepasang mata elangmu mencoba mengarah ke wajahku, berusaha mempertemukannya dengan mata sayuku.

Aku masih membisu sekalipun mata kita sudah bertemu, mengisyaratkan sesuatu yang harusnya sudah kamu tau. "Ketahuilah, ini bukan mauku" menjadi kata kedua yang kamu ucapkan. Dan masih sama seperti sebelumnya, aku hanya menatapmu tanpa berkata sesuatu. Mataku mulai basah, oleh datangnya air yang berlimpah. Tapi aku menahannya, aku tidak mau terlihat lemah.

Sekarang, menit ke sepuluh tepat didetik dua puluh sembilan. Pramusaji datang membawa pesanan. Menyajikan dimeja kecil kita yang berhias vas berserta mawar merah. Setelah semua sudah tertata, kembalilah pramusaji melanjutkan pekerjaannya. Kitapun memulai menyantapnya, aku dengan 'bismillaah' dan kamu dengan 'berkatilah'. Sungguh dua hal yang berbeda tapi sudah menjadi biasa diantara kita. Menikmati hidangan dengan khidmat, tenang, tanpa suara hanya sesekali terdengar helaan nafas panjang yang ku hirup.

Tepat pada menit ke dua puluh lima, piring kita bersih tak bersisa. Kamu menyeduh teh hangatmu dan aku meminum segelas es coklatku yang kuharap dapat memberi sedikit stimun kebahagiaan pada dukaku. Lima menit kemudian, gelas kita sudah kosong melompong. Mengartikan bahwa badan harus segera berpindah. Kamu memakai kembali ransel coklat kesayanganmu begitupun aku mengaitkan tas selempang merahku.

Kita berjalan keluar melangkah dengan posisimu tepat disebelahku. Berjalan tanpa arah, serasa hampa. Hingga akhirnya kamu menarik tanganku dan berjalan cepat tepat satu langkah didepanku. Sontak ku percepat langkahkahku mengikuti kakimu. Menit mengarah ke angka tiga puluh tiga saat kamu menepikanku di sudut alun alun dan menyuruhku untuk duduk dengan isyarat. Aku duduk dan kamu tetap berdiri, menghadapku. Namun, aku tidak menyangka. Tiba tiba kamu berlutut dihadapanku, memandangku tajam dengan kedua tanganku kamu genggam. Dan kamu mengeluarkan kata ketigamu.
"Sungguh, aku tidak tau. Bagaimana seharusnya kita, aku sungguh tidak tau. Apa jalan keluar dari masalah yang kita anggap hanya sebuah masalah sepele dulu? Aku tidak tau. Bagaimana cara agar diantara kita tidak ada yang terluka atau bisakah hanya aku saja yang terluka? Aku tidak tau." Belum sempat kamu melanjutkan perkataanmu, mengalirlah air mata ketulusan dari mata elangmu. Bukan hanya setetes,  dua tetes saja tapi ini lebih. Seperti mobil yang kehilangan rem, terus meluncur.

Dan aku, melihatmu seperti itu sungguh membuatku haru. Air matakupun terjatuh luruh. Semuanya jatuh mengucur begitu saja. Kamu semakin mengeratkan genggamanmu. Mata kita saling beradu. Hingga pada akhirnya kuberanikan mulutku terbuka.
"Aku tau, ini bukan salahmu atau salahku. Tidak ada yang bersalah atas semua masalah kita. Tentang ibadah minggu pagimu atau sholat wajibku. Tidak ada yang salah. Aku mengerti, aku berusaha memahami. Bahwa kita tidak sepatutnya bersama. Maka, sudahi saja." Bibirku bergetar hebat saat kalimat itu aku lontarkan. Kalimat yang akan membuat 1460hari berakhir sia sia. 
"Apa harus seperti itu?" Tanyamu, berharap ada option lain yang muncul dariku. Lantas tanpa berfikir lagi, aku segera berucap
"Iya hanya itu saja." Selepas aku berkata seperti itu, wajahmu langsung tertunduk lesu. Merenggangkan genggamanmu lalu melepasnya. Kini kamu mencoba berdiri dengan wajah tetap tertunduk kebawah. Aku pun jua, menegakkan tubuhku menghadapkannya tepat didepanmu hanya saja dengan wajah yang melihat lurus kedepan, yaah ke wajahmu.

Aku menjulurkan tangan kewajahmu, menyapu setiap air mata dukamu. Menegakkan kepalamu membiarkan mata kita beradu. Kamu memandangku dengan khusyu, dengan lembut menyapa kedua mataku. Pandangan itu, yaah pandangan itu membuatku rapuh dan tangisku runtuh. Pandangan yang seolah berkata, “tetaplah tinggal” membuat kuatku tanggal. Kini balada air telah memuara dimata dan tak dapat aku hentikan seketika, tangisku pecah. Kamu.. seraya mengusap tangisku, tidak membiarkan setetespun berjalan melewati pipi. 

Malam, suasana semakin kelam. Hingga kamu berkata, “jika ini memang kesempatan terakhirku bersamamu, maka ijinkan aku menghabiskan semalam bersamamu tanpa pengganggu, tanpa jeda dan tanpa air mata pastinya. Setelahnya, ketika ayam jago berkokok esok pagi aku akan bergegas pergi. Melupa tentang semua ini, mengganggapnya tidak pernah terjadi.” Aku tak membalas dengan kata, hanya anggukkan kecil yang kurasa mengisyaratkan kata –iya-.

Kamu mengajakku ketengah alun-alun yang ditumbuhi rumput subur. Menidurkan tubuhmu, membuatku melakukan hal yang sama sepertimu. Sekarang pandangan kita menuju langit hitam, namun terdapat banyak bintang yang benderang. Sekarang, untuk yang terakhir kali…

Gerbong







Mulai pagi ini, aku akan meninggalkan gerbong-gerbong keretaku yang penuh cerita. Gerbong yang terlampau panjang untuk bisa aku bawa ke stasiun berikutnya. Gerbong yang sudah banyak dinaiki duka pun suka, kegagalan dan keberhasilan serta tangis, tawa dan kekecewaan yang mendalam. Gerbong yang membuatku berpikir ulang untuk membawanya ke pemberhentian selanjutnya. Karena membawa semua gerbong yang sudah ada sekarang akan membuatku malah terguling, dan bahkan mungkin tak akan sanggup berjalan lagi.

Maka karena alasan itu, akan aku tinggalkan sebongkah, dua bongkah bahkan semua bongkahan gerbong. Sehingga tak perlu lagi kau merasakan getirnya tangis distasiun sebelum ini, perihnya luka yang bernanah ataupun kekecewaan akan sebuah penghianatan tak berujung. Yaah… aku akan meninggalnya, semua bongkahan gerbang yang membelengguhku dalam kesedihan. Lantas bagaimana dengan bongkahan gerbang kebahagiaan? Apakah akan aku tinggalkan atau ku biarkan. Teruntuk bongkahan kebahagiaan, mungkin aku akan meninggalkannya juga. Semua tawa yang terukir, canda bersama serta kehangatan stasiun lalu akan aku tinggalkan. Bukankah mereka merupakan kenangan akan masa lalu, lantas untuk apa aku mempertahankan sebuah kenangan yang mungkin malah akan menyakitkan?

Seperti itulah. Aku akan hanya membawa sebongkah gerbong kesedihan yang dengannya aku bisa belajar tentang arti bangkit dari sebuah keterpurukan. Aku pun akan membawa sebongkah gerbong kebahagiaan yang dengannya aku bisa belajar tentang lebih menghormati sebuah sajak tawa. Setelahnya, aku akan terus berjalan kedepan menuju stasiun kehidupan.

Thursday, 31 December 2015

2015





Selamat tinggal 2015 - Ku


            Hari ini adalah hari terakhir ditahun 2015, banyak sudah yang telah aku jalani ditahun ini. Canda, tawa, kesedihan, tangisan, kegilaan, dan berbagai macam emosi telah tercipta didalamnya. Tahun ini, tahun yang sangat penuh makna, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang sudah terlewatkan. 2015, awal munculnya sikap dewasa yang benar-benar dewasa. 2015, awal terlepasnya aku dari dia yang tak boleh disebut namanya. 2015, menjadi saksi tentang perjuangan yang sangat melelahkan hingga akhirnya melepaskan. 2015, berawal duka namun kuyakini akan berakhir bahagia.


            2015, sebuah tahun yang membuatku mampu menjadi sosok tangguh meski awalnya rapuh. Kamu mungkin akan pergi, namun ceritaku akan selalu terkenang ditahunmu. Selamat tinggal 2015. . .

Sendu, senja yang tersedu





   "Saat senja dan air matamu menetes luruh, itulah senja yang tersedu."


Kepada pagi yang baru saja membuka matanya, aku berucap agar dia cepat beralih. Bukan mengusir atau menyuruhnya pergi. Tetapi, karena aku tidak sabar lagi bertemu dengan temannya, Senja. Karena aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk bercengkramah dengan Senja, mengaduh tentang luka-luka yang aku terima kemarin lalu, menceritakan tentang kepedihan yang memenuhi hatiku, dan berbicara tentang sakit yang menyesakkan dada membuatku sulit bernafas dengan benar.

Yah, pagipun mengabulkan permintaanku. Dia pergi, menyingsingkan matahari. Membiarkannya tenggelam diufuk barat hingga senja pun datang. Aku bahagia, tak ku sia-siakan waktu. Segera aku keluar menemuinya yang sedang memaparkan warna jingga dilangit luas. Ku dudukkan tubuhku ditepian, lalu menatapnya perlahan sembari menikmati salah satu keagungan Tuhan. Aku menghela nafas panjang sebelum memulai membuka bibirku. Namun, sebelum satu kata terucap ada yang mengalir hebat dipipiku. Setetes yang datang bergerombol, berbentuk air, berasa asin yang kusebut air mata luka. Ku batalkan ucapanku, membiarkan air terjun ini mengalir luruh. Hingga ketika aku siap bercerita, maka akan kutumpahkan semua keluh kesah ini pada Senja.

Waktu berselang hingga aku bisa mengontrol keadaan. Kuhentikan air mata penuh luka ini, membendungnya dengan senyuman yang nampak terpaksa. Hmm... Kepada senja aku bercerita, satu kata, dua patah kata aku dapat menahan air mata. Namun, selanjutnya kubiarkan dia menetes seraya aku bercerita. Aku manangis tersedu. Kata-kata keluar menggebuh dari bibirku tapi sesekali aku berhenti, mengistirahatkan nafas lalu menyambungnya lagi. Senja tetap mendengarkan ceritaku, tanpa mengeluh hingga sampai pada akhir cerita sekalipun. Pada akhir cerita yang sebenarnya belum benar-benar menjadi sebuah akhir dalam perjalananku. Tapi aku harus mengakhirinya dikarenakan senja harus pulang berganti dengan petang. 

Namun tak apalah, dapat berbincang dengan senja walaupun sebentar sudah dapat memudarkan goresan luka dalam dada. Senja, kau menenangkan...

Friday, 7 February 2014

Sebatas Pertemanan


Kita hanya Teman


Hari ini aku ke salah satu sekolah menengah kejuruan yang terkenal di kotaku, SMK Negeri 1 Surabaya. Alasanku mengunnjungi tempat ini adalah untuk mendukung salah seorang teman yang mengikuti Olimpiade Skill. Namanya Faizal Nur Rozi. Dia mengikuti lomba dengan kategori Web Design dan mendapat nomor peserta 13, angka yang disebut sebut sebagai angka keramat. Bukan hanya aku saja yang mengunjungi sekolah bersejarah ini, melainkan teman-teman sekelas yang juga ingin memberi dukungan moril.

Pagi berlalu, aku berangkat di jemput oleh Arindya Ragil, anak tergopoh dikelas. Dia memakai Jaket Biru, Helm Putih, Celana Hitam dengan bentuk pensil, Tas ransel berwarnaCoklat dan Sepatu Hitam. Lalu kami ke sekolah untuk menunggu teman yang lain, Riris Lukitasari, dia mengendarai Beat Injeksi Hitam, Baju Merah, Sweater Hijau, Celana Biru, Sepatu Coklat, Tas Coklat sama Helm Hitam. Selang beberapa lama, dia datang dan kami lalu berangkat. Sesampainya disana, kami tidak tau mau parkir dimana, karena memang ini adalah kunjungan pertama kami di SMKN 1 ini. Dengan bermodal nekat, kamipun memasuki gerbang. Menjalankan motor ke area parkir. Namun seorang security menghentikan kami. Dia bertanya tujuan dan alasan. Kami pun berucap ingin mendukung teman, lambat laun setelah terjadi perbincangan akhirnya diperbolehkan masuk. 

Setelah memarkir sepeda, kami melangkahkan kaki masuk ke arah bangunan dan mencari ruang D104 yang merupakan tempat lomba berlangsung. Namun, karena kami tidak mengetahui dimana letak ruangan tersebut, kami pun berhenti dan bertanya kepada salah satu siswa yang kebetulan lewat. Sewaktu sudah sampai tempatnya ternyata ruangan tersebut tertutup terkuci rapat, hingga kami memutuskan untuk berjalan jalan mengitari kantin sembari mencari makanan pengganjal lapar. Mondar mandir dari ujung ke ujung kantin tapi ternyata tak ada satu pun yang menarik untuk dibeli. Kmsi pun ke lorong sekolah yang ternyata disitu juga menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, ragil membeli segelas milk sedang aku dengana riris tertarik untuk membeli segelas milo dingin. Sesudah membeli, kembalilah ketempat. 

Sesampainya didepan ruangan D104, datanglah Arvin, lutfi sama Dia*yang tidak boleh disebutkan namanya*. Aku sungguh tidak tau bagaimana perasaanku saat itu, antara bahagia, gugup, dan jengkel. Sempat terpikir dalam benakku "Mengapa dia datang kesini? Apa untuk menancapkan luka lagi? Atau sekedar bermaind dengan perasaanku?". Tapi satu statement yang membuatku sadar "Kita hanya teman, kita semua berteman". Yah, statement yang sebenarnya merontokkan hatiku kala itu. Tak lama kemudian Arvin dan Dia*yang tidak boleh disebutkan namanya* pamit entah kemana. Cukup lama mereka pergi, hingga kemudian datang membawa Tommy berserta temannya. Tetapi Dia*yang tidak boleh disebutkan namanya* nya hilang, temannya memberitahu bahwa Dia sedang memarkir sepeda Tommy. Yah memang, sehabis itu Dia kembali. Tak lama, datanglah Petrus. Entah apa yang terjadi disana tadi, ccukup membuatku berolahraga jantung hari ini. Sempet turun hujan namun tak lama reda. Pulangnya kami memutuskan untuk mampir ke KFC DIPONEGORO sekedar membeli Tropicalfloat, lalu pulang.


Surabaya, 12 November 2013

(Me)-Nulis



"Aku tak peduli..."


          Kalau sudah seperti ini, aku bisanya hanya tulis, nulis dan menulis. Entah itu bagus atau jelek. Entah itu masuk akal atau diluar nalar. Entah itu bisa dipahami atau hanya sekedar dimengerti. Aku tidaak peduli, yang terpenting aku menulis, karena menulis adalah duniaku. Dunia yang selama ini bisa mengerti aku. Dunia yang selalu ada bagaimanapun keadaanku. Dunia yang selalu penuh dengan pengertian. Mungkin bagi kalian ini aneh, ini gila. Iya aneh, iya gila. Yah memang gitu. Tapi aku suka menulis, semuanya bisa aku ceritakan disana, dari cerita terindah hingga cerita terperih yang pernah aku alami. Mungkin setiap hari aku menulis, entah satu paragraph atau beberapa paragfraf untuk menceritakan kejadian kejadian yang aku alami hari itu. Agar tidak lupa, agar bisa dikenang. Lalu apabila lagi nganggur nganggur, aku biasa membaca tulisan tulisanku tadi. Rasanya seru, saat membaca cerita bahagia rasanya senang sekali sampai sampai ingin kembali ke masa itu tapi tat kala sudah membaca cerita yang sedih, hmm sudah deh kadang nih air mata menetes sendiri, lari lari maksa inginn keluar dari mata. Kalau sudah gitu biasanya berhenti membaca dulu, nmelanjutkan tangisan, baru nanti mambaca lagi tapi kadang membaca sambil nangis sih. Haha

          Aku suka menulis, menulis apa pun itu. Menulis tentang aku, dia atau mereka. Aku suka. Setiap apa yang terjadi denganku dan mereka selalu menjadi inspirasi. Apalagi setiap yang ada pada dia, jadi inspirasi sekali. Hal kecil yang ada pada dia kadang aku ceritakan melalui tulisan tulisan mungil ini. Meski kalau hanya menulis tidak ada yang memberi komentar, solusi atau kritik saran tapi kalau habis menulis itu rasanya lega. Kayak habis cerita sama sahabat sendiri. Itu bagiku sih, aku tidak tau kalau bagimu, bagi dia, atau bagi meraka. Jadi, semoga aku bisa selalu menulis cerita ceritaku, selalu. Amin.


Surabaya, 12 november 2013

Purnama


Kepada Purnama

Teruntuk Purnamaku, yang entah dimana.
Wahai Purnama, aku merindumu.
Esok, sekarang atau hari lalu.
Aku masih merindumu.
Merindu celotehmu yang lucu.
Merindu tawamu yang menyejukkan kalbu.
Merindu dekapanmu yang menghangatkanku.
Merindu setiap apa yang ada padamu.
Aku merindunya, purnama.
Dimana kita berjalan bersama.
Bergandengan tangan mesra.
Berhenti mengistirahatkan langkah.
Duduk berdua ditaman kota.
Dan kita saling bertatap mata.
Aku merindunya, purnama.

Surabaya, 03 november 2013