Saturday, 16 July 2016
Thursday, 14 July 2016
Mati

Rasanya ingin mati saja, atas
semua yang terjadi sampai detik ini rasanya ingin mati saja. Atas segala luka
dalam hati, duka yang selalu menghampiri diri dan kekecewaan tanpa henti aku
menghaturkan lekaslah datang pada kematian. Untuk segala hal yang telah aku
terima, segenap kesakitan pun pesakitan yang mendera, ribuan tetesan air mata
yang mengalir dengan derasnya. Aku mengucapkan bergegaslah pada kematian. Dan
selalu terucap dalam doa agar semoga disegerakan.
Kematian, salah satu cara agar
terlepas dari segala belenggu duniawi yang semakin hari semakin menjadi.
Kematian menjadi suatu wadah untuk keluar dari jerat kehidupan ini. Kematian…
Semua tau, cepat atau lambat
kematian akan datang dan itu pasti. Tapi mengapa harus menunggu hingga
dimatikan agar mati jika mematikan sendiri jauh lebih pasti. Tak perlu menunggu
nanti, esok atau bahkan lusa lusa. Dengan mematikan, detik itu pula kita
didapati mati.
Kematian.. Dimatikan.. Mematikan.. Mati..
Monday, 27 June 2016
Seperti itu kamu
Dia selalu menyiapkan makanan
lagi sebelum makanan yang berada didalam mulutnya habis. Memesan menu banyak
banyak, lalu menghidangkannya tepat didepan meja. Dan setelah makanan dalam
kunyahan habis, dia akan segera memasukkan lagi makanan yang berada didepannya.
Bahkan sebelum kunyahannya selesai tertelan, tangannya sudah mengambil beberapa
makanan pilihan untuk segera dijejalkan dalam kerongkongan. Begitu seterusnya,
begitu hingga waktu yang tidak tentu. Pun bila perutnya sudah kenyang dia akan
tetap melakukan kegiatan seperti itu. Sungguh tidak habis fikir, bagaimanan
mungkin bisa melakukan hal sedemikian rupa.
Seperti orang itu, seperti kamu
pula. Selalu menyiapkan target baru, hati baru, dan wanita baru untuk menjadi
cadangan ketika akan melepaskan wanita lamamu. Kamu, akan mencari dan memilah
beribu ribu wanita lain yang berada didekatmu untuk dijadikan sandaran ketika
akan melepas wanita lama. Bahkan kamu dapat merangkul dua, dua belas atau dua
puluh wanita dalam satu waktu. Yang sungguh tidak habis fikir dibuatnya. Kamu
mampu berperan ganda didepan para wanita yang sudah berlabel “korban” akan tipu
daya. Selalu berlakon memelas kepada tiap tiap wanita yang kamu temui.
Menyendukan mata, melembutkan ucapan sehingga lawan bicara terjerat dalam
kebohongan. Oh astaga, mereka telah tertipu.
Tunggu saja, tunggu saja hingga
waktunya. Perutmu menggelembung karena terlalu penuh oleh makanan makanan
selama ini. Lalu akan meledak hebat. Dan kamu akan berhenti makan, semoga saja.
Tuesday, 21 June 2016
Friday, 10 June 2016
Gadis Pengumpul Senja
Dia membungkukkan tubuhnya menyerupai gerakan rukuk dalam salat. Napasnya satu-satu, keringat membanjiri tubuhnya, matanya buram terhalang keringat yang jatuh dari kening. Tumitnya bergetar, menahan beban tubuh dan tas punggungnya. Sebentar lagi, sedikit lagi, katanya pada dirinya sendiri, menguatkan dirinya sendiri. Matanya memandang jalur setapak yang menanjak, hatinya sedikit gentar.
Satu tarikan napas panjang diambilnya, dikeluarkan melalui mulut lalu berdiri tegak. Bukan waktunya ragu, bukan waktunya menyerah, katanya lagi. dilangkahkan kaki kanannya, berat, kaki kirinya tak mau kalah, ikut melangkah. Hingga beberapa langkah mencapai ujung jalan setapak, tubuhnya jatuh.
Kaki-kakinya tak kuat lagi menahan beban. Dia tak mau menyerah, merangkak menuju ujung jalan dan ambruk di landaian.
Seorang pria memapahnya, mengambil tas punggungnya. Membantunya duduk bersandar di batu besar. memberinya sebotol air mineral, diteguknya cepat-cepat dan membuatnya tersedak. Pria itu hanya tersenyum melihatnya.
Langit berwarna magenta. Lelah yang ditanggungnya serasa hilang, berganti kebahagiaan. Dia seolah lupa dadanya hampir saja megap-megap kesulitan bernapas. Dia lupa kedua kakinya lecet akibat terjatuh di tanjakan. Senja membuatnya lupa segalanya.
“Baikkan?” tanya pria yang tadi menolongnya.
“Senja selalu membuatku lebih baik dari sebelumnya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Hah?”
“Aku menyukai senja, perasaan tenang mengalir dalam tubuhnya setiap kali melihatnya. Aku berjalan ke banyak tempat, mengumpulkan senja dalam kepalaku, mengabadikannya melalui kamera sakuku. Aku tergila-gila pada senja.”
“Selalu sendiri?”
“Ya. Menghilang seorang diri, berjalan sendiri selalu mudah. tidak perlu berdebat, tidak perlu menunggu. Melelahkan menunggu orang lain.”
“Sesekali kamu harus berbagi senja pada orang terdekatmu agar dia paham artinya senja bagimu dan yang terpenting, ada yang membantumu ketika kamu terjatuh. Kamu boleh pergi, boleh menghilang, tapi akan selalu ada yang mengkhawatirkanmu, meski hanya seorang.”
“Nggak ada yang mengkhawatirkanku.”
“Ada, hanya tak terlihat atau kamu malas melihatnya. Belajar berbagi, tidak hanya senja tapi banyak hal dalam dirimu. Kamu tak selalu kuat.”
Dia malas memikirkan tentang berbagi dan hal-hal lainnya. Dia hanya ingin menikmati senja, menikmati keindahan yang berlangsung sebentar saja. dia akan memikirkannya nanti ketika jubah malam terbentang. Ketika senja telah direnggut malam.
#repost - @BadruAlwahdi
Aku menyukainnya, iya...
Wednesday, 8 June 2016
Biasakanlah hingga Terbiasa
Perasaan cinta tak pernah bisa
dengan mudah untuk dihilangkan, terutama bagi mereka yang sudah memberikan
seluruh hatinya pada seseorang yang dia cinta. Perasaan cinta, akan tetap
selalu ada pada mereka yang tulus mencintai pasangan meski pun sudah ditinggalkan.
Perasaan cinta, butuh waktu lama untuk dimusnahkan, butuh waktu yang tidak bisa
dipastikan bagi mereka yang telah menerima pasangan dengan kurang dan lebihnya.
Perasaan cinta, perasaan cinta,
perasaan cinta.
Cukup bodoh memang bila terlalu
mempercayakan segalanya pada seseorang dengan mengatas namakan cinta. Terlalu bodoh,
jika masih bertahan meski sudah dikhianati berkali-kali dengan alasan masih
mencintainya. Bukankah semua tau, bahwa pada hakikatnya cinta itu indah, cinta
itu bahagia. Lantas untuk apa bertahan dengan menahan kesakitan dengan
berlindung pada kata cinta?
Beberapa orang diantara kita
memutuskan bertahan, menggenggam erat tangan pasangan meski sudah diingkari
berkali keli. Beberapa orang dari kita, sampai rela menjadi yang kedua asal
bisa tetap bersama dengan orang yang dia cinta. Beberapa orang hingga mau
diduakan dengan alasan menerima apadanya orang yang dia cinta. Bodoh memang,
bodoh. Bukankah cinta itu tunggal, cinta itu satu. Lantas jika sudah dibagi
kebeberapa hati apakah masih bisa disebut cinta? Cinta adalah dua hati yang
saling mencinta, bukan tiga hati atau empat hati bahkan lima hati. Itu bukan
cinta, itu pembodohan.
Tapi tidak sepenuhnya orang yang
masih bertahan dengan menyongsong tinggi kata cinta adalah bodoh. Mungkin saja
mereka terllalu baik hatinya. Mungkin juga mereka masih berfikir terlalu lemah.
Mereka tidak bodoh, mereka hanya masih belum menyadari arti sebenarnya dari
cinta. Dengan mengiyakan setiap perkataan pasangan, menuruti berbagai macam
omongan pasangan, mengorbankan dirinya untuk pasangan yang belum tentu mau
berkorban untuk dirinya. Mereka bukan tidak bisa, hanya saja belum siap untuk
berpisah sehingga rela melakukan itu semua agar teteap bisa bersama.
Coba pikirkan lagi. Apa yang
seperti itu masih bisa disebut cinta? Apa yang seperti itu masih patut untuk
dipertahankan? Entahlah, semua kembali pada diri sendiri dan kesiapan hati.
Coba biasakanlah agar bisa
terbiasa dengan sendirinya.
Monday, 18 April 2016
Disini, Berakhir.
Sore
itu masih dengan langit yang berwarna jingga, menjadikan seperti keranjang yang
dipenuhi buah jeruk matang. Aku mengayuh sepeda menuju alun alun kota, tempat
kita membuat janji untuk bertatap muka. Pelan namun pasti ku kayuh sepenuh hati
dengan perasaan yang berbunga bunga, karena inilah kali pertama kita berjumpa
setelah sebulan lamanya terpisah kota. Sengaja aku menggunakan gaun merah,
warna yang kamu suka berharap kamu akan senang ketika melihatku nanti. Tak lupa
aku memoles wajahku dengan menaburkan serbuk putih yang biasa disebut bedak dan
mengoleskan gincu merah pada bibir agar nampak merona. Bahagia, aku sangat
bahagia.
Jam
sudah menunjukkan pukul empat dengan menit menuju ke angka dua dan aku tidak
menyadarinya. Aku terlambat, untuk sesuatu sepenting ini bisa bisanya aku
terlambat. Menyadari keterlambatan ini, aku semakin mengencangkan kayuhan agar
segera sampai ditempat tujuan. Tepat tiga menit kemudian aku tiba di sudut alun
alun, memarkirkan sepeda dan segera menemui sesosok yang aku cinta. Ku
langkahkan kaki mengitari alun alun yang cukup luas ini. Mataku tak henti
hentinya menyapu setiap sudut yang ada. Mencari cari lelaki kesayanganku. Rindu
ini sudah menggebuh gebuh, ingin segera luruh. Namun setelah lama mengitari,
melihat kesana kemari tidak berhasil ku
temui sosok lelaki yang menjadi panutan hati. Lelah mencari ku putuskan untuk
berhenti. Mendudukkan tubuh ini disamping tanaman mawar tak berduri.
Lima
belas menit berlalu, aku masih tetap duduk terpaku. Sesekali berkaca untuk
merapikan gincu. Hingga suara langkah sepatu menyadarkanku bahwa kamu tengah
berjalan ke arahku. Mendekat dan semakin dekat, sontak saja aku berdiri kala
itu. Wajahku memerah bak buah semangka yang baru saja dipanen petani desa.
Jantungku berdegup kencang seakan mau tanggal. Entah mengapa, kali ini aku
merasa sangat gugup bertemu denganmu. Tidak seperti yang dulu dulu. Tidak
seperti yang lalu lalu. Kegugupan ini membuat kakiku kaku, dan membuatku
tertahan ditempat. Beberapa kali, wajahku sempat tertunduk. Entah malu entah
apa, aku juga tidak tau.
Semakin
dekat, langkahmu semakin mendekat. Kini, kamu berada didepanku tepat. Dua
langkah dihadapanku. Matamu menatap lurus ke wajahku. Tatapan itu, tatapan yang
selalu memberi kehangatan. Tatapan yang selalu aku rindukan. Tidak ada tatapan seperti itu lagi selain
dari mata indahnya. Keadaan hening beberapa saat, yang ada hanya senyuman
bahagia dariku dan wajah kaku darimu. Tak seperti biasa, kamu selalu menyubit
pipiku tiap kali kita bertemu. Aku tak tau mengapa kamu menampakkan wajah
seperti itu. Seakan tak menyimpan rindu, setelah sebulan lamanya kita terpisah
jarak dan waktu. Aku tak tau, mengapa wajahmu nampak biasa biasa saja. Tapi ah
biarlah, yang terpenting kini aku bahagia, sudah dapat berjumpa. Melihatmu
lagi, bersamamu lagi.
Tak
lama setelah itu aku memecah keheningan, menyapamu dengan nada sedikit tinggi.
Berceloteh panjang lebar sembari senyum senyum sendiri. Mengatakan bahwa aku
sangat merindumu, dengan gaya manjaku. Namun ah, ternyata semua tidak merubah
keadaan, kamu tetap saja membisu diam seribu bahasa. Aku merasakan keanehan
yang tidak biasa terjadi padamu. Segeralah aku berhenti, menghentikan segala
aktivitasku, menyelesaikan cerita dan menutup untaian kata rindu yang mendera.
Aku diam, sama seperti yang kamu lakukan.
***
Posisi
kita tetap sama, berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah. Mata yang saling
pandang tak mampu merubah keadaan. Namun aku masih tetap mencoba membuat semua
berbeda. Bukan dengan bicara dan
perkataan melainkan dengan tindakan. Sambil mata kita terus berpandang, aku
meraih sebelah tanganmu. Mencoba menggenggamnya, memasangkannya dengan
tanganku, menjadikannya satu. Seperti yang lalu lalu, seperti yang selalu kamu
lakukan dulu. Menggenggam erat tanganku, memasukkan ke sela sela jarimu seakan
ingin selalu bersama tak mau pisah. Pada saat yang bersamaan pula, aku melihat
seorang wanita berjalan kecil menuju kearah kita. dan kamu yang juga mengetahui
itu seketika menarik tanganmu dari genggaman. Menarik paksa tanpa terduga.
Sontak saja aku merasa kaget bukan main. Dalam hati timbul berbagai pertanyaan
yang belum mendapat jawaban. Bagaimana mungkin dia melepaskan genggaman? Apakah
aku membuat sebuah kesalahan? Ada apa dengan semua ini? Mengapa jadi begini?
Pertanyaan pertanyaan itu berputar putar mengelilingi fikiran. Hening, keadaan
tetap saja hening. Karena aku tak mau menumpahakan semua pertanyaan yang
mengganjal.
Yaah
benar saja, seorang wanita yang berjalan menuju arah kami sekarang mendaratkan
kakinya tepat depanku. Disamping lelakiku tepatnya. Dia membawa dua buah ice
cream ditangannya, dengan dua pilihan rasa, coklat dan strawberry.
Mengingatkanku pada ice cream favorit kita. aku memandanginya lekat lekat
dengan pekat. Namun sepertinya wanita itu tidak menggubris. Dia lantas memberi
sebuah ice cream coklat ditangannya pada lelakiku dengan berkata,
“sayang
ini ice cram mu”.
Mendengar
kata yang keluar dari mulut wanita seketika itu pun aku berhenti bernafas.
Mataku membelalak dan dadaku sesak. Seketika itu pula badanku kaku, beku, semua
mati. Serasa ada peluru yang baru saja bersarang diotakku. Namun suaramu
membuyarkan semua kematianku, kamu membalas perkataan wanita itu dengan nada
lembut penuh kasih.
“Makasih
sayang.”
Tanganmu
seraya mengambil sebuah ice cream coklat yang sejak tadi berada dalam genggaman
wanita bertubuh mungil itu.Dan aku, yaah aku mulai melangkah mundur teratur
membuat kakiku menjauh darimu. Pelan namun pasti beranjak pergi. Hingga suara
wanita berbaju ungu menghentikan langkahku, dia berkata pada lelakiku.
“Dimana
teman yang akan kamu kenalkan kepadaku yang? Katanya ketemuan jam empat, kok
sampai sekarang belum datang”, suaranya sungguh melengking. Sontak lelaki yang
berada didepanku itu melihat ke arahku lagi, mengisyaratkan sesuatu akan
terjadi. Sesuatu yang tidak pernah aku ingini, sesuatu yang tidak pernah aku
amini.
“Itu.”
Ucapnya, mengonfirmasi pertanyaan dari sang wanita. Sekarang wanitanya melihat
kearahku, memperhatikan setiap yang ada padaku.
“Dia
sudah datang daritadi sewaktu kamu mengantri ice cream.” Tandasnya lelaki yang
membuat hatiku mati. Mereka melangkah maju mendekatkan diri pada wanita yang
hatinya sudah mati ini. Aku, seperti yang sudah sudah. Mematungkan diri, tidak
bereaksi.
“Hai,
kenalin aku Vio. Pacarnya Reno. Kamu sahabatnya Reno kan? Salam kenal ya.” Sapa
wanita yang seketika itu juga membuat hatiku runtuh. Air mataku hampir jatuh
namun selalu aku tahan. Dia menyodorkan tangannya.
Aku
mengangguk kecil, mengiyakan setiap perkataan. Sembari menjulurkan tangan untuk
membalas jabatannya. Dan tak lupa menyebutkan nama, “Karin.”
Tangan
kami saling berjabat. Yaah, aku menjabat tangan kekeasih lelakiku. Tanganku
bergetar hebat kala itu dan dia menyadarinya. Hingga akhirnya menanyakan mengapa
bisa seperti itu. Namun aku hanya tersenyum layu.
Disudut
lain, lelakiku sedari tadi hanya melihat kearah tangan kami yang sedang
berjabat. Dia hanya terdiam, membisu seribu Bahasa. Tangan kami saling
berjabat, mata kami saling memandang. Semua berlangsung cukup lama, hingga dia
menarik tangannya kembali.
Setelah
tanganku terlepas, segera aku berlari membelakangi mereka. Melangkahkan kaki
cepat secepat kilat tanpa menoleh sekalipun ke arah lelakiku dan wanitanya. Air
mata menghujani pipi tanpa henti, menangis hebat sambil tertunduk sedih...
Hingga tidak aku sadari dari arah berlawan sedang melaju sebuah mobil klasik
berwarna merah marun dengan kecepatan tinggi. Lima detik kemudian tubuhku
terhempas, melayang dan jatuh berguling. Mobil itu menabrakku. Darah mengalir
hebat di area kepalaku. Baju merah ku kini bertambah merah tercapur oleh darah
segar yang keluar dari tubuhku. Bibir yang sudah kudandani dengan gincu
berwarna merah cerah kini berganti merah darah. Mataku berat seketika, hanya
bisa terbuka sebagian saja. Nafasku tersengal sengal. Banyak orang mberkumpul
mengerubungi sebuah badan yang tergeletak ditengah jalan ini.
Lalu
ku dengar langkah kaki berlari ke arahku, langkah kaki yang sama saat lelakiku
datang. Yaah ternyata memang itu adalah suara langkah kaki lelakiku. Dia
datang, menghampiriku, menghampiri tubuh yang sudah tidak berdaya ini. Lelakiku
menerobos sekumpulan orang yang tengah bergerumbul, dia mendekatiku, berada
tepat disebelahku. Menggendongku dalam peluk hangatnya yang selalu menjadi
tempat berlabuh favoritku. Dia memelukku, erat jauh lebih erat dari biasanya.
Dan aku sangat menyukainya. Tidak hanya menggendong dan mendekapku, sekarang
lelakiku berlari kencang sambil meriakkan kata 'tolong, antar aku ke rumah
sakit'. Entah apa yang dilakukannya, padahal aku tidak merasa sakit sekalipun
tetapi tetap saja dia mengatakan akan membawaku ke rumah sakit. Sesekali dia
mengarah ke wajahku yang telah dipenuhi darah dan mengatakan bahwa aku akan
baik baik saja. Aku juga mendengar sayup sayup, dia mengatakan kata maaf karena
telah membuatku kecewa dengan menduakan cinta. Seketika senyum manis terkembang
di sudut bibirku yang sudah memerah darah. Senyum terakhirku yang juga sebagai
pertanda nafas terakhirku.
Aku bahagia, sangat bahagia. Aku ingin tetap dan terus
begini. Berada dipelukmu, didekap hangatmu. Aku tidak ingin ini berlalu,
selamanya seperti ini saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)




