Friday, 11 August 2017

Alam Tidak Seperti Dia

Seperti kemarin, langit masih dengan warna jingganya. Matahari mulai berangsur menghilang tanpa jejak namun tetap sama..  Iya, dia tetap meninggalkan luka seperti luka kemarin. Dan saat itu pula aku masih terjaga dalam duduk ku. Mengayunkan kedua kakiku secara beriringan kedepan dan belakang. Sembari menyaksikan keindahan alam yang teramat luar biasa.

Yaah, kunamai ini senja duka. Kamu pasti bertanya mengapa aku memberi nama seperti itu. Bukan tanpa alasan aku menamaimya seperti itu. Ini karena..  Senja..  Waktu dimana duka ku bermula, senja adalah ketika tangisku pecah hingga sampai detik ini.  Senja adalah ketika aku harus menyaksikan seseorang yang aku sayang pergi dan lebih memilih wanita lain. Dan kamu tau siapa wanita itu? Hmm, aku tidak kuasa untuk Menyebut namanya. Tapi aku akan memberitahumu.. Wanita itu adalah mantan kekasihnya dulu. Iya, dulu sebelum aku. Dulu, sebelum aku dan dia bertemu. Dulu, setahun yang lalu.

Hmm, memang susah untuk dimengerti. Aku sendiri juga tidak tau pasti salah siapa ini.  Salahku, yang terlalu cepat jatuh dalam dekapnya. Salahku yang terlalu menyamankan setiap waktuku bersamanya. Atau mungkin, ini adalah kesalahannya. Salahnya yang membuatku nyaman. Kesalahannya karena telah membuatku menumbuhkan buih buih perasaan yang kusebut cinta.
Aarrgh sudahlah, aku tidak tau pastinya.

Sekarang, biarkan saja mereka berdua bersama.  Bahagia berdua diatas lukaku. Tertawa lebar diatas tangisku yang nanar. Biarkan, biarkan saja toh alam tak akan diam saja. Alam akan mengeluarkan hukumnya, cepat atau lambat dan yang terpenting adalah itu mutlak. Alam tak pernah berdusta tidak seperti dia. 

Thursday, 10 August 2017

Kita Ya Kita Saja

Mulai detik ini mungkin saya tidak akan percaya lagi dengan yang namanya cinta, bukan perkara apa, namun berkali kali dibuat kecewa, lagi lagi dibuat terluka membuat saya jengah.

Perkara mencinta , seharusnya bahagia bukan malah air mata. 
Perkara mencinta saya memang tak bisa biasa saja. 
Perkara cinta saya tak pernah setengah setengah namun tetap saja dijadikan nomor dua. 
Perkara cinta saya berusaha selalu setia namun tetap saja tak pernah menjadi yang pertama.

Diduakan, dikecewakan, dan pengkhianatan sudah sering saya terima.
Ditinggal pada saat sayang sayangnya.. aah rasanya sudah tak terhitung lagi berapa banyak air mata saya yang jatuh membuat basah. 

Perihal cinta, seharusnya hanya ada saya dan kamu saja bukan? tidak ada lagi dia atau dirinya.
Perihal cinta bukankah hanya antara saya dan kamu, tak ada lagi kisah masa lalu, hanya ada kita dan masa depan bukan mantan.
Perihal cinta, saya tidak  bisa memberi toleransi dengan apa yang bernama mantan.

Bukan apa apa, karena bagi saya.. sudah ya sudah, yang lalu biar beralu, maka jika akamu membuat satu pergerakan apapun dengan mantan maka jangan salahkan saya jika saya membuat keputusan yang nantinya akan membuat kita berada di beda jalan. Memang untuk sebagaian orang mantan adalah sebuah makhluk yang.. yasudahlah.. hanya mantan bukan, kenapa dipermasalahkan. tapi tidak dengan saya.

KARENA apa? saya pernah dikecewakan dengan kata "mantannya mantan saya" dan sekarang saya berusaha untuk lebih berhati hati menjaga hati. jika memang masih mencintai mantan makan maafkan jika kamu harus saya tinggalkan.

Kita ya kita saja, jangan ada dia atau dirinya.

Monday, 7 August 2017

Tidak Selalu Sama

Bukankah setiap orang memiliki sikap dan sifat yang berbeda? lalu mengapa kamu mempermasalahkannya. mempermasalahkan setiap sifat yang tidak sejalan dengan sifatmu. mempermasalahan sikap yang tak sama dengan sikapmu. selalu saja mempermasalahkan yang itu itu..

Bukankah setiap manusia sudah dikaruniai sikap dan sifat sendiri sendiri, lalu mengapa tetap seperti ini. Membenci siapapun yang tidak sesuai dengan dirimu. Menghardik siapapun yang tidak sealur dengan mu.

Ketahuilah setiap manusia punya sisi yang berbeda beda, tidak melulu semua harus sama dengan yang kamu mau. tidak semuanya harus sesuai dengan sikapmu, tidak semua seperti sifatmu dan tidak semua harus seperti yang kamu ingini.

Maka cobalah untuk berbesar hati, menghargai setiap jati diri orang lain tanpa perlu menjadikannya sebuah Masalah.

Monday, 18 July 2016

Pantai



Setiap sore saat senja tiba, dia berjalan menyusuri tepian pantai. Melangkahkan kaki tanpa memakai alas kaki. Berjalan kesana kemari hingga pada saatnya senja benar benar nampak sempurna dengan warna oren menyala dia memberhentikan langkah. Berhenti tepat ditengah tengah tepian pantai. Mendudukkan tubuhnya diatas pasir basah karena ulah ombak yang gagah. Lalu melipat kedua kaki didepan dan dirangkulkannya kedua tangan dengan wajah yang tetap mengarah lurus ke laut lepas. Seakan tak mau melewatkan sesuatu.
…

Hembusan angin menyapu wajah, rambut panjang tergurainya pun menari nari indah bak penari salsa yang sedang berdansa. Sesekali karena angin pantai yang berhembus merdu membuat beberapa helai mahkotanya menyeka wajah ayu itu, namun tetap saja dia tidak bergeming. Yaah, dia masih terpaku pada laut lepas dengan tidak menghiraukan apa saja yang terjadi. Deburan ombak yang keras pun tidak mampu merebut perhatiannya. Bahkan saat tubuhnya basah oleh ombak ombak pantai, dia tetap saja duduk dengan santai tanpa menghindar. Dia tetap diam, tetap mengarah ke depan menikmati pertunjukan alam yang begitu indah bernama Senja. Hingga sampai senja berpulang, maka dia pun pulang.

Saturday, 16 July 2016

Thursday, 14 July 2016

Mati



Rasanya ingin mati saja, atas semua yang terjadi sampai detik ini rasanya ingin mati saja. Atas segala luka dalam hati, duka yang selalu menghampiri diri dan kekecewaan tanpa henti aku menghaturkan lekaslah datang pada kematian. Untuk segala hal yang telah aku terima, segenap kesakitan pun pesakitan yang mendera, ribuan tetesan air mata yang mengalir dengan derasnya. Aku mengucapkan bergegaslah pada kematian. Dan selalu terucap dalam doa agar semoga disegerakan.

Kematian, salah satu cara agar terlepas dari segala belenggu duniawi yang semakin hari semakin menjadi. Kematian menjadi suatu wadah untuk keluar dari jerat kehidupan ini. Kematian…

Semua tau, cepat atau lambat kematian akan datang dan itu pasti. Tapi mengapa harus menunggu hingga dimatikan agar mati jika mematikan sendiri jauh lebih pasti. Tak perlu menunggu nanti, esok atau bahkan lusa lusa. Dengan mematikan, detik itu pula kita didapati mati.

 Kematian.. Dimatikan.. Mematikan.. Mati..

Monday, 27 June 2016

Seperti itu kamu

Dia selalu menyiapkan makanan lagi sebelum makanan yang berada didalam mulutnya habis. Memesan menu banyak banyak, lalu menghidangkannya tepat didepan meja. Dan setelah makanan dalam kunyahan habis, dia akan segera memasukkan lagi makanan yang berada didepannya. Bahkan sebelum kunyahannya selesai tertelan, tangannya sudah mengambil beberapa makanan pilihan untuk segera dijejalkan dalam kerongkongan. Begitu seterusnya, begitu hingga waktu yang tidak tentu. Pun bila perutnya sudah kenyang dia akan tetap melakukan kegiatan seperti itu. Sungguh tidak habis fikir, bagaimanan mungkin bisa melakukan hal sedemikian rupa.

Seperti orang itu, seperti kamu pula. Selalu menyiapkan target baru, hati baru, dan wanita baru untuk menjadi cadangan ketika akan melepaskan wanita lamamu. Kamu, akan mencari dan memilah beribu ribu wanita lain yang berada didekatmu untuk dijadikan sandaran ketika akan melepas wanita lama. Bahkan kamu dapat merangkul dua, dua belas atau dua puluh wanita dalam satu waktu. Yang sungguh tidak habis fikir dibuatnya. Kamu mampu berperan ganda didepan para wanita yang sudah berlabel “korban” akan tipu daya. Selalu berlakon memelas kepada tiap tiap wanita yang kamu temui. Menyendukan mata, melembutkan ucapan sehingga lawan bicara terjerat dalam kebohongan. Oh astaga, mereka telah tertipu.


Tunggu saja, tunggu saja hingga waktunya. Perutmu menggelembung karena terlalu penuh oleh makanan makanan selama ini. Lalu akan meledak hebat. Dan kamu akan berhenti makan, semoga saja.

Tuesday, 21 June 2016

Friday, 10 June 2016

Gadis Pengumpul Senja

Dia membungkukkan tubuhnya menyerupai gerakan rukuk dalam salat. Napasnya satu-satu, keringat membanjiri tubuhnya, matanya buram terhalang keringat yang jatuh dari kening. Tumitnya bergetar, menahan beban tubuh dan tas punggungnya. Sebentar lagi, sedikit lagi, katanya pada dirinya sendiri, menguatkan dirinya sendiri. Matanya memandang jalur setapak yang menanjak, hatinya sedikit gentar.


Satu tarikan napas panjang diambilnya, dikeluarkan melalui mulut lalu berdiri tegak. Bukan waktunya ragu, bukan waktunya menyerah, katanya lagi. dilangkahkan kaki kanannya, berat, kaki kirinya tak mau kalah, ikut melangkah. Hingga beberapa langkah mencapai ujung jalan setapak, tubuhnya jatuh. 

Kaki-kakinya tak kuat lagi menahan beban. Dia tak mau menyerah, merangkak menuju ujung jalan dan ambruk di landaian. 


Seorang pria memapahnya, mengambil tas punggungnya. Membantunya duduk bersandar di batu besar. memberinya sebotol air mineral, diteguknya cepat-cepat dan membuatnya tersedak. Pria itu hanya tersenyum melihatnya. 


Langit berwarna magenta. Lelah yang ditanggungnya serasa hilang, berganti kebahagiaan. Dia seolah lupa dadanya hampir saja megap-megap kesulitan bernapas. Dia lupa kedua kakinya lecet akibat terjatuh di tanjakan. Senja membuatnya lupa segalanya.


“Baikkan?” tanya pria yang tadi menolongnya.


“Senja selalu membuatku lebih baik dari sebelumnya,” jawabnya sambil tersenyum.


“Hah?”


“Aku menyukai senja, perasaan tenang mengalir dalam tubuhnya setiap kali melihatnya. Aku berjalan ke banyak tempat, mengumpulkan senja dalam kepalaku, mengabadikannya melalui kamera sakuku. Aku tergila-gila pada senja.”


“Selalu sendiri?”


“Ya. Menghilang seorang diri, berjalan sendiri selalu mudah. tidak perlu berdebat, tidak perlu menunggu. Melelahkan menunggu orang lain.”


“Sesekali kamu harus berbagi senja pada orang terdekatmu agar dia paham artinya senja bagimu dan yang terpenting, ada yang membantumu ketika kamu terjatuh. Kamu boleh pergi, boleh menghilang, tapi akan selalu ada yang mengkhawatirkanmu, meski hanya seorang.”

“Nggak ada yang mengkhawatirkanku.”


“Ada, hanya tak terlihat atau kamu malas melihatnya. Belajar berbagi, tidak hanya senja tapi banyak hal dalam dirimu. Kamu tak selalu kuat.”


Dia malas memikirkan tentang berbagi dan hal-hal lainnya. Dia hanya ingin menikmati senja, menikmati keindahan yang berlangsung sebentar saja. dia akan memikirkannya nanti ketika jubah malam terbentang. Ketika senja telah direnggut malam.



#repost - @BadruAlwahdi

Aku menyukainnya, iya...

Wednesday, 8 June 2016

Biasakanlah hingga Terbiasa



Perasaan cinta tak pernah bisa dengan mudah untuk dihilangkan, terutama bagi mereka yang sudah memberikan seluruh hatinya pada seseorang yang dia cinta. Perasaan cinta, akan tetap selalu ada pada mereka yang tulus mencintai pasangan meski pun sudah ditinggalkan. Perasaan cinta, butuh waktu lama untuk dimusnahkan, butuh waktu yang tidak bisa dipastikan bagi mereka yang telah menerima pasangan dengan kurang dan lebihnya.

Perasaan cinta, perasaan cinta, perasaan cinta.

Cukup bodoh memang bila terlalu mempercayakan segalanya pada seseorang dengan mengatas namakan cinta. Terlalu bodoh, jika masih bertahan meski sudah dikhianati berkali-kali dengan alasan masih mencintainya. Bukankah semua tau, bahwa pada hakikatnya cinta itu indah, cinta itu bahagia. Lantas untuk apa bertahan dengan menahan kesakitan dengan berlindung pada kata cinta?

Beberapa orang diantara kita memutuskan bertahan, menggenggam erat tangan pasangan meski sudah diingkari berkali keli. Beberapa orang dari kita, sampai rela menjadi yang kedua asal bisa tetap bersama dengan orang yang dia cinta. Beberapa orang hingga mau diduakan dengan alasan menerima apadanya orang yang dia cinta. Bodoh memang, bodoh. Bukankah cinta itu tunggal, cinta itu satu. Lantas jika sudah dibagi kebeberapa hati apakah masih bisa disebut cinta? Cinta adalah dua hati yang saling mencinta, bukan tiga hati atau empat hati bahkan lima hati. Itu bukan cinta, itu pembodohan.

Tapi tidak sepenuhnya orang yang masih bertahan dengan menyongsong tinggi kata cinta adalah bodoh. Mungkin saja mereka terllalu baik hatinya. Mungkin juga mereka masih berfikir terlalu lemah. Mereka tidak bodoh, mereka hanya masih belum menyadari arti sebenarnya dari cinta. Dengan mengiyakan setiap perkataan pasangan, menuruti berbagai macam omongan pasangan, mengorbankan dirinya untuk pasangan yang belum tentu mau berkorban untuk dirinya. Mereka bukan tidak bisa, hanya saja belum siap untuk berpisah sehingga rela melakukan itu semua agar teteap bisa bersama.

Coba pikirkan lagi. Apa yang seperti itu masih bisa disebut cinta? Apa yang seperti itu masih patut untuk dipertahankan? Entahlah, semua kembali pada diri sendiri dan kesiapan hati.


Coba biasakanlah agar bisa terbiasa dengan sendirinya.

Monday, 18 April 2016

Disini, Berakhir.



Sore itu masih dengan langit yang berwarna jingga, menjadikan seperti keranjang yang dipenuhi buah jeruk matang. Aku mengayuh sepeda menuju alun alun kota, tempat kita membuat janji untuk bertatap muka. Pelan namun pasti ku kayuh sepenuh hati dengan perasaan yang berbunga bunga, karena inilah kali pertama kita berjumpa setelah sebulan lamanya terpisah kota. Sengaja aku menggunakan gaun merah, warna yang kamu suka berharap kamu akan senang ketika melihatku nanti. Tak lupa aku memoles wajahku dengan menaburkan serbuk putih yang biasa disebut bedak dan mengoleskan gincu merah pada bibir agar nampak merona. Bahagia, aku sangat bahagia.

Jam sudah menunjukkan pukul empat dengan menit menuju ke angka dua dan aku tidak menyadarinya. Aku terlambat, untuk sesuatu sepenting ini bisa bisanya aku terlambat. Menyadari keterlambatan ini, aku semakin mengencangkan kayuhan agar segera sampai ditempat tujuan. Tepat tiga menit kemudian aku tiba di sudut alun alun, memarkirkan sepeda dan segera menemui sesosok yang aku cinta. Ku langkahkan kaki mengitari alun alun yang cukup luas ini. Mataku tak henti hentinya menyapu setiap sudut yang ada. Mencari cari lelaki kesayanganku. Rindu ini sudah menggebuh gebuh, ingin segera luruh. Namun setelah lama mengitari, melihat kesana kemari tidak  berhasil ku temui sosok lelaki yang menjadi panutan hati. Lelah mencari ku putuskan untuk berhenti. Mendudukkan tubuh ini disamping tanaman mawar tak berduri.

Lima belas menit berlalu, aku masih tetap duduk terpaku. Sesekali berkaca untuk merapikan gincu. Hingga suara langkah sepatu menyadarkanku bahwa kamu tengah berjalan ke arahku. Mendekat dan semakin dekat, sontak saja aku berdiri kala itu. Wajahku memerah bak buah semangka yang baru saja dipanen petani desa. Jantungku berdegup kencang seakan mau tanggal. Entah mengapa, kali ini aku merasa sangat gugup bertemu denganmu. Tidak seperti yang dulu dulu. Tidak seperti yang lalu lalu. Kegugupan ini membuat kakiku kaku, dan membuatku tertahan ditempat. Beberapa kali, wajahku sempat tertunduk. Entah malu entah apa, aku juga tidak tau.

Semakin dekat, langkahmu semakin mendekat. Kini, kamu berada didepanku tepat. Dua langkah dihadapanku. Matamu menatap lurus ke wajahku. Tatapan itu, tatapan yang selalu memberi kehangatan. Tatapan yang selalu aku rindukan.  Tidak ada tatapan seperti itu lagi selain dari mata indahnya. Keadaan hening beberapa saat, yang ada hanya senyuman bahagia dariku dan wajah kaku darimu. Tak seperti biasa, kamu selalu menyubit pipiku tiap kali kita bertemu. Aku tak tau mengapa kamu menampakkan wajah seperti itu. Seakan tak menyimpan rindu, setelah sebulan lamanya kita terpisah jarak dan waktu. Aku tak tau, mengapa wajahmu nampak biasa biasa saja. Tapi ah biarlah, yang terpenting kini aku bahagia, sudah dapat berjumpa. Melihatmu lagi, bersamamu lagi.

Tak lama setelah itu aku memecah keheningan, menyapamu dengan nada sedikit tinggi. Berceloteh panjang lebar sembari senyum senyum sendiri. Mengatakan bahwa aku sangat merindumu, dengan gaya manjaku. Namun ah, ternyata semua tidak merubah keadaan, kamu tetap saja membisu diam seribu bahasa. Aku merasakan keanehan yang tidak biasa terjadi padamu. Segeralah aku berhenti, menghentikan segala aktivitasku, menyelesaikan cerita dan menutup untaian kata rindu yang mendera. Aku diam, sama seperti yang kamu lakukan.

***

Posisi kita tetap sama, berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah. Mata yang saling pandang tak mampu merubah keadaan. Namun aku masih tetap mencoba membuat semua berbeda.  Bukan dengan bicara dan perkataan melainkan dengan tindakan. Sambil mata kita terus berpandang, aku meraih sebelah tanganmu. Mencoba menggenggamnya, memasangkannya dengan tanganku, menjadikannya satu. Seperti yang lalu lalu, seperti yang selalu kamu lakukan dulu. Menggenggam erat tanganku, memasukkan ke sela sela jarimu seakan ingin selalu bersama tak mau pisah. Pada saat yang bersamaan pula, aku melihat seorang wanita berjalan kecil menuju kearah kita. dan kamu yang juga mengetahui itu seketika menarik tanganmu dari genggaman. Menarik paksa tanpa terduga. Sontak saja aku merasa kaget bukan main. Dalam hati timbul berbagai pertanyaan yang belum mendapat jawaban. Bagaimana mungkin dia melepaskan genggaman? Apakah aku membuat sebuah kesalahan? Ada apa dengan semua ini? Mengapa jadi begini? Pertanyaan pertanyaan itu berputar putar mengelilingi fikiran. Hening, keadaan tetap saja hening. Karena aku tak mau menumpahakan semua pertanyaan yang mengganjal.

Yaah benar saja, seorang wanita yang berjalan menuju arah kami sekarang mendaratkan kakinya tepat depanku. Disamping lelakiku tepatnya. Dia membawa dua buah ice cream ditangannya, dengan dua pilihan rasa, coklat dan strawberry. Mengingatkanku pada ice cream favorit kita. aku memandanginya lekat lekat dengan pekat. Namun sepertinya wanita itu tidak menggubris. Dia lantas memberi sebuah ice cream coklat ditangannya pada lelakiku dengan berkata,
“sayang ini ice cram mu”.
Mendengar kata yang keluar dari mulut wanita seketika itu pun aku berhenti bernafas. Mataku membelalak dan dadaku sesak. Seketika itu pula badanku kaku, beku, semua mati. Serasa ada peluru yang baru saja bersarang diotakku. Namun suaramu membuyarkan semua kematianku, kamu membalas perkataan wanita itu dengan nada lembut penuh kasih.

“Makasih sayang.”

Tanganmu seraya mengambil sebuah ice cream coklat yang sejak tadi berada dalam genggaman wanita bertubuh mungil itu.Dan aku, yaah aku mulai melangkah mundur teratur membuat kakiku menjauh darimu. Pelan namun pasti beranjak pergi. Hingga suara wanita berbaju ungu menghentikan langkahku, dia berkata pada lelakiku.

“Dimana teman yang akan kamu kenalkan kepadaku yang? Katanya ketemuan jam empat, kok sampai sekarang belum datang”, suaranya sungguh melengking. Sontak lelaki yang berada didepanku itu melihat ke arahku lagi, mengisyaratkan sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tidak pernah aku ingini, sesuatu yang tidak pernah aku amini.

“Itu.” Ucapnya, mengonfirmasi pertanyaan dari sang wanita. Sekarang wanitanya melihat kearahku, memperhatikan setiap yang ada padaku.

“Dia sudah datang daritadi sewaktu kamu mengantri ice cream.” Tandasnya lelaki yang membuat hatiku mati. Mereka melangkah maju mendekatkan diri pada wanita yang hatinya sudah mati ini. Aku, seperti yang sudah sudah. Mematungkan diri, tidak bereaksi.

“Hai, kenalin aku Vio. Pacarnya Reno. Kamu sahabatnya Reno kan? Salam kenal ya.” Sapa wanita yang seketika itu juga membuat hatiku runtuh. Air mataku hampir jatuh namun selalu aku tahan. Dia menyodorkan tangannya.

Aku mengangguk kecil, mengiyakan setiap perkataan. Sembari menjulurkan tangan untuk membalas jabatannya. Dan tak lupa menyebutkan nama, “Karin.”

Tangan kami saling berjabat. Yaah, aku menjabat tangan kekeasih lelakiku. Tanganku bergetar hebat kala itu dan dia menyadarinya. Hingga akhirnya menanyakan mengapa bisa seperti itu. Namun aku hanya tersenyum layu.

Disudut lain, lelakiku sedari tadi hanya melihat kearah tangan kami yang sedang berjabat. Dia hanya terdiam, membisu seribu Bahasa. Tangan kami saling berjabat, mata kami saling memandang. Semua berlangsung cukup lama, hingga dia menarik tangannya kembali.

Setelah tanganku terlepas, segera aku berlari membelakangi mereka. Melangkahkan kaki cepat secepat kilat tanpa menoleh sekalipun ke arah lelakiku dan wanitanya. Air mata menghujani pipi tanpa henti, menangis hebat sambil tertunduk sedih... Hingga tidak aku sadari dari arah berlawan sedang melaju sebuah mobil klasik berwarna merah marun dengan kecepatan tinggi. Lima detik kemudian tubuhku terhempas, melayang dan jatuh berguling. Mobil itu menabrakku. Darah mengalir hebat di area kepalaku. Baju merah ku kini bertambah merah tercapur oleh darah segar yang keluar dari tubuhku. Bibir yang sudah kudandani dengan gincu berwarna merah cerah kini berganti merah darah. Mataku berat seketika, hanya bisa terbuka sebagian saja. Nafasku tersengal sengal. Banyak orang mberkumpul mengerubungi sebuah badan yang tergeletak ditengah jalan ini.

Lalu ku dengar langkah kaki berlari ke arahku, langkah kaki yang sama saat lelakiku datang. Yaah ternyata memang itu adalah suara langkah kaki lelakiku. Dia datang, menghampiriku, menghampiri tubuh yang sudah tidak berdaya ini. Lelakiku menerobos sekumpulan orang yang tengah bergerumbul, dia mendekatiku, berada tepat disebelahku. Menggendongku dalam peluk hangatnya yang selalu menjadi tempat berlabuh favoritku. Dia memelukku, erat jauh lebih erat dari biasanya. Dan aku sangat menyukainya. Tidak hanya menggendong dan mendekapku, sekarang lelakiku berlari kencang sambil meriakkan kata 'tolong, antar aku ke rumah sakit'. Entah apa yang dilakukannya, padahal aku tidak merasa sakit sekalipun tetapi tetap saja dia mengatakan akan membawaku ke rumah sakit. Sesekali dia mengarah ke wajahku yang telah dipenuhi darah dan mengatakan bahwa aku akan baik baik saja. Aku juga mendengar sayup sayup, dia mengatakan kata maaf karena telah membuatku kecewa dengan menduakan cinta. Seketika senyum manis terkembang di sudut bibirku yang sudah memerah darah. Senyum terakhirku yang juga sebagai pertanda nafas terakhirku.


Aku bahagia, sangat bahagia. Aku ingin tetap dan terus begini. Berada dipelukmu, didekap hangatmu. Aku tidak ingin ini berlalu, selamanya seperti ini saja.

Wednesday, 30 March 2016

-Bukan- Kejutan

 
Aku terhenti… Mati.. Kaku.. Beku..


Sore itu, aku berencana membuat sebuah kejutan kecil untuk kekasih yang ku cinta. Tiba tiba muncul di area kampusnya dan membawakan sekotak makanan yang aku masak sendiri dengan segenap rasa. Tidak lupa aku juga membuatkan es susu coklat kesukaannya. Berharap dia akan terkejut dan senang dengan keberadaan serta kejutan ini.

Setelah selesai menghias dan mengepack makanan minuman, segeralah aku berdandan mempercantik diri karena aku tau aku tidaklah cantik. Mengendaari sepeda kesayangan dengan hati penuh bunga bermekaran. Membayangkan reaksinya nanti, membayangkan wajah terkejutnya atau senyum manis yang tertancap dibibirnya yang indah. Aah, rasanya sudah tidak sabar lagi untuk memberi kejutan kecil ini.
 
Tak beberapa lama, aku tiba didepan sanggar yang menjadi tempat istirahatnya setelah menyesaikan mata kuliah. Aku sengaja tidak mengabarinya, bukankah ini kejutan, kupikir tak perlu mengabari dahulu. Meski aku sudah ada tepat didepan sanggar dengan jarak yang lumayan dekat namun aku tidak segera menghampiri. Kupikir nanti dulu sebentar lagi, aku akan membuat persiapan kecil agar kejutan ini berarti. 

Selesai sudah ku tata kotak makanan dan ku bawa ditangan kanan sedang es susu coklat dalam botol kugenggam lain tangan. Kaki ku bergegas kulangkahkan kedepan, namun baru saja satu langkah, aku terhenti seketika… Mati.. Kaku.. Beku.. Mematung.. Struk Seluruh Badan.. Aku terhenti seketika, mataku  tak berkedip untuk beberapa lama. Aku..

Es Susu Coklat yang aku bawa terjatuh dari tangan tanpa kesengajaan, tutupnya terlepas menjadikan seluruh isi tumpah dan air coklat menggenangi sepatuku. Dingin, kakiku terasa dingin oleh cairan berwarna coklat itu. Sontak saja aku tersadar dari tidur mata terbuka ku. Membersihkan sepatu dan membereskan botol yang terjatuh. Kemudian tidak kusangka ada air yang mulai mengalir dipipi. Butiran air yang sangat jelas, mengalir sangat deras. Membuatku segera terbangun dari posisi jongkok dan kemudian membasuh dengan tisu. Selesai.. Kembali aku melihat ke arah teras sanggar tempat kekasihku bertengger. Dia tidak sendiri, iya.. dia tidak sendiri. Ada satu orang lagi disampingnya, disebelahnya. Seorang wanita berbaju merah muda. Mereka saling menggenggam tangan, erat, kuat. Berpandangan satu sama lain. Bercerita, bercanda dan tertawa penuh bahagia. Mereka… seperti dua orang manusia yang sedang dilanda asmara.

Aku hanya memandang dari tempatku berdiri, tak melangkah sama sekali. Tetap disitu. Tetap dengan air mata yang luruh hingga beberapa waktu. Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri menghapiri. Tak lupa menghapus air mataku terlebih dahulu dan membenahi tampangku. Melangkah pelan, Selangkah.. dua langkah.. beberapa langkah.. hingga akhirnya berada tepat disamping kursi teras tempat dia bersenggama dengan wanitanya. Aku terdiam, bibirku terkunci. Tidak mengucap tidak berucap sepenggal kata sama sekali. Hingga mereka menoleh ke arah tepat aku berdiri. Kekasihku, dia hanya diam sama seperti yang aku lakukan sekarang ini. Menundukkan kepala dan tidak berani mempertemukan mata. Dia membisu. Sedang sang wanita yang bersepatu abu abu, dia menyapaku bertanya menanyakan siapa yang sedang aku cari, dan tujuanku mengapa aku bertamu kesitu. Untuk sekian detik aku terperanga, namun segera aku membuyarkan dengan mengatakan tujuanku kesana adalah untuk menemui seseorang yang bernama.. entah aku meyebut nama siapa, tentunya aku menyebutnya dengan mengasal saja. Seraya dia menjawab bahwa nama yang aku cari tidak ada disitu. Aku segera mengakhiri percakapan pahit itu karena memang sudah tak kuat menahan air mata yang ingin tumpah. Wanita itu melontarkan senyum bahagia kearahku, aku juga namun saja berganti menjadi senyum kesedihan. Kekasihku, tak lupa aku mengucapkan salam kepadanya yang sedari tadi hanya menatap kesana kemari enggap lurus menghadapku. Selese..

Aku membalikkan badan, berlari kencang menuju sepedaku. Mengendarainya dengan penuh air mata. Seperti tau aku sedang berduka, senja datang.. Dia datang, Memancarkan sinar terindahnya, seakan menenangkan. Menuju kebarat dan semakin barat, aku berhenti pada sebuah padang rumput yang ditumbuhi alang alang lebat. Merebahkan tubuhku, mengistirahatkannya. Membirakan air mata tumpah ruah sampai nanti akan berhenti bila sudah waktunya. Senjaku, menemaniku. Kutatap legam legam seraya bercerita tentang kejadian suram yang telah menimpa. Bercerita semua keluh kesah yang membuat hati lelah, tentang luka luka akan kebohongan, tentang sebuah pengkhianatan dan perpisahan yang tidak pernah terbayangkan. Perlahan namun pasti duka ini berangsur angsur menghilang, pergi entah kemana. Sesak didada lenyap seketika. Seperti biasa, senja mampu menghapus semua luka. Senjaku..

Setelah dukaku hilang, senjaku pamit berpulang karena hari mulai petang. Aku, aku pun beranjak pergi meninggalkan duka luka lenyap bersama tenggelamnya senja. Kini, aku tak perlu persetujuan darinya untuk sebuah kata perpisahan. Karena dengan dia bersama wanita lain tetap didepan mata merupakan sebuah jawaban tak langsung. 

Kejutanku kali ini bukanlah untuk dia kekasihku (dibaca;penghianat hebat) melainkan kejutan untuk diriku sendiri. Menyaksikan tepat didepan mata, dia bercumbu dengan seorang wanita. Yaah, dan aku benar benar sangat terkejut dengan kejutanku. Tapi ah sudahlah, biarkan saja. Toh selalu ada senja yang mampu menemaniku tanpa syarat.

Senja, menenangkanku dengan cahaya jingganya yang menyala. Senja..








                                                                                                    

Saturday, 12 March 2016

Jingga Senja



Senja, kau mampu mengubah segala duka.

Aku menyukai senja bahkan mencintainya, setiap senja datang selalu ku sempatkan beberapa waktu untuk memandang. Langit warna jingga, oren menyala. Membuat sebuah pemandangan yang sangat membelalak mata. Bagiku, yaah bagiku saja. Hanya cukup dengan memandanginya sudah kurasa bahagia, merubah wajah lelah menjadi sumringah.

Senja, pernah sekali aku membencinya. Saat orang yang aku cinta mengabadikan sebuah gambar bersama wanita baru dibawah sinarnya. Dan seketika aku marah, membencinya dengan sangat nyata. Membenci sinarnya, membenci kedatangannya, bahkan setiap kali senja datang maka aku bersembunyi, membelakangi bahkan tak muncul sama sekali. Karena kurasa, saat itu senja malah akan mengingatkanku pada peristiwa terperih yang pernah bekas kekasihku beri. 

Namun, perlahan aku tak lagi membencinya. Aku mulai menyukanya lagi, lagi dan lagi. Karena aku sadar, seharusnya bukan senja yang aku benci, seharusnya senja tidak harus aku hindari. Seharusnya senja tidak menjadi pelampiasan rasa kekecewaan terhadap kekasih lamaku. Seharusnya.. Maka mulailah kucintai senja lagi, menikmati sinarnya lagi, berbincang dengannya lagi..

Aku dan Senja, kita..


Antara mendung dan langit menghitam



Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot diri.


Sore ini seperti biasanya langit menghitam, merubah suasana menjadi suram. Menjadikan keadaan kelam, seperti halnya hatiku. Menyaksikan seseorang yang begitu aku menaruh harap padanya berboncengan dengan seorang wanita, yang sepertinya bukan sekedar teman biasa. Mengikuti mereka dari belakang, melaju perlahan pasti namun aku tidak mau mendahului. Cukup hanya menyaksikan dari belakang, cukup hanya menjadi penonton kebersamaan mereka saja. Mungkin dengan tambahan beberapa tetesan air mata yang membanjiri kedua pipi bakpo ini. Selebihnya aku membirkan hatiku teriris hingga menjadi potongan halus yang bahkan tak berbentuk.

Wanita itu, merangkulkan kedua tangannya pada pinggang lelakiku (dibaca:mantan). Mereka tertawa bersama, seakan tidak tau dibelakang sana ada hati satu wanita yang menahan rasa amarah. Mereka bercanda riang gembira, seakan tak memperdulikan hati seorang penonton yang seharusnya menjadi peran utama. Mereka, sebut saja dua orang yang sangat jahat. Menari nari indah diatas rasa kekecewaan yang teramat. Ku biarkan saja itu terjadi, seperti yang sudah aku lakuakan sejak tadi, hanya mengati dari jarak yang tak lebih dari 196,85 inci. 

Sampai pada akhirnya mereka berhenti pada sebuah penjual yang menjajahkan bakso beserta kawan kawannya. Saat itulah, aku memberanikan untuk menampakkan diri dihadapan lelakiku (dibaca:seseorang yang jahat). Berada tepat dihadapannya dengan tubuh gemetar dan hati yang gusar. Dia memandang kearahku, yah kearahku. Begitu juga sebaliknya, kupandangi dia dengan senyum indah bak hati  tak terluka. Kita berpandang, dia menampakkan senyum selayang pandang dengan badan tetap pada posisi membonceng wanita barunya. Aku;sama. Terus saja aku memperhatikannya, ke arahnya bukan wanitanya. Dan aku rasa sang wanita tidak tau, tidak mengetahui tentang keberadaan ku sama sekali.

Waktu berjalan sangat lambat kala itu, ketika luka menyambangiku. Ketika puluhan bahkan ratusan pisau tajam seakan menusukiku dan aku malah membiarkan itu. Sesaat setelah dia selesai membeli, dia pun kembali ke tempat dimana mereka bertemu setiap hari. Dia, lelakiku pergi tanpa satu patah katapun yang tertuju padaku. Aku masih sangat mengingat benar. Dia pergi, menjalankan sepedanya dan kemudian kembali bercengkramah dengan wanitanya. Lalu aku? Yaah sama seperti yang sudah aku lakukan sejak tadi, hanya mengamati memperhatikan tampak berusaha menunjukkan perihnya hati.

Saat itu pula, saat aku sudah tidak bisa lagi membendung segala kekecewaan ku putuskan untuk pulang saja. Bukan ke rumah, namun lebih tepatnya pergi dari mereka sejauh jauhnya. Entah kemana. Aku memutuskan untuk pergi. Karena hati memang sudah tidak sanggup lagi. Rasa kecewa sudah meracuni semua diri, hingga ke tulang tulang bahkan otot nadi.

Hmm, kalau sudah begini sudah kecewa seperti ini lantas siapa yang akan aku salahkan? Lelakiku (dibaca; pecundang) ? Wanita itu (dibaca; seperti bukan wanita karena dia sangat tega) ? Atau aku? Tentu saja aku tidak bisa menyalahkan lelakiku (dibaca; kelinci berdasi) atau wanita itu (dibaca; yang sudah tertipu dengan semua kebohongan rayuan lelakiku). Maka aku akan menyalahkan aku saja.. Yaah aku yang bersalah atas semua hal yang telah terjadi, bahkan nampak didepan mata.

Aku..


Dua Kosong



Sudah kepala dua, setidaknya tidak 'berkepala dua'.

Dua puluh, bukan angka yang istimewa bagi kebanyakan kalian semua. Dua puluh hanya angka yang terbentuk ketika dua dan kosong berjumpa. Tapi bagiku, dua puluh adalah angka keramat. Dimana sudah banyak pertanyaan tentang apa yang sudah kamu hasilkan? Apa yang telah kamu dapatkan? Sudahkah berguna bagi sesama? dan yang paling mengerikan adalah pertanyaan tentang Jodoh, Siapa pendampingmu sekarang? Kapan akan menikah? Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan terakhir. Karena memang aku masih sendiri hingga saat ini. Yah, lebih tepatnya masih ingin menyendiri. Hehehe.. Jangan tertawa, jangan meragukan ucapaku, jangan mengganggapku hanya alasan saja, karena itu memang nyatanya. Aku masih ingin sendiri untuk waktu yang lama.

Hari ini tepat dua puluh tahun tubuhku bersentuhan langsung dengan udara, tepat 240 bulan lalu aku bisa merasakan dekapan hangat ibu dan ayah secara langsung tanpa perantara. 2880 minggu sudah, aku menapakkan kakiku dibumi indah milikNya. Hari ini, sungguh aku berucap syukur kepada sang Maha Pencipta, masih mengijinkanku untuk bisa menghirup udara, melihat keindahan alam yang tiada tara serta masih bisa menikmati kasih sayang dari orang orang yang aku sayang. Syukur yang tiada hentinya.

Sudah banyak sekali yang aku jalani hingga saat ini, banyak cerita yang sudah terukir indah pun duka. Banyak tawa nan tangis yang mendera. Sudah sangat banyak, sudah. Dua puluh tahun ini juga telah mengajarkanku apa itu hidup. Bagaimana untuk tetap kuat meski sudah sekarat. Bagaimana tetap bertahan walau sudah kelelahan. Dan Bagaimana tetap berjuang walau kadang terasingkan. Aku belajar banyak, iyah sangat banyak sekali.

Ditahun kedua puluh ini, aku lebih membuang ego. Memikirkan hak orang lain daripada hak sendiri. Lebih memikirkan tentang kewajiban kewajiban yang harus aku lakukan bukan malah menuntut hak yang seharusnya aku dapatkan. Yaah, itu memang sudah seharusanya bukan, seharusnya tidak perlu menunggu dua puluh datang baru kamu akan melakukannya bukan? Tapi inilah proses menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lagi.

Dua puluh, tak banyak doa yang aku pinta. Hanya cukup bisa membanggakan membahagiakan ibu dan ayah, sukses dalam dunia dan akhirat serta menjadi pribadi yang bisa lebih berguna untuk sesama. Amin, semoga disegerakan setiap doa :) . Untuk masalah jodoh, ah aku tidak terlalu memikirkannya. Nanti juga pasti ada, kalo sudah waktunya. Hehehe

Tak lupa aku sampaikan terimakasih untuk bidadari tak bersayapku, untuk malaikat bumiku. Ayah, Ibu. Terimakasih untuk setiap doa yang kalian panjatkan, untuk setiap cucuran keringat yang kalian korbankan, untuk waktu, tenaga bahkan jiwa yang sudah kalian persembahkan untuk putri kecilmu ini. Sekuat apapun aku berusaha membalas jasa kalian, sungguh itu tak akan mampu mengganti setiap apa yang sudah kalian berikan. Terimakasih tak terhingga, dariku bungsu manjamu.

Juga terimakasih untuk para sahabat sahabat dibumi, yang masih setia tetap ada disisi. Yang mau menemani saat dibawah pun diatas. Yang sudah rela meminjamkan bahunya saat duka melanda, yang tetap menggandeng erat saat bahagia tercipta. Terimakasih masih mau bersaudara. Maafkan, jika selama ini banyak khilaf yang ku lakukan. Satu pintaku, tetaplah bersama meski apapun adanya.


06 Februari 1996 - 06 Februari 2016


Dua puluhku, Risky Devitasari.

'Aku baik baik saja', sebuah kebohongan kecil



aku tidak baik baik saja

"Aku akan baik-baik saja", terucap tegas dari mulutku. Meyakinkan bahwa setiap kata akan menjadi nyata. Tapi pada realita, setiap aku berusaha membaikkan diriku mengganggap semuanya baik baik saja yang ada malah terjatuh semakin dalam pula. Seperti saat waktu itu, seperti biasa aku membuka mata dengan kata alhamdulillah karena masih diberi kesempatan untuk bisa terbangun pada pagi ini, seraya berucap bismillah sebagai awalku mengawali hari ini hingga kembali terpejam malam nanti. Aku menyegerakan mengguyur tubuhku dengan percikan dinginnya air disubuh ini. Dilanjutkan dengan membasuh bagian-bagian tubuh sebagai wudhu. Setelahnya, mengerjakan kewajibanku sebagai hambaNya. Tak lupa aku bercerita pada Tuhanku, tentang kita.. aku dan kamu. Berkeluh kesah, mengungkapkan isi hati berserta keinginannya. Hingga tidak terasa air mata jatuh membuat pipi basah.

.......

Peri Cintaku, hanya sebuah lagu.



"Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai.."Seperti kutipan lirik dalam salah satu lagu kesukaanku, yang selalu aku putar berulang ulang tanpa jeda. Yaah, kita memang terpisahkan oleh sebuah benteng yang kokoh berdiri dan sangat tinggi. Hingga tak seorangpun dari kita, aku ataupun kamu bisa menggapainya. 

aku untuk kamu, kamu untuk akunamun semua apa mungkin iman kita yang berbedaTuhan memang satu, kita yang tak samaHaruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
.......

Aliran tanpa muara


Gambar Sungai Kecil


Arus sungai yang membawaku serasa berjalan lambat, berlaku tenang namun terkadang bisa menenggelamkan hingga ke paling dasar sekalipun. Yaah, ku ikuti saja aliran tanpa sedikitpun melawan. Sesekali waktu arusnya menjadi cepat, hingga membuatku terombang ambing

.......

Masihkah kau mendustakan


"Maka, nikmat Tuhan-Mu manakah yang kamu dustakan?"


Aku tidak pernah tau, tidak tau. Mengapa Allah masih saja menyayangiku? Mengapa Allah selalu mengabulkan akan segala doa doa yang aku panjatkan? Bukankah, aku sudah terlalu membangkang. Menjalankan larangannya pun menjauhi perintah-perintahnya. Aku masih saja tidak habis pikir. Mungkin inikah pembuktian kata kata bahwa Allah selalu menyayangi dan mengampuni atas dosa hambaNya? Hmm, memang begitu adanya.

Aku akui sudah terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan terhadapNya, untuk melangkah dijalanNya pun masih sulit aku lakukan. Melakukan kesalahan yang kadang bahkan aku lakukan untuk kedua kalinya, tiga kalinya bahkan berkali kalinya. Tetapi Allah masih saja memberi ampunan terhadapku, mengabulkan setiap permohonan permohonan yang aku haturkan dalam jumlah banyak sekalipun. Mungkin sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dari permintaan permintaan kecil, permintaan yang selalu aku ulang, permintaan bodoh, permintaan yang besar sekalipun.

Allah tidak henti hentinya memberi aku kesempatan, mengabulkan atas doaku. Kesempatan yang terkadang aku biarkan pergi begitu saja. Kesempatan yang sering aku lewatkan, kesempatan yang tidak semua orang diberikan. Allah selalu menyayangiku. 

Tuesday, 23 February 2016

#7 Revolusi

       

Lari dan jadilah lebih baik lagi


        Sekarang, entah mengapa rasanya aku menjadi lebih kuat dari hari biasanya. Dimulai dari beberapa hari ini aku selalu tersenyum setiap bangun pagi. Lalu, tak tau darimana datangnya semangat yang tiba tiba  saja menyembul dalam jiwa. Mulai menyukai sarapan lagi, pergi ke kampus dengan segera dan yang lebih bersyukurnya sekarang aku mulai bisa masuk ke dalam teman temanku lagi. Bercengkramah, bercanda, tertawa penuh hingga perut terasa ngilu. Aku bersyukur pada setiap perubahan yang terjadi padaku. Membuat tak ragu untuk melangkah ke depan meninggalkan kenangan masa lalu yang disana tentu ada kamu. Meski aku tak bermaksud menguburmu dalam kenangan masa lalu tapi semoga ini yang terbaik untuk kita, aku dan kamu.

          Para sahabat juga tidak percaya, mereka bertanya tanya tentang perubahan yang terjadi padaku. Namun beruntungnya aku, mereka tidak terlalu mempermasalahkan revolusiku ini. Aku mulai banyak menghabiskan waktu bersama mereka, dari kekantin yang selalu beramai ramai membeli semangkuk mie ayam ato roti agar perut terisi, menghabiskan waktu diperpustakaan untuk melengkapi tugas berbarengan, hingga pernah suatu waktu kita sempat tidak mengikuti satu mata kuliah karena waktu diperpustakaan kita kami ketiduran. Sungguh, itu adalah kali pertamaku melewatkan pengajaran. 

           Sampai dirumah, aku juga tidak seperti dulu yang mengurung diri dikamar selalu dan menghabiskan waktu dengan menangis tersedu karena memikirkanmu. Aku mulai menghabiskan waktu, membunuh rindu dengan melanjutkan hobi yang sempat terhenti dulu, membaca novel baru yang kubeli kemarin hari ditoko buku dekat kampus. Mulai menggambar lagi, membuat sketsa 'tipis tipis' lalu mulai menulis cerpen atau sepenggal puisi. Yaah, dengan itu aku membunuh perasaan peluhku. Menghabisi setiap rinduku padamu. Bahkan membuatku lupa akan sosokmu, meski hanya sekejap saja.

            Bahagia.. Aku bahagia.
            Dan aku berharap akan terus seperti ini, bahkan lebih baik lagi. Semoga. . .